Rabu, Maret 11, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBayangan di Kursi Terakhir

Bayangan di Kursi Terakhir

Energi Juang News, Garut– Malam selalu membawa cerita berbeda bagi mereka yang bekerja di jalanan. Deru mesin, bau solar, dan cahaya lampu yang menembus gelap menjadi saksi bisu perjalanan panjang tanpa henti. Di balik rutinitas itu, ada pengalaman yang tak bisa dijelaskan dengan logika, hanya bisa diceritakan dengan suara lirih dan tatapan kosong. Beberapa kisah bahkan terus hidup, meski pelakunya telah puluhan tahun meninggalkan jalanan.

Dede Wahyu (60) adalah salah satu saksi perjalanan panjang tersebut. Sejak 1985, ia menghabiskan hidup sebagai sopir bus antar kota. “Empat puluh tahun lebih saya di jalan,” katanya saat ditemui di Terminal Cicaheum. Ia telah mengalami mesin mogok di tanjakan, ban pecah di kecepatan tinggi, hingga menyaksikan kecelakaan besar. Namun menurutnya, pengalaman paling membekas justru datang saat malam, ketika jalan terasa terlalu sunyi.

Pengalaman aneh pertama dialami Dede di awal kariernya. Suatu malam, ia melihat seorang penumpang naik dan duduk di bangku belakang. “Saya lihat jelas orangnya,” ujarnya. Beberapa kilometer kemudian, saat kondektur hendak meminta ongkos, bangku itu kosong. “Lho, orangnya ke mana?” tanya kondektur panik. Dede langsung menepikan bus di daerah Rajamandala, Garut, memastikan tak ada penumpang yang turun diam-diam.

Mereka turun dan memeriksa seluruh bus. Tak ada siapa pun. Seorang warga yang melihat bus berhenti mendekat dan berkata pelan, “Kalau malam, sering begitu, Pak.” Ucapan itu membuat bulu kuduk Dede berdiri. Ia baru tahu bahwa banyak sopir mengalami kejadian serupa di jalur tersebut. “Bukan cuma saya,” kata Dede, “banyak yang pernah cerita.”

Kejadian berikutnya bahkan nyaris merenggut nyawa. Saat melintas di Bypass Cicalengka, Dede melihat seperti ada sosok menyeberang tiba-tiba. Refleks, ia membanting setir hingga bus oleng. “Hampir nabrak mobil depan,” ujarnya. Kondektur berteriak, “Pak, kenapa?” Dede hanya menjawab, “Kamu tadi lihat juga, kan?” Wajah kondektur langsung pucat.

Menurut warga sekitar, banyak kecelakaan terjadi karena hal serupa. Seorang penjaga warung pinggir jalan berkata, “Sopir sering kaget, katanya lihat orang nyebrang.” Padahal saat dicek, jalanan kosong. Jurang dan tikungan tajam membuat kesalahan kecil berakibat fatal. Cerita-cerita itu beredar dari mulut ke mulut, menjadi peringatan bagi para pengemudi malam.

Pengalaman paling mencekam terjadi saat Dede dan kondekturnya pulang dari terminal. Bus kosong, lampu belakang dimatikan. Tiba-tiba sang kondektur berbisik, “Pak… di belakang ada yang duduk.” Dede menoleh ke kaca spion dan melihat bayangan hitam diam di kursi paling belakang. “Merinding saya,” katanya. Keduanya kaku beberapa detik sebelum Dede menginjak gas tanpa berani menoleh lagi.

Sesampainya di terminal, mereka langsung turun dan berdoa. Seorang sopir senior mendekat dan berkata, “Kalau sudah lihat begitu, jangan berhenti.” Menurutnya, bayangan-bayangan itu sering muncul di bus yang pulang kosong. “Mereka cuma numpang lewat,” katanya pelan, seolah takut suaranya terdengar oleh sesuatu yang lain.

Dari pengalaman-pengalaman itu, Dede belajar satu hal: perjalanan malam tak pernah benar-benar sepi. Banyak sopir lain mengaku mengalami hal serupa, meski jarang dibicarakan terang-terangan. Mereka memilih saling mengingatkan, membaca doa, dan menjaga emosi saat menyetir. Horor Sopir Bus Malam menjadi rahasia bersama yang hanya dipahami mereka yang pernah merasakannya.

Kini, meski tak lagi aktif menyetir, kenangan itu masih melekat di benak Dede. “Kalau ingat, masih merinding,” katanya sambil tersenyum pahit. Kisah Mistis Sopir Bus seperti bayangan di kursi terakhir akan terus hidup di cerita para pengemudi malam, mengingatkan bahwa jalanan gelap bukan hanya tentang jarak, tetapi juga tentang keberanian menghadapi hal yang tak terlihat.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments