Energi Juang News, Tegal– Hari Senin itu datang seperti tagihan listrik: pasti, menyebalkan, dan selalu terasa terlalu cepat. Poltak pegawai biasa dengan gaji pas-pasan dan mimpi libur panjang. Bangun dengan satu harapan sederhana yang sayangnya gagal terwujud. Janji yang seharusnya menjadi penyemangat pagi ternyata menguap begitu saja malam tadi. Sudah janjian sama Butet istrinya, ia ketiduran, rasanya seperti bangun sahur tapi ketemunya cuma air putih. Kecewa, lemas, dan akhirnya… malas kerja.
Poltak niatnya cuma rebahan sebentar sambil main hape. Scroll, ketawa kecil, balas chat grup yang isinya gosip kantor, lalu… gelap. Ketiduran. Bangun-bangun jam sudah tidak bersahabat dengan absensi. Dengan langkah setengah sadar dan hati setengah ikhlas, Poltak tetap berangkat ke kantor. Prinsipnya sederhana: terlambat masih lebih terhormat daripada tidak datang sama sekali.
Sesampainya di kantor, Poltak dapat kabar dari teman: bos tidak ada di ruangannya. Info ini masuk ke otaknya seperti notifikasi diskon tengah malam yang menggoda dan sulit diabaikan. Kalau bos saja bolos, kenapa aku harus sok rajin? Pikiran licik mulai bekerja. Poltak membayangkan rumah, kasur, dan janji yang tertunda. Tanpa banyak pertimbangan, ia memutuskan pulang diam-diam. Ini bukan kabur, pikirku. Ini penagihan janji rumah tangga.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari biasanya. Jantungnya berdebar bukan karena cinta, tapi karena ekspektasi. Setibanya di rumah, semangat Poltak memuncak seperti kompor gas baru diganti. Ia langsung menuju pintu depan tanpa mengetuk, berniat memberi kejutan manis. Tapi pintu terkunci dari dalam. Aneh. Jam segini biasanya terbuka. Seperti maling amatir, Poltak memutar otak dan memilih pintu dapur.
Masuk rumah dengan langkah pelan, Poltak merasa seperti aktor film komedi yang yakin adegan romantis akan segera terjadi. Aroma sabun mandi tercium. Harapan makin tinggi. Poltak menuju kamar, membuka pintu dengan senyum siap pakai… lalu dunia seakan berhenti berputar. Di sana, di tempat yang seharusnya menjadi zona aman hidup Poltak , berdiri pemandangan yang membuat matanya melotot dan otak Poltak blank.
Bukan cuma istrinya yang ada di kasur. Ada orang lain. Lebih tepatnya, orang yang sangat iakenal. Bosnya. Tanpa sehelai benang pun, santai seperti lagi di iklan sabun. Wangi yang kuharapkan ternyata sudah dinikmati orang duluan. Rasanya seperti pesan makanan favorit, tapi yang datang notifikasi “pesanan telah diambil orang lain”.
Darah Poltak mendidih. Emosi naik seperti air ketuban di sinetron. Tanpa banyak kata, tubuh Poltak bergerak sendiri. Poltak berbalik arah dan mengambil golok. Di titik itu, logika cuti mendadak. Yang ada cuma campuran marah, kecewa, dan harga diri yang terinjak seperti sandal jepit di pasar. Bosnya, mungkin mencium bahaya, refleks kabur sambil setengah berpakaian. Sayang, nasib tidak berpihak.
Poltak mengejar sambil mengancam. Situasinya absurd: atasan dan bawahan, sama-sama bolos kerja, sama-sama panik, bedanya Poltak pegang golok. Ironisnya, hampir saja dia memberinya surat peringatan karena bolos, tapi kali ini nyawa bosnya yang terasa terancam. Hidup memang suka bercanda kelewatan.
Untungnya, Butet datang melerai. Dengan tangis, permintaan maaf, dan suara yang memecah ketegangan, ia berdiri di antara mereka. Seperti wasit di pertandingan yang hampir ricuh. Bosnya pun, dengan wajah pucat dan napas ngos-ngosan, menyatakan siap bertanggung jawab. Kata “bertanggung jawab” saat itu terdengar mahal, tapi juga kosong, seperti janji diskon tanpa syarat yang ternyata ada catatan kaki.
Setelah kejadian itu, Poltak duduk termenung. Marah perlahan turun, digantikan rasa lelah. Aku sadar satu hal: bolos kerja itu efek domino. Satu keputusan malas bisa menjatuhkan banyak kartu lain. Rumah tangga, kepercayaan, dan harga diri ternyata rapuh kalau diuji oleh kemalasan dan kesempatan.



