Pernahkah Anda berjalan di pinggir jalan dan melihat deretan pedagang yang berjualan dari pagi hingga malam? Mulai dari penjual bakso, nasi goreng, hingga minuman kemasan, semuanya terlihat sibuk melayani pembeli. Pemandangan seperti ini sering kita anggap sebagai cerminan tingginya jiwa kewirausahaan masyarakat Indonesia. Tapi, pernahkah kita bertanya lebih dalam: apakah dengan semakin banyaknya orang yang berjualan, masalah pengangguran otomatis selesai? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Bayangkan, jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak bekerja justru semakin meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional menunjukkan angka yang cukup mencengangkan. Pada Agustus 2022, pengangguran dari kalangan sarjana tercatat 7,89 persen. Namun, pada Februari 2026, angkanya melonjak drastis menjadi 14,27 persen. Bahkan hingga Mei 2026, dari 7,22 juta orang yang menganggur, lebih dari satu juta di antaranya adalah lulusan S-1, S-2, dan S-3. Ini bukan angka kecil, melainkan sinyal bahwa ada masalah serius dalam penyerapan tenaga kerja terdidik.
Yang menarik, saat tingkat pengangguran sarjana naik, jumlah orang yang memilih membuka usaha sendiri juga ikut bertambah. BPS mencatat, pada Agustus 2020 ada sekitar 26,2 juta orang yang berwirausaha sendiri. Lima tahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 31,4 juta orang. Ini adalah pertumbuhan tertinggi dibandingkan jenis pekerjaan lain, dengan rata-rata kenaikan 3,7 persen setiap tahunnya.
Survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada April 2026 juga memberikan gambaran serupa. Dari mereka yang terkena PHK, hampir 20 persen memilih untuk memulai usaha sendiri. Ini menjadi pilihan kedua terpopuler setelah mencari pekerjaan kembali. Artinya, banyak orang terjun ke dunia wirausaha bukan karena panggilan jiwa atau perencanaan bisnis yang matang, melainkan karena terpaksa. Mereka butuh uang untuk makan dan membayar sewa, sehingga berjualan menjadi jalan pintas.
Kondisi inilah yang kemudian memunculkan dua jenis wirausaha yang sangat berbeda. Seorang ahli ekonomi bernama Antoinette Schoar dalam tulisannya “The Divide between Subsistence and Transformational Entrepreneurship” membedakan keduanya. Pertama, ada wirausaha subsisten. Ini adalah usaha yang lahir dari kebutuhan perut. Orang yang termasuk dalam kelompok ini biasanya berjualan dengan modal kecil, tanpa perencanaan yang jelas, dan hanya bertujuan untuk bertahan hidup. Mereka tidak memikirkan pengembangan bisnis, perluasan pasar, atau inovasi produk. Yang penting, hari ini bisa makan.
Kedua, ada wirausaha transformasional. Ini kebalikannya. Usaha jenis ini dibangun dari ide yang matang, riset pasar yang cukup, dan orientasi pada pertumbuhan. Pelakunya tidak hanya ingin bertahan, tetapi ingin berkembang, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Masalahnya, di Indonesia, jenis pertama jauh lebih mendominasi. Coba perhatikan, lebih mudah menemukan 20 orang yang berjualan minuman di pinggir jalan daripada menemukan satu kafe yang mempekerjakan 20 orang. Ini bukan sekadar masalah jumlah, melainkan masalah kualitas dan potensi pertumbuhan ekonomi ke depan.
Penelitian dari Rafael La Porta dan Andrei Shleifer dalam jurnal “Informality and Development” menyebutkan bahwa usaha informal seperti pedagang kaki lima tidak bisa begitu saja disamakan dengan usaha formal yang baru berdiri. Memberikan modal atau pelatihan saja tidak cukup untuk membuat mereka naik kelas. Sebab, usaha informal dan formal sebenarnya beroperasi di dua dunia yang berbeda, dengan karakteristik, akses pasar, dan tingkat produktivitas yang tidak sama.
Studi lain yang dilakukan oleh Rothenberg bersama rekan-rekannya dalam “Rethinking Indonesia’s Informal Sector” menemukan fakta menarik. Mereka mengungkap bahwa banyak pelaku usaha informal di Indonesia justru tidak ingin mengembangkan usahanya. Bukan karena malas, tetapi karena mereka sadar bahwa jika usaha mereka membesar, akan muncul kewajiban-kewajiban baru seperti membayar pajak, mengurus izin, dan mematuhi aturan ketenagakerjaan. Beban ini seringkali dirasa lebih berat daripada manfaat yang diperoleh dari ekspansi bisnis. Akibatnya, mereka memilih tetap kecil dan aman.
Kenyataan lain yang tak kalah penting adalah soal kesejahteraan. Data dari Sensus Ekonomi tahun 2016 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan bersih pedagang atau pelaku usaha sendiri hanya sekitar Rp 1,62 juta per bulan. Di Jakarta, angkanya memang lebih tinggi, sekitar Rp 3,13 juta, tetapi itu hanya sedikit di atas upah minimum provinsi pada masa itu. Di daerah lain, kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Ini berarti, meskipun mereka bekerja setiap hari, penghasilan yang didapat seringkali masih di bawah standar hidup layak.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Bukan berarti kita melarang orang untuk berdagang atau membuka usaha sendiri. Tentu tidak. Yang perlu diubah adalah cara pandang dan kebijakan. Pemerintah tidak cukup hanya dengan mengampanyekan “jadilah pengusaha” atau memberikan pelatihan singkat. Kebijakan harus lebih cerdas dan terarah.
Pertama, diperlukan penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas. Jangan biarkan lulusan sarjana hanya punya dua pilihan: menganggur atau berjualan di pinggir jalan. Kedua, bagi mereka yang benar-benar punya potensi dan keinginan untuk membangun usaha, berikan pendampingan yang serius. Bedakan antara pengusaha yang butuh modal agar bisa bertahan hidup dengan pengusaha yang butuh modal agar bisa berkembang. Karena keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Ketiga, perbaiki iklim usaha. Permudah perizinan, berikan insentif bagi usaha kecil yang ingin naik kelas, dan kurangi birokrasi yang berbelit-belit. Dengan begitu, transisi dari usaha kecil ke usaha menengah menjadi lebih menarik dan tidak menakutkan.
Pada akhirnya, wirausaha adalah tentang pertumbuhan, bukan sekadar bertahan. Jika semakin banyak orang berjualan karena terpaksa, itu hanya akan menciptakan lautan usaha kecil yang stagnan. Tapi jika wirausaha dibangun dengan perencanaan dan orientasi pada masa depan, maka ia akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya. Karena itu, mari kita ubah cara kita memandang kewirausahaan. Bukan sebagai pelarian saat sulit, melainkan sebagai pilihan yang lahir dari persiapan dan mimpi besar untuk berkembang.
Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)




