Energi Juang News, Jakarta– Kabut pagi menyelimuti gerbang Alas Purwo, hutan purba yang menyimpan banyak rahasia di ujung timur Pulau Jawa. Bagi sebagian orang, Alas Purwo hanya sekadar taman nasional, tempat wisata, atau objek riset alam. Namun bagi mereka yang tinggal di sekitar kawasan itu, Alas Purwo adalah tanah keramat—wilayah spiritual yang dijaga oleh entitas-entitas gaib. Salah satu sosok paling misterius yang dipercaya menghuni tempat ini adalah Gayatri, yang sering kali digambarkan sebagai wanita cantik berpakaian adat Jawa dengan sorot mata dalam dan wajah bersinar pucat seperti terkena cahaya rembulan. Ia dipercaya sebagai penjaga keseimbangan antara dunia manusia dan alam gaib.
Keberadaan sosok Gayatri di Alas Purwo bukan sekadar dongeng nenek moyang. Sejumlah cerita dari para petugas Taman Nasional Alas Purwo membenarkan bahwa ada kejadian-kejadian janggal yang hanya bisa dijelaskan secara spiritual. Seorang petugas yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Pernah ada wisatawan yang datang sendirian ke Air Terjun Pancur. Ia bilang ditemani oleh wanita berkerudung kain batik kuno yang menuntunnya masuk ke dalam hutan lebih dalam. Tapi anehnya, kami semua tahu tak ada satu pun petugas atau pengunjung lain hari itu.” Pengunjung itu kemudian ditemukan malam harinya dalam kondisi linglung, duduk di akar pohon besar, tak bisa mengingat apapun kecuali nama “Gayatri.”
Sosok Gayatri diyakini berasal dari tokoh sejarah nyata bernama Gayatri Sri Rajapatni, seorang putri dari Kerajaan Majapahit. Ia dikenal sebagai tokoh spiritual yang memilih menjadi biksu Budhis ketimbang naik takhta. Namun setelah kematiannya, masyarakat percaya arwahnya memilih menetap di Alas Purwo, menjaga tatanan moral dan spiritual manusia. Namun keyakinan yang berkembang juga menyebut, jika manusia yang datang ke wilayah ini melanggar norma, seperti berkata kasar, merusak alam, atau berniat buruk, Gayatri akan berubah wujud menjadi sosok yang mengerikan. “Kalau orang-orang niatnya buruk, katanya dia muncul dalam wujud wanita tua bermata merah dengan suara berbisik seperti angin,” ujar Pak Sardi, seorang juru kunci lokal.
Pak Sardi pernah menceritakan kisah tentang seorang pemuda yang mencoba berkemah tanpa izin dan membawa minuman keras ke dalam hutan. Malam itu, si pemuda mendengar suara gamelan mengalun pelan di kejauhan, diikuti aroma bunga melati yang pekat. Ia melihat seorang wanita menari perlahan di balik pepohonan. Namun semakin didekati, wajah wanita itu berubah menjadi rusak, seperti daging membusuk namun tetap tersenyum. “Anak itu pulang dalam keadaan trauma berat. Katanya suara wanita itu masih mengikutinya berminggu-minggu,” jelas Pak Sardi.
Meski menakutkan, banyak yang percaya bahwa Gayatri sebenarnya tidak berniat jahat kepada manusia. Ia hanya akan menyesatkan mereka yang melanggar nilai-nilai luhur. Sosoknya kerap muncul kepada orang-orang yang ‘dipilih’, yang dianggap bersih hati dan terbuka secara spiritual. Mereka biasanya tidak mengalami hal buruk, malah merasa tenang dan mendapat semacam petunjuk atau penglihatan. “Saya sendiri pernah merasa seperti ada yang mengawasi saat berdoa di Pancur. Tapi entah kenapa saya malah merasa damai,” kata Bu Yani, seorang warga yang sering berziarah ke tempat itu.
Gayatri sering dihubungkan dengan keberadaan peninggalan sejarah kuno yang tersembunyi di dalam Alas Purwo. Banyak yang percaya bahwa ia menjaga gerbang ke dimensi lain, sebuah wilayah spiritual yang tidak bisa diakses oleh sembarang orang. Konon katanya, orang-orang dengan niat tulus bisa ‘ditemui’ Gayatri dan ditunjukkan jalan menuju pengetahuan gaib atau kesejatian spiritual. Namun yang datang dengan niat buruk akan tersesat tanpa arah, seolah waktu dan ruang tak lagi berlaku dalam hutan itu.
Penampakan Gayatri biasanya terjadi saat senja atau dini hari. Suasana hutan akan tiba-tiba berubah: angin berhenti, suara serangga menghilang, dan udara menjadi sangat dingin. Kadang terdengar suara langkah kaki di antara dedaunan meski tak ada yang terlihat. Sosok Gayatri, jika muncul, selalu dengan tatapan tajam namun teduh. Matanya seperti tahu siapa Anda sebenarnya. Sebagian orang menyebutnya sebagai ratu halus, sebagian lagi menyebutnya sebagai ujian spiritual bagi yang datang ke hutan dengan niat mencari kesaktian.
Masyarakat sekitar Alas Purwo sangat menghormati keberadaan Gayatri. Setiap malam Jumat Kliwon, beberapa orang masih rutin menaruh sesaji berupa bunga tujuh rupa, dupa, dan air suci di sekitar Air Terjun Pancur. Tradisi ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada sang penjaga gaib. “Kami tidak menyembah, hanya menghormati. Karena Gayatri bukan makhluk biasa. Beliau adalah jembatan antara dunia manusia dan alam lain,” kata Ki Surya, seorang sesepuh desa yang berjarak lima kilometer dari batas Alas Purwo.
Cerita tentang Gayatri menjadi bagian dari hidup masyarakat dan peringatan bagi siapa saja yang datang ke Alas Purwo: jangan pernah angkuh di hadapan alam, jangan merusak keseimbangan, dan selalu jaga niat dalam hati. Karena siapa tahu, Gayatri sedang mengamati dari balik semak, siap menuntun… atau menyesatkan Anda. Ia bukan hanya legenda, tetapi simbol bahwa alam memiliki penjaganya sendiri—dan manusia tidak pernah benar-benar sendirian di dalam hutan purba itu.
Redaksi Energi Juang News



