Energi Juang News, Jakarta- Nama Yono sudah lama dikenal di kalangan sopir ambulans sebagai sosok yang tenang dan jarang panik. Usianya kini menginjak 60 tahun, dengan puluhan tahun pengalaman mengantar jenazah ke berbagai pelosok daerah. Wajahnya datar, bicaranya lugas, seolah tak pernah tersentuh rasa takut. Namun, satu perjalanan dari Jawa Tengah menuju Jakarta mengubah cara pandangnya tentang hal-hal yang tak kasatmata.
Kisah ini bermula dari tugas yang tampak biasa. Seorang korban kecelakaan harus dibawa dari Jakarta menuju kampung halamannya di Majenang. Proses berjalan sesuai prosedur: autopsi dilakukan di rumah sakit, jenazah dimandikan, lalu dikafani dengan layak. Atas permintaan keluarga, Yono mendapat tugas mengantar jenazah tersebut tanpa pendamping keluarga.
Karena perjalanan cukup jauh, ia mengajak rekannya, Rojak (55), untuk menemani.
Perjalanan menuju Majenang berlangsung tanpa gangguan. Jalanan lancar, mesin mobil bekerja normal, dan suasana pun relatif tenang. Mereka tiba, menyerahkan jenazah kepada keluarga, lalu bersiap kembali ke Jakarta.
Masalah dimulai saat perjalanan pulang.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 18.00, selepas magrib. Hujan gerimis turun tipis, membuat jalanan licin dan udara terasa dingin. Rojak yang menyetir mulai menguap berkali-kali.
“Yon, gue udah nggak kuat. Ngantuk banget,” keluh Rojak sambil menahan mata.
“Ya sudah, minggir dulu. Biar saya yang lanjut,” jawab Yono santai.
Mereka berhenti sejenak, lalu bertukar posisi. Awalnya tak ada yang aneh. Namun, saat memasuki wilayah Ciamis, suasana mulai berubah.
Jalanan terasa lebih gelap dari biasanya.
Lampu penerangan jalan tampak mati semua, menyisakan hanya sorotan lampu mobil yang membelah kegelapan. Hujan semakin memperburuk jarak pandang.
Beberapa menit kemudian, kejadian pertama terjadi.
Lampu mobil tiba-tiba padam.
“Lho… kok mati?” gumam Yono pelan.
Ia segera menepikan kendaraan, turun, dan memeriksa bagian depan mobil. Kabel, aki, semuanya terlihat normal.
“Jak, kalau nanti ketemu bengkel kita mampir ya,” ucap Yono sambil menutup pintu.
Tak ada jawaban.
Ia menoleh ke samping. Ternyata Rojak tertidur pulas, kepalanya terkulai.
“Ya ampun, tidur beneran dia…” gumamnya.
Saat itulah, sesuatu yang tak biasa mulai terasa.
Dari arah belakang, tepat di area keranda, muncul gumpalan tipis seperti kabut putih. Bersamaan dengan itu, aroma harum menyeruak, bukan bau bunga biasa, tapi seperti campuran melati dan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Yono terdiam beberapa detik.
Lalu, dengan suara tegas ia berkata,
“Kalau mau ikut, sini saja di depan. Jangan ganggu.”
Anehnya, setelah ia mengucapkan itu, mobil terasa berubah. Setir menjadi berat, laju kendaraan seperti tertahan.
“Ah, mungkin remnya macet,” pikirnya mencoba rasional.
Namun semakin malam aroma itu semakin kuat.
Tak lama kemudian, di kejauhan terlihat sebuah bengkel kecil dengan lampu redup. Dua orang tampak duduk sambil ngopi.
“Pas banget,” kata Yono lega.
Ia menghentikan mobil di depan bengkel.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Kedua pria itu langsung berdiri, wajah mereka pucat, lalu berlari menjauh.
“Pak! Pak! Mau minta tolong!” teriak Yono.
Salah satu dari mereka menjawab dari kejauhan dengan suara gemetar:
“Kalau mau betulin mobil, ambil saja alat di situ! Dan cepat pergi!”
Yono kebingungan.
Ia menoleh ke arah mobil. Tidak ada siapa-siapa selain Rojak yang masih tertidur.
“Kenapa mereka takut?” gumamnya.
Ia tetap mencoba mengecek mobil sekali lagi. Hasilnya sama: tidak ada kerusakan.
Dengan perasaan campur aduk, ia kembali ke kursi kemudi.
Sebelum menyalakan mesin, ia berkata pelan namun tegas:
“Kalau di depan kamu bikin repot, mending balik ke belakang saja.”
Yono menyalakan mesin, dan tak mengharapkan sosok lain menjawab.
Dan tiba-tiba—semuanya normal kembali.
Lampu menyala terang, setir ringan, mesin halus seperti tidak pernah bermasalah. Bahkan aroma harum itu perlahan menghilang.
Sepanjang perjalanan hingga Jakarta, tidak ada lagi kejadian aneh.
Setibanya di garasi, Rojak terbangun.
“Kita sudah sampai?” tanyanya sambil mengucek mata.
“Iya,” jawab Yono kesal.
“Lah, gue tidur lama banget ya?”
Yono hanya menatapnya sebentar, lalu berkata,
“Lumayan. Sampai ‘ditemani’ juga kamu nggak bangun.”
“Ditemani? Maksudnya?” Rojak mulai bingung.
“Mending kamu nggak usah tahu.”sahut Yono ketus.
Keesokan harinya, kabar tentang kejadian itu sampai ke warga sekitar bengkel di daerah Ciamis. Salah satu dari pria yang lari malam itu akhirnya bercerita.
“Saya lihat jelas, Pak… di kursi depan ada tiga orang. Sopir, satu yang tidur… sama satu lagi. Wajahnya pucat, matanya kosong, menakutkan” ucapnya dengan suara bergetar dan membuat bulu kuduk meremang.
Bagi Yono, pengalaman tersebut bukan sekadar kejadian aneh. Ia percaya, jenazah yang diantarnya ada yang belum sepenuhnya menerima kepergiannya.
Sejak saat itu, setiap mengantar jenazah, Yono selalu berbicara pelan sebelum berangkat.
“Kalau ikut, jangan ganggu. Karena alam kita sudah berbeda.”
Dan tak pernah lagi ia merasakan kejadian seaneh malam itu.
Redaksi Energi Juang News




