Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBanaspati, Bola Api Penghisap Nyawa yang Menggentayangi Malam

Banaspati, Bola Api Penghisap Nyawa yang Menggentayangi Malam

Energi Juang News, Jakarta– Banaspati bukanlah hantu biasa. Ia tak punya bentuk manusia, tak punya wajah menyeramkan seperti pocong atau kuntilanak. Ia adalah bola api panas menyala, melayang dengan kecepatan tak terduga, memburu siapa pun yang melintasi jalur terlarangnya. Tak hanya sekadar menakut-nakuti, Banaspati diyakini bisa membakar tubuh manusia hidup-hidup atau lebih parah, bahkan menghisap darah korbannya hingga kering seperti daun layu. Warga menyebutnya “penghisap nyawa”.

Seperti yang dikisahkan Mbah Sastro yang sudah sekian lama mendiami rumah terakhir sebelum masuk kawasan Alas Ketonggo daerah Paron Kab. Ngawi. Dimana seperti malam-malam lainnya sebuah desa Babadan. Namun, ada hawa yang berbeda ketika angin mulai berhembus dingin dari arah hutan. Warga desa itu, tahu betul bahwa saat-saat seperti ini bukan waktu yang baik untuk berada di luar rumah. Bahkan suara jangkrik pun mendadak hilang, seperti enggan bersuara menyambut bahaya yang datang. “Kalau sudah sunyi begini, biasanya Banaspati mulai gentayangan,” bisik Mbah Sastro, sesepuh desa.

Konon, Banaspati merupakan hasil kutukan dari manusia yang mempelajari ilmu hitam tingkat tinggi. Saat mereka meninggal, rohnya tak kembali ke alam baka, melainkan menjadi energi jahat yang menyatu dengan elemen api. “Dulu ada orang pinter yang kabarnya belajar ilmu kebal, tapi malah berubah jadi makhluk itu,” ungkap Pak Warto, warga yang rumahnya dekat dengan batas hutan. Cerita itu bukan dongeng bagi mereka namun itu menjadi peringatan nyata bagi siapa yang pernah melihat.

Beberapa bulan lalu ada kelompok pemuda desa pernah mencoba membuktikan kebenaran legenda itu. Suatu malam, mereka membawa kamera dan peralatan rekaman ke hutan larangan. Saat mereka lakukan perekaman area Alas Ketonggo mulai menyaksikan fenomena ghaib yang luar biasa. Apa yang mereka temukan bukan sekadar suara atau bayangan samar. Sebuah bola api yang melayang layang disertai angin bergemuruh luar biasa. Hingga salah satu dari mereka, Raka, berteriak kesakitan dengan tubuh terbakar di bagian punggung, seperti disambar kilat kecil. Membuat mereka berpikir ulang melanjutkan ekspedisi itu. Menurut pengakuan Raka, “Ada cahaya… terbang… mengejarku… panas sekali,” bisiknya pada malam itu. Upaya penyelamatan dilakukan oleh teman temannya. Setelah dibopong keluar hutan mereka bertemu rumah Mbah Sastro.

Baca juga :  Histeria Begu Ganjang Muara, Satu Keluarga Dibakar Hidup-Hidup

Mbah Sastro bergegas mengajak mereka masuk kerumahnya sambil mengawasi barangkali Banaswati masih menuntut kematian pemuda itu. Setelah didalam para pemuda itu dinasehati Mbah Sastro bahwa, satu-satunya cara selamat dari teror Banaspati adalah dengan menceburkan diri ke air. Sungai, telaga, bahkan kolam lumpur pun bisa jadi penyelamat. Air diyakini sebagai elemen yang bertentangan dengan energi jahat Banaspati. “Kalau kamu dikejar Banaspati, jangan lari ke jalan, cari air!” tutur Mbah Sastro.

Tanda-tanda kemunculan Banaspati sering kali diawali dengan bau gosong yang tidak jelas sumbernya. Kadang terdengar suara mendesis seperti bara menyentuh air. Jika bola api itu benar-benar muncul, warnanya merah menyala dengan inti kuning, bergerak cepat dan berputar seperti ingin mencari korban. “Saya lihat sendiri bola api itu waktu masih kecil, terbang dari arah makam lama ke pohon asem di tepi sawah,” cerita tetangga Pak Sastro lainnya, yang masih menyimpan kain terbakar bekas peristiwa itu.

Tak sedikit warga yang memilih menjauh dari Alas Ketonggo, terutama saat malam Jum’at Kliwon. Hari itu dipercaya sebagai waktu Banaspati paling aktif. Para orang tua melarang anak-anak bermain di luar setelah maghrib. Bahkan beberapa rumah masih menggantungkan jimat daun kelor dan pecahan kaca di pintu belakang. “Itu buat ngusir energi panasnya, supaya nggak masuk rumah,” ujar Pak Darto, dukun kampung yang sering diminta tolong jika ada yang kesurupan.

Walaupun terdengar seperti cerita rakyat yang dibesar-besarkan, banyak pendatang yang mengaku pernah ada sopir truk yang kabur meninggalkan kendaraannya karena melihat cahaya terbang mendekat dari arah atas pohon. “Saya kira itu petir, tapi nggak ada suara, dan terus ngikutin sampai saya lompat ke selokan,” katanya kepada warga sambil gemetar.

Baca juga :  Nusa Barung, Kisah Misteri Dukun Menghilang Tak Berjejak

Kisah tentang Banaspati terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan sebagai alat menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk kewaspadaan akan sisi gelap ilmu yang disalahgunakan. Ilmu hitam tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga bisa menjebak penggunanya menjadi makhluk abadi yang tersiksa, haus darah dan panas sepanjang waktu. “Banaspati itu bukan cuma legenda. Itu peringatan… bahwa tidak semua ilmu layak dipelajari,” tutup Mbah Sastro lirih.

Jadi, jika suatu malam pembaca mencium bau terbakar tanpa sebab, atau melihat cahaya merah melayang dengan kecepatan tak wajar di tengah hutan, jangan pernah mencoba mendekat. Kita mungkin akan menjadi korban berikutnya dari Banaspati, bola api penghisap nyawa yang terus mencari tubuh hangat untuk dikeringkan. Ingatlah pesan para tetua seperti Mbah Sastro di balik gelapnya malam itu, ada api dendam yang tak pernah padam.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments