Energi Juang News, Pandeglang– Kisah perbuatan bejat kadang muncul dalam hubungan kekerabatan yang dekat, menimbulkan aksi nekat tak beretika. Di Kabupaten Pandeglang, Banten, masyarakat dikejutkan oleh kabar mengenai seorang pria bernama Codet (40) nama samaran, yang entah kenapa terdengar serem seperti nama preman pasar loak. Keseharian Codet selama ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menabrak nalar seperti motor tua yang remnya blong di turunan. Atau dalam peribahasa `Pagar Karatan Makan Tanaman`. Codet yang setelah bercerai tinggal bersama anak gadisnya bernama Tince 14 th nama samaran, justru menyalahgunakan kepercayaan dan tanggung jawab Tuhan yang seharusnya ia emban.
Kasus berawal keseharian Codet yang pulang malam dan masuk rumah dalam keadaan mabuk minuman `cap Tikus`. Pas masuk melihat Tince anaknya tertidur dikursi. Keinginan mendapat pasangan `berpacu dalam melodi` di tempat karaoke batal karena arus kas dompetnya melorot drastis. Berakhir Codet melorotkan standar normanya melampiaskan `berpacu dalam melodi` kepada anak gadisnya. Dibawah ancaman Codet, Tince tak bisa berbuat banyak dan menyerah.
Perbuatan `Praktek nyayur jagung muda` yang diperbuat Codet berulang ulang pada Tince menimbulkan curiga warga sekitar setelah melihat perubahan pada tubuh Tince anaknya. Yang semula langsing berubah bertahap perut Tince membesar. Benar saja setelah diberondong pertanyaan oleh warga,Tince pun mengakui perbuatan Codet padanya. Mendengar pengakuan Tince, membuat banyak warga sekitar merasakan campuran emosi: marah, heran, jijik, hingga keinginan spontan memberikan “bogem mentah” dengan bumbu nafsu memuncak. Dengan kesimpulan. Codet yang menyebabkan Tince hamil tujuh bulan menjadi sebuah bukti kejahatan moral yang tak pantas dilakukan siapa pun, apalagi seorang ayah.
Berita itu menyebar secepat gosip pedagang pasar ketika harga cabe naik, Pedaassss…. Warga yang semula hanya nongkrong di pos ronda mendadak berubah menjadi analis kriminal, komentator moral, sekaligus hakim sosial. “Codet mah enak dirujak aja,sahh ituu” ujar salah satu warga dalam laporan kepolisian. “Dari kelakuannya sebagai Preman pasar loak cuma bikin ribut soal parkir motor, ditambah yang sekarang mah… Astaghfirullah.” lanjutnya.
Di kampung itu, Codet dikenal sebagai preman pasar yang sulit diajak bicara baik baik kecuali diskusinya soal rokok atau keberpihakan klub bola. Namun siapa pun tidak menyangka bahwa di balik penampilannya yang garang,kumis melintang bagai pagar kecamatan dan tatapan seperti baru bangun tidur setelah mabuk ternyata ia menyimpan kebobrokan moral yang parah.
Para pemuda kampung, yang selama ini diam-diam mengidolakan Tince dan saling bersaing mengatur gaya rambut terbaik setiap kali lewat depan rumahnya, langsung syok massal. “Gue kira Codet cuma setan preman. Ternyata Setan pangkat tinggi menggoda,” komentar seorang pemuda sambil menggeleng berkali-kali seperti kipas angin rusak. Begitu juga perasaan Minul 43th,nama samaran mantan istrinya pun campur aduk marah, kecewa, dan merasa kecolongan seperti pemain bola yang sudah sprint maksimal tapi gawangnya mendadak dipindah. Hehehe…
Kisah perbuatan bejat Codet akhirnya dilaporkan warga ke polisi setempat dengan tuduhan pagar makan tanaman, ehh nyayur kebablasan atau pasal perbuatan melanggar hukum karena terlalu lama punya Codet nganggur. Bahkan batu kali pun ada yang keropos kalau direndam air lama-lama sama juga juga karakter manusia.
Dari sisi humor satir, warga menggambarkan Codet seperti radio tua yang cuma punya satu siaran tentang kenakalan. “Dari dulu juga kelakuan Codet sudah rusak,” kata seorang ibu sambil menjinjing belanjaan sayur. “Cuma sekarang kebablasan.” Analogi ini membuat banyak orang tertawa pahit, menunjukkan bagaimana humor bisa jadi jembatan antara kesedihan dan keberanian untuk bicara.
Pada akhirnya, kisah ini menjadi cermin besar bagi masyarakat Pandeglang bahwa tindakan bejat bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit moral yang harus dicegah sejak dini. Bila dibiarkan, ia bisa tumbuh seperti rumput liar yang menembus lantai semen. Karena itu, edukasi keluarga, ruang aman bagi korban, dan keberanian untuk melapor harus dikedepankan. Jangan sampai ada lagi Tince berikutnya yang menderita karena keheningan dan ketakutan.
Redaksi Energi Juang News



