Energi Juang News, Purwakarta- Malam itu sunyi. Jalan desa hanya diterangi lampu-lampu kecil yang menggantung di depan rumah warga. Angin dingin dari arah sawah membuat suasana terasa semakin sepi.
Di rumah kontrakannya yang sederhana, Galih terbangun karena perutnya keroncongan.
Jam dinding menunjukkan pukul 12 lewat 40 menit.
“Ah… lapar banget,” gumamnya sambil mengusap wajah.
Biasanya warung di desa sudah tutup sejak jam sembilan malam. Namun karena rasa lapar yang tidak tertahankan, Galih tetap memutuskan keluar dengan motor.
Ia berputar-putar menyusuri jalan desa.
Beberapa menit berlalu.
Hampir saja ia menyerah ketika tiba-tiba melihat sebuah warung kecil dengan lampu remang-remang di pinggir jalan dekat batas desa.
“Asyik… masih ada yang buka,” katanya lega.
Saat masuk ke dalam warung, Galih melihat lima orang lain sedang makan dengan lahap.
Seorang ibu tua berdiri di belakang etalase makanan.
“Mas, mau makan apa?” tanya ibu itu dengan suara pelan.
Galih melihat menu sederhana di meja.
“Mi telur saja, Bu.”
Tak lama, sepiring mi telur panas disajikan.
Karena sangat lapar, Galih makan dengan cepat.
Bahkan setelah piring pertama habis, ia memesan lagi.
“Tambah satu lagi, Bu.”
Lalu satu lagi.
“Wah, Mas lapar sekali ya,” kata salah satu pengunjung sambil tertawa kecil.
“Iya, dari tadi muter desa nggak nemu warung,” jawab Galih.
Obrolan mereka kemudian mengalir santai.
Topik yang awalnya ringan tiba-tiba berubah menjadi pembicaraan aneh.
Salah satu pria di ujung meja berkata pelan.
“Kamu beruntung bisa menemukan warung ini.”
Galih mengangkat alis.
“Kenapa memangnya?”
Pria itu hanya tersenyum.
“Tidak semua orang bisa melihatnya.”
Beberapa pengunjung lain tertawa kecil.
Galih mengira mereka hanya bercanda.
Setelah selesai makan, Galih pamit pulang.
Namun kejadian aneh terjadi beberapa malam kemudian.
Ia keluar lagi mencari makanan.
Sudah tiga jam berkeliling hingga ke alun-alun kota, tetapi tidak menemukan sate atau martabak yang diinginkan.
Dengan lemas ia memutuskan pulang.
Namun di tengah jalan, tiba-tiba sesuatu melompat dari semak.
Seekor kera besar berbulu hitam berdiri di tengah jalan.
“Apaan itu?!” seru Galih.
Belum sempat berpikir panjang, kera itu langsung mengejarnya.
Galih memacu motornya hingga 110 km/jam.
Namun dari kaca spion ia melihat lebih banyak bayangan kera muncul dari hutan.
“Gila… ini kera dari mana?!”
Karena panik, ia hampir saja masuk ke jalan menuju hutan.
“Tunggu… ini bukan jalan utama!”
Dengan nekat ia memutar motor dan menerobos kembali ke arah desa.
Anehnya, setelah beberapa ratus meter, semua kera itu menghilang begitu saja.
Keesokan harinya Galih menceritakan kejadian itu kepada temannya.
Temannya langsung menghela napas.
“Kalau benar kera besar itu… kemungkinan itu hantu methek.”
Galih terdiam.
“Hantu apa?”
“Hantu yang mirip kera. Biasanya cuma jahil, bukan ingin mencelakai.”
Galih tertawa gugup.
“Serius?”
Temannya mengangguk.
“Serius. Apalagi kalau kamu lewat daerah batas desa malam-malam.”
Sejak saat itu, Galih mulai merasa ada sesuatu yang aneh di desa tersebut.
Beberapa minggu kemudian, Galih kembali bosan makan di rumah.
Ia memutuskan mencari warung lain.
Namun ketika bertanya pada warga, jawabannya membuatnya bingung.
“Warung makan di desa ini cuma satu,” kata seorang bapak.
“Warung Bu Ranti di dekat masjid.”
Galih mengernyit.
“Lho… yang di dekat batas desa?”
Bapak itu menggeleng.
“Tidak ada warung di sana.”
Galih merinding.
Suatu subuh, ketika Galih masih tertidur, pintu kamarnya diketuk keras.
Tok tok tok.
“Galih! Bangun!”
Ia membuka pintu dengan mata setengah tertutup.
Ternyata yang berdiri di depan adalah Pak Kyai desa.
“Cepat wudhu dan berdoa,” kata Pak Kyai tegas.
Galih bingung.
“Memangnya kenapa, Pak?”
Pak Kyai hanya menatapnya dalam.
“Nanti kamu akan tahu.”
Karena lelah, Galih kembali tidur.
Namun dalam tidurnya ia bermimpi sesuatu yang membuat tubuhnya gemetar.
Ia melihat warung yang pernah ia datangi.
Namun kali ini semua pengunjungnya bukan manusia.
Ada makhluk bertangan panjang menyentuh tanah.
Ada sosok berwajah manusia dengan taring melengkung sepanjang 30 cm.
Dan di sudut warung, beberapa kera hitam besar sedang makan dengan rakus.
Pagi itu Pak Kyai mengajak Galih menuju lokasi warung.
“Kalau kamu tidak percaya, lihat sendiri,” kata Pak Kyai.
Sesampainya di sana, Galih terkejut.
Warung yang dulu ia datangi tidak ada.
Hanya tanah kosong dan pohon besar.
Namun ketika Pak Kyai membaca doa-doa tertentu, sesuatu yang membuat darah Galih membeku terjadi.
Bayangan warung perlahan muncul.
Dan di dalamnya tampak makhluk-makhluk yang ia lihat dalam mimpi.
Galih mundur dengan tubuh gemetar.
“Itu… itu mereka…”
Pak Kyai berkata pelan.
“Itulah yang kamu lihat malam itu.”
Beberapa hari kemudian Pak Kyai mengajak Galih menyelidiki sesuatu.
Mereka mengikuti sebuah mobil mewah keluar dari rumah besar di pinggir kota.
Mobil itu berhenti di sebuah tempat terpencil.
Di sana terdapat banyak sangkar burung gagak.
Galih terkejut.
“Apa ini?”
Pak Kyai berkata pelan.
“Itu sumber daging warung itu.”
Dari kejauhan mereka melihat beberapa orang menyembelih gagak-gagak tersebut.
Lebih mengerikan lagi, kepala burung yang telah dipotong dikumpulkan.
Darahnya dituangkan ke tanah lalu dikubur di bawah pohon besar.
“Itu bagian dari ritual pesugihan,” bisik Pak Kyai.
Galih merinding.
“Jadi… ayam yang saya makan…”
Pak Kyai menatapnya serius.
“Itu bukan ayam.”
Sejak kejadian itu, Galih tidak pernah lagi keluar mencari makanan tengah malam.
Namun warga desa masih sering mendengar cerita aneh.
Beberapa orang mengaku melihat lampu warung remang-remang di batas desa saat malam tertentu.
Namun ketika didekati—
Warung itu selalu menghilang.
Seorang warga pernah berkata dengan suara pelan di warung kopi.
“Kalau kalian lapar tengah malam… jangan sembarang mampir warung.”
“Kenapa?”
Ia menatap ke arah jalan gelap di ujung desa.
“Karena tidak semua yang makan di sana… adalah manusia.”
Redaksi Energi Juang News



