Energi Juang News,Jakarta- Lelaki cap apa Boneng, 52 dari Cengkareng (Jakbar) ini. Mentang-mentang lama menduda, pembantu cantik Tini, 19, dihamili sejak usia 16 tahun. Begitu hamil dan melahirkan, bayinya malah dijual. Majikan Bejat dan tak berperikemanusiaan.
Binis ya bisnis, tapi jangan pula ada pembantu yang yatim pitau sejak bocah malah disia-siakan. Nggak takut dosa?
Bayangkan, dosa yang ditanggung dari menggauli tanpa menikahi, apa lagi menghamili anak yatim dan tak memberi makan orang miskin, kalo diitung numpuk segunung kali.
Boneng adalah sosok majikan yang tak patut ditiru, menyia-nyiakan anak yatim. Dengan alasan Tini ini kelihatan cantik sejak ABG, dia jadi lupa daratan. Jadi PRT demi memperoleh uang gaji, malah sama sekali tak dibayar.
Giliran urusan ranjang, tak meminta pun Tini digauli berulangkali sampai melahirkan. Enak bagi majikan, tapi enek dan nyesek bagi sang pembantu.
Tini kerja di rumah Boneng sejak 3 tahun lalu ketika masih ABG. Tugasnya jaga toko milik majikannya. Tapi sialnya, sejak kali pertama bekerja sudah jadi korban perundungan seksual.
Saat dia ngepel lantai macam kucing ngeliat ikan asin langsung ditubruk dan kemudian digauli bak suami istri. Awalnya Tini menolak, tapi karena diacam mau dibikin wasalam, ya sudah….dia terpaksa menyerahkan “asset” miliknya yang paling berharga digarap Boneng majikannya. Kini kembang desa itu layu tak lagi wangi seperti dulu seperti lagu Tince Sukarti Binti Mahmud milik Iwan Fals.
Boneng memang orang yang telaten, tapi juga telaten menggauli Tini bukan saja di tokonya, di rumah pribadinya. Pembantu seksi ini juga jadi ajang pelampiasan syahwat meski bukan pelayan seksi sebagaimana si Inem. Terlalu seringnya menggauli PRT-nya, Boneng kaget tahu-tahu Tini bunting dan melahirkan.
Ironisnya, Boneng ini terlalu mengedepankan otak bisnisnya. Bayi yang lucu dan imut-imut ini kemudian dijual pada seseorang yang membutuhkan, harganya pun cuma harga perkenalan, Rp 10 juta tanpa PPN 11 persen. Atas perlakuan majikannya, Tini lapor ke pamannya dan kemudian meneruskan ke polisi.
Tak ayal majikan mata duitan ini ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui, sengaja menjalankan naluri bisnisnya. Ketika produknya diminati konsumen, ya langsung dijual saja, apa salahnya.
Dasar majikan berperi kebinatangan, puas menikmati kembang desa, saat panen malah dijual!
Redaksi Energi Juang News




