Energi Juang News,Jakarta- Susuk yang kita kenal sebagai cara memasukkan benda asing ke dalam tubuh seseorang secara spiritual untuk mendapatkan suatu kelebihan.
Semisal menambah aura kecantikan, kekebalan tubuh dari senjata tajam, maupun kekuatan fisik. Susuk yang dipakai bisa berasal dari bahan emas, ada pula dari bahan selain emas.
Kepercayaan ini sering kali terkait dengan keyakinan penggunanya pada energi spiritual, aura, dan pengaruh magis dari susuk yang ditanam tersebut.
Seperti kisah berikut ini, dapat menjadi gambaran dari sebab dan akibat yang haerus diterima bagi orang yang meyakininya.
Di sebuah desa terpencil di Dolopo, Madiun-Jawa Timur, hidup seorang wanita tua yang dikenal dengan nama Mbah Tumini. Usianya dikabarkan telah lebih dari 90 tahun, namun wajahnya masih tampak seperti wanita berusia 50-an. Dengan ciri fisik yang tak lazim, kulitnya kencang, matanya tajam dan sudah cekung kedalam, dan ia masih bisa berjalan cepat meski bertongkat.
Dia tinggal sebatang kara dirumah tua tak terurus berada diujung jalan yang sepi. Rumah dengan arsitektur jawa kuno berlantai tanah. Dikala malam hari tak ada penerangan dihalaman rumah itu, sehingga tampak menyeramkan. Warga yang melintas berusaha menghindari jalan didepan rumah Mbah Tumini tersebut.
Cerita mistis rumah itu tatkala malam hari, salah satu diantaranya tentang sering muncul genderuwo diantara pohon sawo besar didepan rumahnya sering dijumpai warga.
Yang menarik bahkan semua warga tahu satu hal tentang Mbah Tumini juga memakai susuk. Bukan susuk biasa, melainkan susuk emas warisan nenek moyangnya, yang konon ditanamkan oleh dukun sakti dari tanah seberang. Susuk yang diyakini menambah aura kecantikannya, Namun banyak yang belum tahu konsekwensi dari menanam susuk itu, yaitu pengorbanan dari harta benda hingga nyawa orang sekelilingnya.
Obrolan warga sekitar memberi kesaksian: “Aku pernah lihat sendiri, Mbah Tumini itu dulu cantik luar biasa. Banyak pria didesa tergoda bahkan pria sudah berkeluarga ikut tergoda.”
“Tapi setelah suaminya meninggal gantung diri, dia mulai berubah aneh…”
Tambah Bu Munah pada tetangganya saat pengajian malam Jumat.
“Kau ingat waktu dia jatuh dari pohon kelapa? Usianya 80-an waktu itu! Bukannya mati, malah bangun dan ketawa!” Kata Pak Darto menimpali sambil mengelus jenggotnya.
Kabar angker mulai menyebar ketika Mbah Tumini mulai sakit parah. Tubuhnya lemah, tapi dia tak kunjung meninggal. Sejak dua minggu lalu, tubuhnya terbaring lemas, tapi matanya terbuka dan masih bisa bicara lirih.
Anak-anaknya memanggil ustaz dan kyai untuk membacakan Yasin untuk membantu melepas nyawanya. Namun saat ayat kursi dibaca, tubuh Mbah Tumini malah kejang-kejang, lalu tertawa aneh.
Saat menyaksikan kejadian itu warga mulai menyimpulkan apa penyebab Mbah Tumini kesakitan menjelang ajalnya. Apakah itu konsekuensi dari susuk itu. Namun tak ada yang berani mengungkapnya.
Setengah sadar Mbah Tumini berkata, “Kalian pikir aku bisa mati melebihi itu? Susuk ini tak akan membiarkan aku pergi!”Ucap Mbah Tumini sambil seolah mencakar udara, aneh seolah ada yang dilihat didepannya.
Setelah dikeluarkan susuknya, ditemukan tujuh batang emas kecil tertanam di bawah lidah dan di balik kukunya. Proses pengeluaran susuk tidak bisa dilakukan biasa. Ini harus dilakukan oleh dukun yang memasukkan susuk, dan bila sang dukun sudah meninggal bisa dilakukan oleh keturunan sang dukun.
“Dia tidak mau mati karena susuknya menahan nyawanya di tubuh. Ini bukan manusia lagi, ini mayat yang menolak mati,” berkata Ustaz Fadli sambil menatap jenazah hidup Mbah Tumini.
Ketika dimandikan untuk persiapan pengurusan jenazah, disaksikan warga tubuh jenazah, kulitnya berangsur keriput dan menghitam sambil mengeluarkan bau daging terbakar. Wajah yang tadinya awet muda berubah menjadi sosok nenek nenek keriput dengan mata cekung kedalam. Dan tak hentinya darah keluar dari setiap lubang wajah jenazah yang membuat takut para pelayat.
Hingga kini, warga Dolopo tak ada yang berani mendekat ke rumah itu. Karena sekarang suara ketawaMbah Tumini sering terdengar dari dalam sumur tua di belakang rumah itu. Mereka percaya, Mbah Tumini belum benar-benar mati. Nyawanya terperangkap karena susuknya sendiri.
Dan setiap malam Jumat Kliwon, suara ketawanya kembali terdengar… dari balik tanah.
Redaksi Energi Juang News



