Energi Juang News,Demak- Kalau ada lomba “nasib paling apes sedesa”, mungkin Bendot sudah menang sebelum juri sempat duduk. Kisah suami kesawah kok istri dibajak pacar lama ini bukan cuma bikin geleng kepala, tapi juga bikin warga kampung punya bahan gosip sampai panen berikutnya.
Bendot, pria 35 tahun dengan semangat kerja setara traktor tua, tiap hari berangkat ke sawah sejak ayam masih mikir mau berkokok atau lanjut tidur. Sementara itu, Mince 29th istrinya, yang katanya setia, justru punya jadwal lain yang lebih “produktif” dari sekadar menjemur padi.
Bendot bukan tipe lelaki romantis. Kalau orang lain kasih bunga, dia kasih karung pupuk. Kalau orang lain ngajak jalan, dia ngajak nyabit rumput.
“Yang penting dapur ngebul,” katanya setiap hari.
Sayangnya, dapur memang ngebul… tapi hati Mince malah mendingin.
Mince mulai merasa hidupnya seperti nasi tanpa lauk, kenyang sih, tapi hambar. Di saat Bendot sibuk dengan lumpur sawah, Mince mulai sibuk dengan kenangan lama.
Dan seperti hukum alam yang sering kejadian di sinetron disaat itu muncullah Karni,30th teman sekolahnya.
Karni bukan orang baru. Dia mantan Mince yang dulu kandas gara-gara masalah klasik: ekonomi kalah sama janji manis.
Dulu, Mince memilih Bendot karena stabil. Sekarang, Karni datang lagi dengan gaya baru: kaos ketat, motor berisik, dan omongan yang lebih halus dari minyak goreng subsidi.
“Dulu aku belum siap… sekarang aku siap bahagiain kamu,” kata Karni.
Kalimat yang secara ilmiah terbukti 87% efektif merusak rumah tangga orang.
Sementara Bendot sibuk membajak sawah, rumahnya justru “dibajak” dengan metode yang jauh lebih halus tapi menghancurkan.
Awalnya cuma ngobrol biasa saja, tapi karena Mince juga butuh teman curhat lanjut ngopi.
Sering kali mereka lupa waktu dan lupa diri, tema obrolan yang tadinya nostalgia lama lama berlanjut nostalgila. Dan kita tahu kalau dua orang dewasa didalam ruangan yang ketiga adalah setan.
Yang sedari awal Karni punya niat memanjakan sentolopnya, dengan usaha yang gigih akhirnya berhasil juga.Tersadar akan tindakannya Mince hanya bisa menyesali perbuatannya, saat suami kerja keras, dia malah kerja keras mainin sentolop Karni.
Tetangga mulai curiga karena Karni sering parkir motornya di depan rumah Bendot dengan alasan yang tidak pernah konsisten. Kadang katanya mau tanya pupuk, kadang mau pinjam ember, kadang cuma “lewat”.
Karena aktivitas keluar masuk Karni kerumah bini orang, akhirnya warga yang melihat mengadukan perbuatan mereka ke pak RT.
Jarak rumah dan sawahnya padahal beda arah tiga kilometer, hal itu tak membuat Mince risih kalau suaminya pulang mendadak melihat pergumulan tak bersertifikat itu.
Di desa, privasi itu cuma teori. Praktiknya? Semua orang adalah kamera berjalan.
“Lho, kok Mas Karni sering ke sini ya?” tanyanya sambil pura-pura nyapu halaman yang sudah bersih sejak 1998.
Pak RT saat menjawab laporan warga langsung to the point menjawab,“Sawah kalo dibajak berdua bukannya makin subur, tapi ini sawah siapaa?”
Rumor pun menyebar lebih cepat dari diskon minyak goreng.
Dan benar saja hari persaksian selingkuh itu terjadi.
Bendot pulang lebih cepat karena hujan turun deras. Dengan badan penuh lumpur dan pikiran cuma ingin makan tempe goreng, ia membuka pintu rumahnya…
Saat memasuki rumahnya, ia mendapati sesuatu yang tidak masuk dalam rencana hidupnya. Terdengar suara Mincenya terengah engah didalam kamar tidurnya. Padahal tadi pagi baik baik saja, penasaran apa yang terjadi langsung membuka pintu kamar.
Lha dhalaaa… ia menyaksikan istrinya tanpa busana lagi ditindih monyettt…eh buukan…itu Kanri pria yang dikenal teman istrinya. Kalau ini film, mungkin ada musik dramatis, Jeng..Jeng…Jreeeng…. Amarah Bendot pun seketika memuncak setinggi pohon kelapa.
“Aku kerja buat keras buat kamu…tega teganya sawahmu dibajak orang malah dilayani” kata Bendot teriakannya terdengar sekampung..
Kalimat sederhana yang efeknya lebih menyakitkan dari seribu makian.
Mince hanya diam. Karni mencoba menjelaskan, tapi seperti biasa, penjelasan orang salah itu biasanya justru memperburuk keadaan.
“Aku cuma… cuma…”
“Iya, cuma kurang ajar,” potong Bendot marah.
Karni seperti maling ketangkep basah hanya bisa diam terkencing kencing, mau lari diluar warga sudah mengepung rumah mendengar teriakan Bendot.
Sementara itu, Mince harus menghadapi konsekuensi dari pilihan yang ia buat.
Dari luar, sawah Bendot tetap hijau. Panen tetap berjalan. Hidup seolah normal.
Tapi di dalam rumah, ada sesuatu yang tidak bisa ditanam ulang begitu saja: kepercayaan.
Kisah suami kesawah istri dibajak pacar lama ini jadi pengingat pahit bahwa hubungan bukan cuma soal materi, tapi juga perhatian.
Karena ternyata, yang lebih berbahaya dari hama di sawah… adalah hama di hati.
Redaksi Energi Juang News



