Senin, Maret 16, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKuburan Angker di Ring Road: Jeritan yang Membelokkan Jalan

Kuburan Angker di Ring Road: Jeritan yang Membelokkan Jalan

EnergiJuangNews,Yogyakarta- Waktu itu masih tahun 1990-an, ketika malam terasa lebih sunyi daripada sekarang dan lampu jalan belum seramai hari ini. Jam menunjukkan pukul sebelas karyawan pabrik sepatu di Yoyakarta. Kakak beradik Puji(22) kakak dan Wanti (21)adik kandungnya, profesi mereka karyawan swasta pabrik sepatu. Waktu Puji datang menjemput adiknya dengan sepeda motor dari rumah tantenya, suhu udara dingin menempel di kulit, membawa perasaan tidak nyaman yang sulit mereka jelaskan. Sebelum mereka berangkat, tantenya memandang lama ke arah mereka lalu berpesan dengan suara pelan, “Jangan lupa Alfatihah sama Ayat Kursi, ya. Biar selamat ya.” Wanti mengangguk, mencoba tersenyum, meski di dada ada rasa mengganjal yang membuat napas terasa lebih pendek.

Mereka pamit lalu melaju perlahan, berusaha mencairkan suasana dengan obrolan ringan agar rasa takut tidak menguasai pikiran. Jalanan kompleks tampak sepi, rumah-rumah tertutup rapat seolah ikut tertidur bersama malam. Wanti mencoba menepis firasat aneh itu, meyakinkan diri bahwa ini hanya lelah dan dingin. Namun entah sejak kapan, suara motor mereka seperti teredam, dan angin yang menerpa wajah mereka terasa lebih berat, seakan membawa sesuatu yang tidak kasatmata.

Tanpa sadar, pemandangan di sekitar berubah. Lampu jalan menghilang satu per satu, digantikan kegelapan yang pekat. Wanti menoleh ke kanan dan kiri, lalu jantungnya berdegup lebih cepat ketika melihat gundukan tanah berjejer rapi. Di atasnya ada balok-balok semen dan kayu, beberapa tampak retak dimakan usia. Bau tanah basah bercampur aroma kemenyan yang samar membuat tenggorokan terasa kering. “Astaghfirullah…” bisiknya, lalu menepuk pundak Puji kakaknya sambil berbisik gemetar, “Mas… ini salah jalan. Kita masuk kuburan. Muter balik, Mas.”

Puji terkejut seperti baru tersadar dari mimpi. Ia mengerem mendadak dan menoleh dengan wajah pucat. “Hah? Kuburan?” katanya, suaranya parau. Mereka sama-sama heran dan ngeri. Jalur dari rumah tante seharusnya lurus menuju jalan besar, tanpa belokan yang aneh. Namun kenyataan di depan mata mereka membantah logika. Saat itulah, dari kejauhan terdengar suara perempuan menjerit, melengking dan panjang, seolah keluar dari perut bumi. Bulu kuduk Wanti berdiri, dan tangannya refleks menggenggam jaket kakaknya.

Panik membuat mereka tak bisa berpikir jernih. Puji memutar setang motor, mencoba mencari jalan keluar, sementara Wanti membaca doa keras-keras tanpa jeda. “Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum…” suaranya bergetar, bercampur isak yang tertahan. Anehnya, setiap kali mereka merasa sudah keluar, jalan itu kembali membawa mereka ke tempat yang sama. Gundukan tanah itu lagi, nisan-nisan kusam itu lagi. Seingat Wanti, mereka diputar hingga tiga kali, dan suara jeritan tadi perlahan berubah menjadi tawa cekikikan yang kemudian menjelma tangisan pilu.

Ketakutan itu bukan sekadar takut gelap, melainkan rasa terancam yang menusuk naluri paling dasar. Kaki Wanti gemetar, dan dada terasa sesak seperti ditekan tangan tak terlihat. Di sela doa, ia mendengar Puji berbisik, “Ya Allah… kita diapain ini?” Wanti tak menjawab, hanya terus merapal ayat demi ayat. Dalam hati ia yakin, sesuatu sedang mempermainkan mereka, menikmati kepanikan yang mereka rasakan.

Akhirnya, setelah entah berapa lama, cahaya kuning lampu jalan muncul di kejauhan seperti harapan terakhir. Begitu melihatnya, Puji langsung tancap gas tanpa menoleh ke belakang. Angin malam kembali terasa biasa, dan suara motor terdengar normal. Wanti masih terus berdoa sepanjang jalan, takut jika suara tanpa sosok itu masih mengikuti mereka sampai rumah. Baru setelah pintu rumah tertutup rapat, mereka berani saling memandang dan menghela napas lega.

Beberapa hari kemudian, Wanti menceritakan kejadian itu kepada tantenya. Wajahnya langsung berubah serius. “Kalian masuk ke kuburan dekat ring road itu, ya?” tanyanya. Saat Wanti mengangguk, tante menarik napas panjang. “Dari dulu tempat itu memang terkenal. Banyak yang kecelakaan karena lihat penampakan nyebrang jalan ke arah kuburan. Warga sini sudah sering dengar jeritan malam.” Bu Dartik seorang tetangga yang ikut mendengar cerita mereka menimpali, “Saya pernah lihat perempuan rambut panjang berdiri di situ. Hilang pas dideketin.”

Cerita itu membuat Wanti sadar bahwa pengalaman mereka bukan satu-satunya. Banyak warga menyimpan kisah serupa, namun jarang berani membicarakannya terang-terangan. Mereka hanya saling mengingatkan agar berhati-hati saat melintas, terutama malam hari. Ketika membahas kuburan angker ring road itu, suara mereka selalu diturunkan, seolah takut ada sesuatu yang ikut mendengarkan.

Rasa merinding yang muncul saat mengingat kejadian tersebut ternyata bukan hal aneh. Menurut ahli fisiologi George Bubenik dari University of Guelph, merinding adalah reaksi alami tubuh terhadap stres dan ketakutan. Otak melepaskan hormon adrenalin yang memicu kontraksi otot-otot halus di kulit, menyebabkan bulu berdiri. Meski pada manusia modern fungsinya tak lagi signifikan, reaksi ini adalah warisan naluri bertahan hidup. Dan malam itu, di tengah kuburan yang sunyi, naluri itu menyelamatkan kami dari teror yang sulit dijelaskan dengan logika.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments