Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBisikan Rangda di Ujung Desa Sunyi

Bisikan Rangda di Ujung Desa Sunyi

Energi Juang News,Bali- Angin malam berembus dingin menyusuri celah-celah bambu di Desa Kertajaya. Suara dedaunan yang bergesekan terdengar seperti bisikan samar, membuat siapa pun yang lewat merasa diawasi. Desa ini bukan desa biasa. Sudah lama dikenal sebagai tempat yang “tidak pernah benar-benar tidur”—bukan karena kehidupan malamnya, tapi karena sesuatu yang selalu bangun saat manusia terlelap.

Aku tiba di desa itu menjelang tengah malam, setelah menerima laporan dari seorang kenalan yang mengaku terjadi gangguan aneh. Bukan sekadar suara atau bayangan, melainkan kejadian yang berulang dan semakin nyata.

“Mas, kalau bisa jangan lama-lama di sini,” ujar Pak Darno, warga setempat yang pertama kali menemuiku.

“Kenapa, Pak?” tanyaku.

Ia menatap ke arah hutan di ujung desa. “Sudah tiga anak hilang dalam dua bulan. Semuanya terjadi setelah suara tangisan perempuan terdengar di malam hari.”

Aku terdiam. Pola seperti ini bukan kebetulan.

Di balai desa, beberapa warga berkumpul. Wajah mereka tegang, sebagian tampak lelah seperti kurang tidur berhari-hari.

“Semua dimulai dari suara itu,” kata Bu Sari dengan suara bergetar. “Tangisan… panjang… seperti orang kesakitan.”

“Awalnya kami kira orang tersesat,” sambung seorang pemuda bernama Raka. “Tapi setelah kami cari, tidak ada siapa-siapa. Yang ada cuma bau busuk… seperti bangkai.”

Aku mencatat setiap detail. Bau busuk sering dikaitkan dengan energi negatif tingkat tinggi.

“Lalu anak-anak itu?” tanyaku.

Pak Darno menjawab pelan, “Mereka hilang setelah melihat ‘perempuan’ itu.”suasana langsung sunyi saat itu.

Malam berikutnya, aku memutuskan berjaga di rumah kosong dekat hutan—lokasi terakhir salah satu anak menghilang. Jam menunjukkan pukul 01.17 saat suara itu muncul.

Jelas sekali terdengar tangisan panjang, melengking, dan penuh penderitaan.

Baca juga :  Sundel Bolong: Arwah Wanita Terluka Beraroma Melati yang Menghantui Malam

Aku merinding. Suara itu bukan sekadar suara manusia. Ada sesuatu yang “tidak utuh” di dalamnya.

Perlahan aku keluar, mengikuti arah suara menuju hutan.

Di antara pepohonan gelap, aku melihat sosok itu seorang perempuan.

Rambutnya panjang, kusut, menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Wajahnya… tidak sepenuhnya terlihat, tapi cukup untuk membuat jantung berhenti sesaat. Matanya melotot, giginya panjang dan tajam, dan kukunya—panjang seperti cakar binatang.

Ia tertawa, dan tawa yang berubah dari tangisan. “Anak… anak…” bisiknya lirih. Aku sadar saat itu juga: ini bukan sekadar hantu biasa.

Keesokan harinya, aku mengumpulkan warga. “Kalian pernah dengar tentang Rangda?” tanyaku. Beberapa warga langsung saling pandang.

“Itu… ratu leak, kan?” kata Bu Sari pelan dan aku mengangguk.

Dalam kepercayaan Bali, Rangda dikenal sebagai ratu para leak—pemimpin ilmu hitam yang menguasai kekuatan gelap. Ia sering digambarkan sebagai sosok perempuan menyeramkan dengan rambut panjang, kuku tajam, dan taring mengerikan. Dalam legenda, ia adalah sosok yang melawan Barong, simbol kebaikan.

“Rangda juga dikenal suka menculik anak-anak,” lanjutku.

Wajah para warga langsung pucat.

“Tapi ini Jawa, Mas…” ujar Raka ragu.

“Energi seperti itu tidak mengenal batas wilayah,” jawabku tegas.

Malam ketiga, warga sepakat melakukan penjagaan bersama. Kami memasang penerangan di sekitar hutan dan membentuk kelompok.

Namun sekitar pukul dua pagi, salah satu warga berteriak,“Itu! Di sana!” Seketika semua menoleh, dan sosok itu muncul lagi lebih jelas kali ini.

Kulitnya pucat keabu-abuan, matanya merah menyala, dan lidahnya menjulur panjang. Bau busuk langsung menyebar ke seluruh area.

“Jangan dekati!” teriakku, Namun seorang pemuda nekat maju.

“Pergi kau! Jangan ganggu desa kami!” dan sosok itu tertawa keras.

Baca juga :  Kemalangan Bahu Laweyan, Bahaya Yang Menyertai Hidup Bu Sonah

Tiba-tiba, tubuh pemuda itu terpental ke belakang seperti didorong sesuatu yang tak terlihat seorang warga panik.

“Mas! Apa yang harus kita lakukan?!” teriak Pak Darno.

Aku cepat mengambil garam dan membentuk lingkaran perlindungan.

“Semua masuk ke sini! Jangan keluar!”

Sosok itu mendekat, mengelilingi kami.

Matanya menatap satu per satu, seolah memilih.

“Anak… lapar…” bisiknya.

Dalam kondisi genting, aku mencoba berkomunikasi.

“Kau bukan milik tempat ini,” kataku keras. “Kembalilah ke asalmu!”

Sosok itu berhenti terdengar tertawa.

“Diusir… seperti dulu…” katanya lirih, menurutku kalimat itu membuatku tersentak.

Legenda menyebutkan bahwa Rangda dipercaya sebagai perwujudan Ratu Mahendradatta yang diasingkan karena tuduhan sihir. Rasa dendam dan kesedihan itu diyakini menjadi sumber kekuatannya.

“Kau tidak harus terus begini,” kataku lagi.

Tiba-tiba, ekspresinya berubah dan tangisan kembali terdengar, namun kali ini… lebih manusiawi.

Perlahan, sosok itu mundur dan kabut hitam menyelimutinya, dan dalam sekejap—hilang.

Sejak malam itu, kejadian aneh mulai berkurang. Tidak ada lagi suara tangisan, tidak ada lagi bau busuk, dan yang terpenting—tidak ada lagi anak yang hilang.

Namun sebelum aku pergi, Pak Darno berkata sesuatu yang masih terngiang sampai sekarang.

“Mas… tadi malam… sebelum hilang… saya lihat wajahnya berubah.”

“Berubah bagaimana?” tanyaku.

“Seperti… wanita biasa. Sedih sekali wajahnya.” Aku tidak menjawab.

Karena dalam dunia supranatural, tidak semua yang jahat lahir dari niat jahat. Beberapa… tercipta dari luka yang tak pernah sembuh.

Dan mungkin, di suatu tempat yang gelap dan sunyi, Sang Ratu Leak itu masih menangis—menunggu seseorang yang benar-benar mengerti penderitaannya.

Redaksi energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments