Kamis, Juli 16, 2026
spot_img
BerandaBerita NasionalWafat Saat Khutbah, Ini Profil Ustadz Yahya Waloni

Wafat Saat Khutbah, Ini Profil Ustadz Yahya Waloni

Energi Juang News, Jakarta- Wafatnya Ustadz Muhammad Yahya Waloni pada Jumat, 6 Juni 2025, di Masjid Darul Falah, Makassar, mengejutkan publik. Sosoknya  dikenal kontroversial, namun tak sedikit orang yang mengagumi perjalanan spiritual dan keberaniannya berubah dari pendeta menjadi pendakwah Islam.

Namun siapakah sebenarnya Yahya Waloni?

Yahya Waloni lahir dengan nama Yahya Yopie Waloni di Manado, Sulawesi Utara, pada 30 November 1970. Ia dibesarkan dalam keluarga berdarah Minahasa, yang dikenal taat menganut agama Kristen Protestan. Lingkungan tempat ia tumbuh didominasi nilai-nilai gerejawi, dan sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup dalam suasana kebaktian dan pelayanan jemaat.

Pendidikan formalnya ditempuh dalam bidang teologi, bahkan hingga tingkat magister. Ia mendalami perbandingan agama selama delapan tahun, termasuk mempelajari Islam dan Yudaisme secara akademik, dengan latar belakang sebagai pemuka agama yang pernah aktif di Badan Pengelola Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana.

Yahya bukanlah figur biasa dalam kalangan Kristen. Ia sempat menjabat sebagai Rektor Sekolah Tinggi Theologia Calvinis Ebenhaezer di Sorong dari tahun 1997 hingga 2004. Jabatan ini menempatkannya sebagai tokoh terkemuka dalam lingkungan gereja dan dunia pendidikan Kristen Injili di Indonesia Timur.

Setelah itu, ia sempat tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) hingga tahun 2006. Dari sanalah, perjalanan batinnya menuju Islam mulai bersemi.

Yang menarik, perpindahan agamanya tidak dipicu oleh pernikahan, tekanan sosial, atau insentif ekonomi. Ia mengaku mulai mempertanyakan ajaran Trinitas dan Ketuhanan Yesus secara pribadi, bukan karena hasutan orang luar.

“Saya tidak pernah bercita-cita masuk Islam. Tapi saya gelisah oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab,” ucapnya dalam suatu wawancara.

Baca juga :  Soal Posisi Letkol Teddy, Ini Kata Panglima TNI Dan KSAD

Ayat yang disebut menjadi pintu hatinya adalah QS. Al-Baqarah: 136, yang memuat ajaran tauhid dan penghormatan kepada semua nabi, termasuk Nabi Isa (Yesus) sebagai utusan, bukan Tuhan.

Yahya juga mengisahkan pertemuan gaib dengan seorang penjual ikan misterius yang datang tiga kali ke rumahnya, membawa pesan-pesan simbolik. Sosok ini diyakini bukan orang biasa, karena tak pernah tercium bau ikan dan menghilang begitu saja. Ia mengaku juga bermimpi melihat lautan, kapal, dan orang-orang bersarung—simbol yang ia tafsirkan sebagai panggilan untuk masuk Islam.
Akhirnya, pada 11 Oktober 2006 (18 Ramadan 1427 H), Yahya Waloni bersyahadat di Kota Tolitoli dengan bimbingan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, KH. Komaruddin Sofa.

Pasca menjadi Muslim, Yahya dikenal sebagai pendakwah yang lantang. Ceramah-ceramahnya viral di berbagai platform, namun juga memicu kontroversi, terutama ketika ia menyebut kitab Injil sebagai “fiktif”.

Akibat pernyataannya yang dianggap menyinggung agama lain, ia ditangkap pada 26 Agustus 2021 oleh aparat di rumahnya di Cibubur, Jakarta Timur. Ia dijerat pasal 45A jo Pasal 28 ayat (1) UU ITE serta Pasal 156a KUHP tentang ujaran kebencian berbasis SARA.

Meskipun demikian, ia tetap memiliki pengikut dan simpatisan yang mengagumi transformasi hidupnya dari pendeta menjadi ustadz.

Ustadz Yahya Waloni wafat secara mendadak saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Darul Falah, Kota Makassar, Jumat 6 Juni 2025. Saat itu, tema khutbahnya berkaitan dengan iman dan ketaatan Nabi Ibrahim, bertepatan dengan perayaan Idul Adha.

Menurut saksi mata Harfan Jaya Sakti (39), sekretaris masjid, Yahya sempat menyampaikan khutbah kedua, mengingatkan tentang tauhid, lalu tiba-tiba terduduk dan tak sadarkan diri. Jamaah yang berada di shaf depan langsung bereaksi, namun nyawa sang ustadz tak tertolong.

Baca juga :  RUU Minerba Disahkan Jadi Undang-Undang!

Jenazah sempat dilarikan ke Klinik Bahagia, sekitar 100 meter dari masjid, namun ia dinyatakan wafat pukul 12.35 Wita.

Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga, diketahui Yahya Waloni memiliki riwayat penyakit jantung sejak 2021, termasuk pembengkakan jantung yang pernah dirawat secara intensif.

Dokter menyebut bahwa serangan jantung bisa memicu kematian mendadak, apalagi jika tidak segera ditangani. Fakta bahwa ia wafat saat duduk di antara dua khutbah, menunjukkan gejala klasik henti jantung mendadak.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments