Senin, Agustus 10, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikMusik Keras di Restoran Bisa Bikin Kita Pilih Makanan Tak Sehat

Musik Keras di Restoran Bisa Bikin Kita Pilih Makanan Tak Sehat

Energi Juang News,Jakarta- Bayangkan Anda saat duduk santai di sebuah restoran. Aroma kentang goreng baru matang menguar dari dapur, lampu dibuat temaram, sementara daftar menu terbuka di depan mata. Anda sebenarnya berniat memesan salad. Namun, entah kenapa tangan justru menunjuk burger lengkap dengan kentang goreng dan minuman manis. Bisa jadi bukan sekadar soal selera. Ada sesuatu yang bekerja diam-diam di sekitar Anda: musik.

Selama ini musik di restoran mungkin dianggap sekadar pemanis suasana. Ada musik jazz untuk membuat ruangan terasa elegan, pop untuk membangun energi, atau instrumental lembut agar pelanggan betah berlama-lama. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa persoalannya bukan cuma genre. Musik keras ternyata dapat ikut memengaruhi cara konsumen menentukan makanan yang akan mereka pesan.

Penelitian yang dipimpin Dipayan Biswas dari University of South Florida mengamati hubungan antara volume musik dan pilihan makanan konsumen. Eksperimen dilakukan di sebuah kafe di Stockholm, Swedia, dengan memainkan berbagai genre musik dalam dua tingkat volume, yakni sekitar 55 desibel dan 70 desibel. Menu yang tersedia kemudian dikelompokkan menjadi makanan sehat, tidak sehat, dan netral seperti kopi atau teh.

Hasilnya cukup menarik. Ketika volume musik dinaikkan, proporsi pelanggan yang memilih makanan dalam kategori tidak sehat meningkat. Dalam eksperimen tersebut, peneliti menemukan sekitar 20 persen lebih banyak pelanggan memilih makanan tidak sehat ketika terpapar musik dengan volume lebih tinggi dibandingkan ketika berada dalam suasana yang lebih tenang. Pada volume 55 desibel, sekitar 42 persen item yang terjual masuk kategori tidak sehat. Angka itu meningkat menjadi sekitar 52 persen ketika volume mencapai 70 desibel.

Kenapa telinga bisa ikut campur dalam urusan burger versus salad?

Baca juga :  Musik dan Tari Zapin: Warisan Kreatif Tom Ibnur yang Mendunia

Penjelasannya berkaitan dengan gairah atau arousal. Volume suara yang lebih tinggi dapat meningkatkan stimulasi tubuh, termasuk detak jantung dan tingkat gairah. Dalam kondisi yang lebih terstimulasi, seseorang bisa menjadi kurang reflektif ketika mengambil keputusan. Akibatnya, makanan yang terasa lebih menggoda, gurih, manis, atau tinggi kalori bisa lebih mudah memenangkan pertandingan di dalam kepala. Sebaliknya, suasana dengan musik yang lebih lembut cenderung membuat konsumen lebih rileks dan lebih memperhatikan keputusan mereka.

Menariknya, penelitian tersebut bukan berarti setiap restoran yang memutar musik keras otomatis akan membuat semua orang memesan burger. Musik bukanlah remote control untuk otak manusia. Banyak faktor lain yang ikut bermain, mulai dari harga, rasa, kebiasaan makan, teman makan, tampilan makanan, hingga rasa lapar. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa suasana restoran dapat menjadi salah satu bagian dari persamaan ketika seseorang menentukan pilihan.

Di sinilah musik kemudian berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan bagian dari desain pengalaman pelanggan. Restoran sebenarnya sudah lama memainkan permainan ini. Tempo musik, genre, volume, bahkan pilihan lagu dapat digunakan untuk menciptakan karakter ruang. Restoran mahal mungkin memilih musik yang tenang agar pelanggan menikmati percakapan dan hidangan. Tempat makan cepat saji bisa menggunakan musik yang lebih energik untuk menciptakan suasana dinamis.

Dan rupanya, strategi tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan.

Beberapa restoran cepat saji di Inggris pernah menggunakan musik klasik untuk membantu mengurangi perilaku antisosial. Salah satu kasus yang banyak diberitakan terjadi di sebuah gerai McDonald’s di Shepherd’s Bush, London. Pemilik waralaba bekerja sama dengan pihak kepolisian dan pemerintah lokal, antara lain dengan memainkan musik klasik dan mematikan Wi-Fi pada waktu tertentu. Langkah tersebut dikaitkan dengan penurunan gangguan dan perilaku antisosial di lokasi tersebut.

Baca juga :  Sejarah Musik Ballad, Berasar dari Musik Rakyat

Fenomena serupa kembali muncul di Wrexham, Wales, pada 2023. Sebuah gerai McDonald’s berencana memainkan musik klasik, termasuk karya Beethoven, mulai sore hari untuk membantu menghadapi masalah perilaku antisosial. Wi-Fi gratis juga direncanakan dimatikan pada malam hari.

Jadi, musik di restoran ternyata punya cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar “lagunya enak didengar”.

Ada sisi psikologi di balik dentuman bass, petikan gitar, suara piano, atau gesekan biola yang terdengar dari speaker. Bahkan ketika kita tidak secara sadar memperhatikannya, lingkungan suara tetap dapat menjadi bagian dari pengalaman makan. Kita mungkin sibuk membaca menu, ngobrol dengan teman, atau memotret makanan untuk Instagram, sementara otak tetap menerima informasi dari suara yang mengelilingi kita.

Bagi restoran, temuan semacam ini tentu menarik. Musik bisa menjadi bagian dari strategi suasana dan pengalaman pelanggan. Tetapi bagi konsumen, ada satu pelajaran sederhana: lain kali ketika hendak makan, coba perhatikan bukan cuma apa yang ada di piring, tetapi juga apa yang terdengar dari speaker.

Sebab mungkin saja keputusan antara salad dan burger tidak sepenuhnya terjadi di meja makan.

Kadang, musik sudah memainkan bagian pertamanya bahkan sebelum pelayan datang membawa menu.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments