Energi Juang News, Depok– Malam itu udara di belakang kampus terasa lebih lembap dari biasanya, seolah embun turun lebih awal dan menempel di kulit. Jalan setapak yang jarang dilewati mahasiswa terlihat gelap, hanya diterangi cahaya lampu jauh yang berkedip seperti napas terakhir. Di balik rimbun semak belukar, sebuah bangunan menjulang diam, tak bersuara, namun seakan memperhatikan setiap langkah orang yang berani melintas. Tak ada yang menyangka bahwa tempat yang kini tampak biasa itu menyimpan bisikan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
“Kalau lewat sini jangan lama-lama,” bisik Pak Darto, tukang ojek yang mangkal dekat pagar belakang, kepada seorang mahasiswa yang hendak pulang malam. “Bukan apa-apa, Mas, kadang suka ada yang ikut naik.” Mahasiswa itu tertawa canggung. “Ah, Bapak bercanda.” Pak Darto hanya menggeleng pelan. “Kalau cuma bercanda, kenapa motor saya sering berat sendiri, padahal boncengan kosong?” katanya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh desau angin.
Bangunan itu dulunya bukan sekadar menara biasa. Warga sekitar menyebutkan bahwa sebelum kampus berdiri megah, area tersebut adalah hamparan tanah pemakaman umum. Ada lima TPU dengan ratusan makam yang dibebaskan demi pembangunan pendidikan. “Waktu pemindahan dulu, nggak semuanya terdata rapi,” ujar Bu Saminah, warga lama yang rumahnya tak jauh dari lokasi. “Banyak nisan tanpa nama, banyak juga yang katanya dipindah asal-asalan.” Ia menatap ke arah semak, matanya kosong, seolah melihat sesuatu yang orang lain tak bisa.
Ketika malam turun, suasana di sekitar menara berubah drastis. Udara menjadi lebih dingin, bahkan pada musim kemarau. Bau aneh sering tercium, aroma kentang mentah bercampur tanah basah yang menusuk hidung. “Itu tanda mereka lewat,” kata Pak Darto suatu malam pada sesama tukang ojek. “Kalau sudah bau begitu, jangan nengok ke belakang.” Namun larangan itu sering terlambat diikuti, karena rasa penasaran manusia kerap mengalahkan rasa takut.
Beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya pernah mengalami kejadian ganjil saat lembur tugas. “Kami dengar suara ketawa pelan, kayak anak kecil,” cerita Rina, mahasiswi semester akhir. “Awalnya kami kira ada orang iseng, tapi pas dicek, kosong.” Temannya menimpali dengan suara gemetar, “Terus dari arah menara, ada bayangan putih lompat-lompat, kayak kain digulung.” Mereka berlari tanpa menoleh, meninggalkan tas dan laptop yang baru diambil esok paginya.
Penampakan bukan satu-satunya gangguan. Sering kali pengendara motor merasa ada yang menumpang dari arah menara hingga gerbang depan. “Saya ngerasa ada tangan pegang pundak,” kata Pak Darto suatu malam dengan wajah pucat. “Pas sampai lampu merah, saya nengok spion, kosong. Tapi motor jadi dingin banget.” Beberapa tukang ojek lain mengangguk, mengaku pernah mengalami hal serupa, bahkan ada yang mendengar suara napas tepat di telinga.
Sosok-sosok yang menampakkan diri pun beragam. Ada yang melihat pocong berdiri di balik semak, kepalanya miring seolah patah. Ada pula yang bersumpah melihat bayangan besar berbulu hitam, gondoruwo, duduk di atas menara saat bulan tertutup awan. “Kalau kuntilanak, sering,” kata Bu Saminah sambil berbisik. “Suaranya ketawa panjang, terus hilang mendadak.” Setiap cerita dituturkan dengan wajah tegang, seakan trauma itu masih segar.
Menara yang kini berfungsi sebagai penguat sinyal itu dipercaya menyimpan aura berbeda setelah matahari terbenam. Siang hari terlihat biasa saja, tapi malam membuatnya tampak lebih gelap, seolah cahaya enggan mendekat. “Kayak ada tirai,” ujar seorang satpam kampus. “Senter disorot ke sana, tapi cahayanya kayak diserap.” Ia menolak berjaga sendirian di area tersebut, memilih berpatroli berdua atau bertiga.
Warga dan mahasiswa akhirnya sepakat membuat aturan tak tertulis: hindari area itu setelah pukul sepuluh malam. Namun tetap saja, selalu ada yang melanggar. Rasa penasaran, tuntutan tugas, atau sekadar pulang terlambat sering berujung pengalaman yang tak terlupakan. “Setiap angkatan pasti ada ceritanya,” ujar Rina. “Kayak warisan, tapi bukan yang ingin diwariskan.”
Hingga kini, kisah itu terus hidup, beredar dari mulut ke mulut, menambah daftar cerita seram yang melekat pada kampus ternama ini. Di balik prestasi dan gedung-gedung modern, ada jejak masa lalu yang tak sepenuhnya terhapus. Dan ketika malam semakin larut, menara itu tetap berdiri, sunyi, menunggu siapa pun yang cukup berani untuk mendekat, atau cukup lalai untuk menyadari bahwa mereka tak pernah benar-benar sendirian.



