Selasa, Juni 2, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaSantet Segoro Pitu: Teror Malapetaka, Penyakit, dan Kesulitan yang Mengerikan

Santet Segoro Pitu: Teror Malapetaka, Penyakit, dan Kesulitan yang Mengerikan

Energi Juang News, Jakarta– Di sebuah dusun terpencil di Desa Maguan, Kecamatan Brebek, Kabupaten Nganjuk, warga dikejutkan oleh penemuan jenazah Pak Warsito seorang lelaki paruh baya dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Tubuhnya melepuh seolah disiram air mendidih, namun tak ada satu pun bekas benda panas di sekitar lokasi. Warga yang menemukannya pun mendadak panik, dan malam itu kampung mendadak sunyi. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada hembusan angin bahkan seolah alam pun ikut membungkam. Warga meyakini, kejadian ini bukan sekadar kematian biasa. “Ini pasti Santet Segoro Pitu,” bisik Pak Gino, tetua kampung, sambil menatap tajam ke arah tubuh yang telah kaku itu.

Santet Segoro Pitu bukanlah santet biasa yang mudah ditangkal. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ilmu hitam ini konon mengambil kekuatannya dari tujuh lautan yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Setiap lautan memberikan kekuatan dan jenis malapetaka yang berbeda-beda, mulai dari penyakit, kesialan hidup, hingga kematian mengenaskan. Dukun yang mampu menguasai ilmu ini dipercaya memiliki perjanjian dengan makhluk dari kedalaman samudra gaib. Mereka tidak sekadar melempar mantra, tapi melakukan ritual berdarah dengan sesajen.

Salah satu warga bernama Bu Sarmi, yang rumahnya hanya berjarak dua gang dari Pak Warsito , mengaku telah mendengar suara aneh di malam hari sebelum kejadian. “Ada suara rintihan, tapi bukan rintihan umumnya manusia,” ungkapnya dengan wajah pucat karena takut. “Rintihnya berat… seperti dari dalam air.” Suara itu datang dari sumur tua yang konon tak pernah lagi dipakai sejak beberapa tahun lalu. Sumur itu kini jadi tempat yang dihindari warga, apalagi setelah insiden kematian mengenaskan tersebut.

Ritual pemanggilan Santet Segoro Pitu diyakini hanya bisa dilakukan pada malam Jumat Kliwon, ketika tabir antara dunia manusia dan gaib melemah. Di dalam ritual itu, dukun akan menanam boneka kecil dari kain kafan yang telah diberi mantra khusus, lalu dilarung ke sungai yang bermuara ke laut Baron. Mereka akan memanggil “penjaga tujuh samudra” yang kemudian membawa kutukan kepada orang yang dituju. “Aku pernah lihat sendiri,” kata Pak Lik Jarno, mantan nelayan yang kini memilih jadi petani. “Ada yang matanya buta mendadak, padahal paginya masih seger. Setelah dicek, katanya kena santet Segoro Pitu karena rebutan warisan.”

Baca juga :  Sereem!! Ketika Mbah Wo Lupa Menyumpal Telinga Reog

Tidak hanya satu atau dua kejadian. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga Desa Maguan yang mengaku mengalami mimpi buruk berulang kali, tubuh lemas tanpa sebab, dan nasib hidup yang terus memburuk. Anak-anak sering melihat sosok perempuan berambut basah berjalan di tepi sawah menjelang maghrib. Sosok itu kadang tertawa pelan, kadang menangis. “Ibuku pernah lihat langsung. Waktu itu ia bawa air dari sumur, sosok itu duduk di atas gentong,” cerita Rina, gadis belasan tahun yang sedang menyiapkan sesajen saat ditanya.

Dukun-dukun putih dari luar desa pernah diminta datang untuk menetralkan energi jahat di desa tersebut, namun tak satu pun berhasil menetralisir kutukan. Salah satu dukun bahkan jatuh sakit berat seminggu setelah mencoba menutup jalur gaib yang dipercaya menghubungkan Desa Maguan dengan salah satu dari tujuh lautan gaib. “Kita gak bisa main-main sama Segoro Pitu,” ujar Mbah Karyo, dukun sepuh dari daerah tetangga. “Kalau belum ada restu dari makhluknya, semua usaha hanya buang-buang tenaga.”

Malam-malam setelah kejadian itu, warga mulai memasang rajah dan pagar gaib di rumah mereka. Anak-anak dilarang keluar setelah maghrib, dan kegiatan ronda malam dilakukan lebih intensif. Namun, rasa takut tetap menyelimuti desa. Seekor ayam bisa berkokok di tengah malam, dan warga langsung menganggap itu sebagai pertanda buruk. Bahkan suara angin yang lewat di sela genting bisa membuat seluruh rumah terdiam dalam cemas. “Kami sudah tak hidup seperti biasa lagi,” kata Bu Yati, seorang janda tua. “Setiap malam seperti berada di tepi lautan yang marah.”

Kisah tentang Santet Segoro Pitu seolah telah menjadi bagian dari nafas desa. Mereka tak berani menyebut namanya terlalu sering, karena percaya bahwa menyebutnya bisa mengundang kutukannya datang. Bahkan anak-anak kecil sudah diajari doa-doa penangkal sejak usia dini. Warga menyebut santet ini sebagai “kutukan hidup”—karena seringkali korbannya tidak langsung mati, tetapi perlahan-lahan kehilangan segalanya: harta, keluarga, dan terakhir, kewarasan. “Saya melihatnya sendiri,” kata Pakde Badrun. “Adik ipar saya kehilangan anaknya satu-satu. Tak ada sebab medis. Hanya… sekarat begitu saja.”

Baca juga :  Hantu Thongthong Sot: Sosok Misterius Penjaga Moral di Tulungagung

Kini, setiap suara ombak yang terdengar dari kejauhan seolah membawa kabar buruk. Setiap kematian mendadak selalu dikaitkan dengan Segoro Pitu, dan setiap orang asing yang datang ke desa akan ditanyai secara diam-diam oleh warga: “Apakah dia dukun? Apakah dia pembawa kutukan?” Di tengah dunia modern, cerita ini tetap hidup dan bernafas bersama ketakutan kolektif warga. Karena bagi mereka, santet dari tujuh lautan itu bukan mitos. Ia adalah kenyataan kelam yang mengintai dari balik malam, menunggu mangsa berikutnya.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments