Energi Juang News, Jakarta – Malam Lailatul Qadar menjadi momen yang paling dinantikan umat Islam di bulan Ramadan. Keutamaannya luar biasa, karena ibadah yang dilakukan di malam ini setara dengan 1.000 bulan.
“Ibadah yang dilakukan di malam Lailatul Qadar itu pahalanya seperti beribadah selama 1.000 bulan,” ujar Ir. H. Nukman Bashori, putra dari KH. Bashori Alwi.
Meskipun waktu pastinya dirahasiakan oleh Allah, para ulama telah mencoba merumuskan perkiraan malam tersebut. Ada yang mengaitkannya dengan turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadan, sementara banyak ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar terjadi di malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan.
“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadan,” sabda Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Pendapat ulama pun beragam. Imam Syafi’i meyakini bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam ganjil, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Sementara itu, Imam Muslim menyebutkan bahwa beberapa sahabat bermimpi melihat Lailatul Qadar pada malam ke-27. Imam Ghazali bahkan merumuskan metode perhitungan berdasarkan hari pertama Ramadan.
Ciri-ciri malam Lailatul Qadar juga menjadi perhatian. Nukman Bashori menyebutkan bahwa tanda-tanda malam istimewa ini antara lain suasana malam yang tenang, angin yang sejuk, serta matahari yang terbit tanpa sinar yang menyengat.
“Kalau dalam satu tahun kita mendapatkan satu Lailatul Qadar saja, itu sudah seperti mendapatkan pahala 83 tahun ibadah,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa yang terpenting adalah konsistensi dalam beribadah sepanjang bulan Ramadan, bukan hanya mencari satu malam tertentu. Semangat dan keikhlasan dalam beribadah menjadi kunci utama dalam meraih keberkahan malam Lailatul Qadar.
“Yang terpenting adalah istikamah dalam ibadah. Jangan hanya mencari satu malam, tapi maksimalkan ibadah di sepanjang Ramadan,” tegasnya.
Redaksi Energi Juang News



