Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliPengantin Kabur Di Bengkulu, Doyok Tekor Jojon Panen

Pengantin Kabur Di Bengkulu, Doyok Tekor Jojon Panen

Energi Juang News,Bengkulu- Dalam teori pernikahan, semua orang berharap bahagia. Dalam praktik lapangan, kadang hasilnya seperti proyek jalan desa: anggaran habis, hasil belum tentu mulus. Itulah yang dialami Doyok, pria 30 tahun dari Bengkulu, yang mendadak jadi korban “pergeseran hati secara sepihak”.

Doyok ini bukan orang sembarangan dalam urusan perjuangan cinta. Kalau ada lomba ngotot tingkat RT, kemungkinan besar dia juara harapan satu. Sejak lama ia menaksir Vipi, gadis 25 tahun yang level kecantikannya bikin cowok-cowok lain rela antre seperti daftar bansos.

Masalahnya, Vipi tidak tertarik. Jangankan kasih harapan, melirik saja irit. Tapi Doyok bukan tipe yang mundur sebelum saldo habis. Ia naik level: dari pendekatan biasa menjadi pendekatan struktural.

Orang tua Vipi dilobi. Keluarga besar didekati. Bahkan kalau perlu, mungkin tetangga tiga RT ikut diajak rembukan. Sistemnya mirip pemilihan lurah: siapa berani setor lebih, dia yang unggul. Istilah kerennya NPWP—Nomor Piro Wani Piro.

Dan benar saja, strategi “koalisi keluarga” berjalan mulus. Vipi yang awalnya ogah-ogahan, akhirnya luluh… atau lebih tepatnya, luluh karena tekanan situasi. Pacar lama diputus, Doyok naik pangkat jadi calon suami.

Resepsi pun digelar besar-besaran. Doyok tidak main-main. Uang warisan orang tua dikucurkan seperti proyek nasional. Dekor megah, makanan melimpah, tamu undangan sampai bingung parkir.

Singkatnya: pesta sukses, dompet kritis.

Masuk ke sesi malam pertama, Doyok sudah siap tempur. Persiapan tidak hanya lahir, tapi juga batin dan “logistik tambahan”. Dari jamu sampai telur bebek, semua dikonsumsi demi misi besar: “mbelah duren montong”.

Namun, hidup kadang lebih plot twist daripada sinetron.

Saat Doyok siap menjalankan tugas negara sebagai suami baru, pengantinnya… hilang.

Baca juga :  Makan Makan Menunya Bukan Paha Ayam Goreng, Tapi Paha Mentah

Awalnya dikira ke kamar mandi. Lalu dikira ke dapur. Lama-lama dicari sampai ke grup WhatsApp keluarga, tetap tidak ketemu.

Akhirnya muncul kabar dari saksi mata: Vipi terlihat pergi bersama seorang pria. Dan bukan pria sembarangan—itu adalah Jojon, 32 tahun, mantan pacar sekaligus mantan kepala desa. Alias paket lengkap: pengalaman ada, jabatan pernah, kenangan masih tersisa.

Di sinilah teori “cinta lama bersemi kembali” membuktikan diri. Yang lama bukan berarti usang, kadang malah jadi pilihan utama.

Doyok? Jelas terpukul.

“Lha aku iki opo, panitia acara?” kira-kira begitu isi hatinya.

Semua usaha, semua biaya, semua strategi politik keluarga… runtuh dalam satu malam. Yang ia dapat bukan malam pertama, tapi malam penuh tanda tanya.

Lebih pahit lagi, pihak yang “panen raya” justru Jojon. Datang belakangan, tapi hasil maksimal. Istilah sepak bolanya: pemain cadangan, tapi cetak gol di injury time.

Doyok sempat mencoba jalur hukum. Laporan polisi dilayangkan. Tapi seperti kata pepatah modern: urusan hati tidak bisa diselesaikan dengan kuitansi.

Kalau pun Vipi kembali, masalahnya bukan sekadar balik badan. Kepercayaan sudah seperti kaca jatuh—bisa disambung, tapi retaknya tetap kelihatan.

Akhirnya Doyok hanya bisa menerima nasib. Uang habis, cinta kandas, pengalaman bertambah—meski tidak diinginkan.

Kisah ini jadi pelajaran penting bagi para pejuang cinta garis keras:
bahwa tidak semua yang bisa dibeli akan benar-benar bisa dimiliki.

Kadang, yang sudah akad pun masih bisa “diambil alih” oleh masa lalu.

Dan yang paling menyakitkan, bukan soal gagal “mbelah duren”…
tapi ternyata durennya sudah dipanen orang lain duluan.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments