Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Geunteut: Teror Penculik Anak di Aceh

Misteri Hantu Geunteut: Teror Penculik Anak di Aceh

Energi Juang News, Aceh- Langit senja di Desa Blangpidie berubah kelabu ketika azan magrib berkumandang. Di desa kecil itu, anak-anak biasanya segera pulang ke rumah atau pergi mengaji. Namun malam itu, suasana berubah menjadi kepanikan yang tak pernah dilupakan warga.

Ansari, seorang warga setempat, masih mengingat dengan jelas malam yang terjadi sekitar setahun lalu itu.

“Aku ingat betul malam itu,” katanya suatu hari sambil menatap jauh. “Seusai salat magrib, tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang memanggil nama Jasman.”

Jasman adalah bocah berusia sebelas tahun yang dikenal ceria. Sore itu ia terlihat bermain di halaman rumahnya seperti biasa.

Ibunya, Darni, mengira anaknya masih di luar ketika senja mulai turun.

“Jasman! Masuk nak, sudah magrib!” teriak Darni dari pintu rumah.

Tidak ada jawaban.

Awalnya ia tidak terlalu khawatir. Ia mengira anaknya hanya bermain sedikit lebih jauh. Namun setelah beberapa menit memanggil tanpa jawaban, perasaan cemas mulai merayapi hatinya.

“Jasman! Jasman!” suaranya mulai bergetar.

Ia berlari ke halaman, menengok ke belakang rumah, lalu ke jalan kecil di samping rumah. Tidak ada siapa pun.

Darni mulai panik.

“Tolong! Anak saya hilang!” jeritnya sambil menangis.

Teriakan itu membuat warga sekitar berlarian keluar rumah. Dalam waktu singkat, halaman rumah Darni dipenuhi orang.

“Apa yang terjadi?” tanya seorang tetangga.

“Jasman… dia hilang. Tadi masih bermain di halaman,” kata Darni dengan napas tersengal.

Ansari yang mendengar keributan itu ikut keluar rumah.

“Semua sudah panik saat itu,” kenangnya. “Ibunya menangis sambil memanggil-manggil nama Jasman.”

Warga kemudian berpencar mencari. Sebagian menyusuri jalan desa, sebagian mendatangi rumah teman-temannya.

“Coba ke rumah Ridwan!” teriak seseorang.

Baca juga :  Misteri Jembatan Jiwan: Arwah Pengantin Baru yang Menghantui Malam

“Sudah dicek! Tidak ada!” sahut yang lain.

Waktu terus berjalan. Satu jam berlalu, lalu dua jam. Namun Jasman tak kunjung ditemukan.

Anehya, tidak ada yang langsung memikirkan kemungkinan yang lebih menyeramkan.

“Kami mengira dia hanya bersembunyi atau bermain ke rumah temannya,” kata Ansari. “Belum ada yang curiga hal lain.”

Namun ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam dan bocah itu tetap tidak ditemukan, kegelisahan berubah menjadi ketakutan.

Seorang warga tua kemudian berkata pelan.

“Bagaimana kalau kita azan di musala?”

Beberapa orang saling berpandangan.

“Azan?” tanya seseorang.

“Iya… untuk berjaga-jaga.”

Akhirnya usul itu disetujui.

Tak lama kemudian, suara azan berkumandang dari musala kecil di ujung desa.

Suasana desa yang sunyi malam itu terasa semakin mencekam.

Setelah azan selesai, warga kembali menyisir daerah sekitar rumah Jasman.

Tiba-tiba seorang pemuda berteriak.

“Di sini! Ada orang di sini!”

Warga berlari menuju sumber suara.

Di bawah sebuah rumah panggung kayu tua yang sudah lama kosong, mereka menemukan Jasman tergeletak tak sadarkan diri.

“Ya Allah… ini Jasman!” kata seseorang terkejut.

Yang membuat mereka merinding adalah satu hal.

Rumah itu hanya berjarak sekitar sebelas meter dari rumah Jasman yang sebelumnya sudah diperiksa.

“Tadi kami sudah cek tempat ini,” kata seorang warga dengan wajah pucat. “Tapi tidak ada siapa pun.”

Darni langsung memeluk anaknya sambil menangis.

“Jasman… bangun nak…”

Beberapa menit kemudian bocah itu mulai sadar.

Begitu membuka mata, ia langsung menangis keras.

“Ada apa, nak?” tanya ibunya.

Dengan suara gemetar Jasman berkata,

“Ada bayangan hitam… dia datang cepat sekali…”

“Bayangan apa?” tanya seorang warga.

“Hitam… besar… tiba-tiba datang… lalu aku tidak ingat apa-apa…”

Baca juga :  Menguak Misteri Alas Purwo, Hutan Tertua dan Paling Angker di Pulau Jawa

Sejak malam itu, bisik-bisik tentang sosok gaib kembali beredar di desa.

Sebagian warga percaya bahwa Jasman hampir menjadi korban makhluk yang selama ini hanya hidup dalam cerita orang tua mereka.

Makhluk yang dikenal dengan nama Geunteut.

Beberapa tahun kemudian, kejadian yang tak kalah aneh terjadi lagi di desa yang tidak jauh dari sana.

Jamaluddin, seorang petani dari Desa Mataie, mengalami malam yang paling menakutkan dalam hidupnya.

Putranya, Safri, yang saat itu berusia sepuluh tahun, pamit pergi mengaji seperti biasa.

“Pak, Saf pergi mengaji dulu,” kata Safri sambil membawa sepeda barunya.

“Jangan pulang terlalu malam,” jawab Jamaluddin.

Masjid tempat ia mengaji hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah.

Namun malam itu, sesuatu yang aneh terjadi.

Pukul sembilan malam berlalu. Safri belum pulang.

Jamaluddin masih berpikir positif.

“Mungkin dia bermain sepeda sebentar,” katanya pada istrinya.

Namun ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam, kegelisahan mulai muncul.

Ia segera pergi ke tempat pengajian.

“Teungku, Safri masih di sini?” tanyanya kepada guru ngaji.

Sang ustaz menggeleng.

“Safri tidak datang malam ini.”

Jamaluddin langsung pucat.

“Apa?”

Ia berlari pulang dengan jantung berdebar.

“Istriku! Safri tidak pergi mengaji!” katanya panik.

Istrinya langsung menangis.

“Ya Allah… anak kita!”

Warga kembali berkumpul seperti kejadian Jasman dulu.

Mereka mulai mencari ke seluruh desa.

Di tengah pencarian, seorang pemuda bernama Kasman datang dengan wajah tegang.

“Saya tadi melihat Safri,” katanya.

“Di mana?!” tanya Jamaluddin.

“Dia naik sepeda… tapi aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Matanya kosong… saya panggil tidak menjawab. Dia terus mengayuh sepeda ke arah luar desa.”

Semua orang terdiam.

Istri Jamaluddin bahkan pingsan mendengar cerita itu.

Baca juga :  Pasar Setan dan Suara Gamelan di Gunung Arjuno yang Bikin Merinding

Pencarian berlangsung sepanjang malam hingga pagi.

Namun Safri tidak ditemukan.

Hari kedua, pencarian diperluas ke desa-desa tetangga.

Foto Safri diperlihatkan kepada banyak orang. Bahkan Jamaluddin sempat mendatangi seorang dukun.

Namun hasilnya nihil.

“Apa anakku masih hidup…” bisik istrinya sambil menangis.

Jamaluddin hanya bisa menatap kosong.

Meski begitu, ia tetap percaya sesuatu.

“Saya tidak tahu kenapa… tapi saya yakin anak saya akan pulang,” katanya.

Namun hingga dua hari berlalu, Safri belum juga ditemukan.

Di desa itu, satu nama mulai kembali disebut dengan suara pelan.

Geunteut.

Makhluk yang menurut legenda Aceh suka menculik anak-anak ketika senja tiba.

Warga percaya makhluk itu muncul sebagai bayangan hitam yang bergerak sangat cepat. Korbannya biasanya kehilangan kesadaran atau berjalan seperti orang yang sedang dikendalikan.

Tidak ada yang tahu dari mana makhluk itu berasal.

Dan sampai sekarang, sebagian warga desa masih meyakini satu hal.

Jika magrib tiba, jangan biarkan anak-anak bermain sendirian di luar rumah.

Karena di balik gelapnya senja, sesuatu mungkin sedang mengawasi.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments