Energi Juang News, Jogyakarta– Rumah Warsih berdiri tepat di tepi jalan kecil yang memisahkan dusun dari sebuah tempat pemakaman umum di Kauman, Pleret, Bantul. Di seberang jalan, dua pohon randu alas tua menjulang dengan akar menggembung seperti urat menonjol di tanah yang lembap. Setiap kali angin bertiup, ranting-rantingnya bergesekan dan menimbulkan suara lirih seperti rintihan. Masyarakat sekitar sudah terbiasa dengan suasana itu, namun malam itu sesuatu yang berbeda terjadi.
Kamis malam itu, Warsih dan suaminya sedang duduk di teras sambil menyeruput teh panas. Angin membawa aroma tanah basah dari arah makam, membuat bulu kuduknya berdiri. Tiba-tiba, di antara kelamnya malam, tampak sebuah bola api melayang rendah di sekitar pohon randu. “Pak, itu apa?” tanya Warsih dengan suara bergetar. Suaminya terdiam, matanya terpaku pada bola api yang menyambar batang pohon keramat itu. Dalam hitungan detik, api menjalar cepat seolah menyala dari dalam.
Selama lima belas menit, nyala api menari-nari di sela batang randu, menjilati daun kering dan kulit pohon yang pecah karena panas. Warga berdatangan membawa ember air, namun api seolah tak mau padam. “Iki ora geni biasa, Bu! Iki geni gaib!” teriak Murdiyanto, dukuh setempat, sambil berusaha memadamkan kobaran itu. Butuh tiga jam hingga nyala api benar-benar padam, meninggalkan batang hitam arang dan hawa panas yang masih terasa hingga dini hari.
Keesokan paginya, suasana dusun menjadi tegang. Beberapa warga mengaku mendengar tangisan samar dari arah pohon randu yang telah hangus. “Seperti suara perempuan menangis pelan, kadang memanggil nama seseorang,” ujar Sarmi, tetangga Warsih. Orang-orang mulai berbisik bahwa pohon itu selama ini dihuni arwah penunggu yang marah karena tempatnya diganggu oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
Murdiyanto bercerita bahwa dulu di bawah pohon randu alas itu pernah ditemukan sesajen tua berbungkus kain putih. “Kalau malam-malam, sering ada yang melihat sosok perempuan berjubah hitam duduk di cabang pohon,” katanya lirih. Menurutnya, setelah pohon itu terbakar, penampakan semakin sering terjadi. Bahkan beberapa warga yang pulang malam mengaku mencium bau melati dan mendengar tawa kecil tanpa wujud di sekitar jalan itu.
Suatu malam, seorang tukang becak yang biasa lewat jalan Kauman menuju pasar Pleret mengalami kejadian aneh. Ia menceritakan bahwa sekitar pukul tiga dini hari, seorang perempuan berpakaian hitam naik ke becaknya dan meminta diantar ke pasar. “Suaranya lembut, tapi dingin sekali,” katanya kepada warga. Setelah sampai, perempuan itu memberikan uang banyak, namun ketika dilihat kembali, uang itu telah berubah menjadi daun kering yang basah.
Ketika pagi tiba, tukang becak itu menyadari bahwa tempat ia menurunkan penumpang bukanlah pasar, melainkan makam di depan rumah Warsih. Wajahnya pucat ketika menceritakan kejadian itu kepada warga. “Aku tidak akan lewat sana lagi malam-malam,” ujarnya ketakutan. Sejak saat itu, jalan di depan rumah Warsih sepi pada malam hari. Bahkan anjing pun enggan menyalak ke arah makam.
Cerita menyeramkan lain datang dari seorang penjual bakso keliling yang sering mangkal di sekitar Kauman. Ia mengaku dagangannya tiba-tiba laris luar biasa suatu malam. Banyak orang membeli, namun wajah mereka tampak samar dan tanpa bayangan. Ketika tersadar, ia justru berdiri di tengah makam, dengan gerobak yang seolah menancap di antara nisan-nisan tua. Setelah malam itu, ia berhenti berdagang di wilayah tersebut.
Kini, tempat di mana pohon randu alas itu dulu berdiri telah dipagari bambu dan dibiarkan kosong. Tidak ada yang berani menanam apapun di sana. Warsih sendiri sering merasa seperti ada yang memperhatikannya dari arah makam. “Kalau malam, kadang terdengar suara langkah di halaman, padahal tidak ada siapa-siapa,” ujarnya lirih kepada saya. Seolah arwah penjaga pohon itu belum benar-benar pergi, hanya bersembunyi di antara kabut malam yang menyelimuti Kauman.
Hingga kini, kisah tentang misteri pohon randu alas depan rumah Warsih masih menjadi buah bibir warga Pleret. Banyak yang percaya arwah di sana menuntut penghormatan yang telah hilang. Malam di dusun itu selalu sunyi dan penuh waspada, seolah tanahnya masih menyimpan bara dari api yang tak kunjung padam di hati para penunggu gaib.
Redaksi Energi Juang News



