Energi Juang News, Wonosobo–Pada suatu senja mendung, kabut tipis menyelimuti lereng gunung Dieng. Angin membawa suhu yang menggigil, dan awan mendung merunduk rendah di balik pepohonan.
Desa Legetang telah lama hening, dan penduduk luar nyaris tak pernah menyentuh bagian desa itu. Desa itu dekat dengan Gua Jimat, yang menurut kepercayaan sebagai tempat penyimpanan pusaka sakti. Jadi ada mitos dan legenda yang membumbui peristiwa alam itu
Konon menurut cerita dari mulut ke mulut, Dusun Legetang kaya dan subur tanahnya. Namun, penduduknya mengingkari nikmat dengan tidak menjalankan kehidupan dengan baik. Sebagai bentuk hukuman atas perilaku mereka, alam pun murka. Tanah di suatu sisi kampung pernah terangkat dan digilas kembali ke lembah, membawa hilangnya jerit dan tangis. satu dusun itu benar-benar terkubur, menewaskan 332 orang warganya dan 19 penduduk dusun tetangga yang tengah berkunjung ke kawasan itu. Banyak yang percaya alam mengamuk sebagai balasan atas kelaliman penduduk dahulu.
“Dulu kami mendengar teriakan malam,” ucap Pak Surya, tetangga desa terdekat, dengan suara gemetar.
Sejak kejadian itu, Warso warga kampung sekitar keturunan warga yang selamat menyatakan pernah melihat sosok melayang di antara pepohonan. Sosok yang dapat menceritakam kepedihan akibat bencana masa lalu. Bayangan pucat tanpa mata yang menusuk malam ikut mengiring langkahnya ketika pulang ke rumah. Aroma anyir dan sesak bercampur aduk mengiringi pula.
Ia gemetar dan berbisik, “Aku rasa itu .. arwah mereka.” Ia pun melangkah ketakutan sambil berharap tak terjadi hal mengerikan.
Penduduk sekitar menghindar ketika mendengar suara lagukan merintih di atas puncak bukit.
Suara perempuan melagukan ratapan yang menyayat hati, seperti sedang menuntut keadilan.
Seorang ibu berkata, “Anakku menangis karena mendengar tangisan di balik jendela.” Terkadang menampakkan sosok perempuan lusuh sedang menggendong bayi tanpa kepala.
Menurut cerita warga di malam Jumat terkadang nampak sosok kuntilanak muncul di ambang pintu warga. Wajahnya pucat, rambut panjang merambat, tangannya menunjuk ke lembah yang terkubur tanah. Seolah arwah itu membutuhkan pertolongan ditempatnya bersemayam.
Membuat warga setempat panik yang melihat, segera menutup pintu dan mengunci jendela sekuat tenaga. Seorang pemuda dari desa tetangga bertanya, “Apa engkau masih di sini?” suara gemetar tak bisa disembunyikan.
Kuntilanak itu hanya tersenyum lirih dan menghilang begitu saja dalam kegelapan.
Tinggallah senyap yang makin menekan jiwa siapa pun yang melewati jalan setapak yang berkabut.
Seiring waktu, cerita itu diwariskan ke generasi berikut dengan peringatan tegas.
Tak seorang pun diperbolehkan menginjak Dusun Legetang yang terkubur di malam hari.
Warga berkata, “Ada aturan tak tertulis agar kita jauhi tempat itu.”
Kini, desa lain pun merasakan efeknya: bayangan melintas di belakang rumah tanpa ada orang di sana.
Anak-anak menangis di malam kelam, dan suara ratapan lembut menyeruak dari balik jendela.
Para tetua menyebarkan larangan agar tidak mendekati bekas longsor sejak gelap tiba.
Begitulah kisah pilu terkuburnya Desa Legetang sebuah legenda penuh teror arwah dan penderitaan yang menghantui generasi ke generasi. Hingga kini kadang masih ada cerita cerita semacam ini.
Siapa pun yang mendekat tanpa hormat akan merasakan dingin menusuk dan desahan arwah menuntut balas. Jaman dulu Desa Legetang jadi lahan kentang yang terkenal di Dieng.
Kini kadang, petani yang tengah mencangkul kerap menemukan satu dua pecahan perabot atau puing rumah. Semoga cerita ini menjadi peringatan bahwa alam dan roh tak boleh dikhianati.
Redaksi Energi Juang News



