Paus Leo XIV yang kini beradu retorika Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menjadi sorotan dunia internasional. Ketegangan ini diawali pernyataan keras Trump yang menyebut Paus sebagai “lemah dalam kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”, serta klaim bahwa terpilihnya Paus Leo XIV sebagai pontiff pertama asal Amerika Serikat merupakan buah dari pengaruhnya, bukan sekadar polemik personal.
Lebih jauh, ini mencerminkan benturan ideologis antara kekuatan politik global dan otoritas moral keagamaan.
Respons Paus Leo XIV yang tenang—menyatakan bahwa ia “tidak takut pada pemerintahan Trump” dan akan terus menyuarakan perdamaian—menegaskan posisi Gereja sebagai institusi moral yang berdiri di atas kepentingan politik jangka pendek. Sikap ini dapat dibaca sebagai manifestasi perjuangan agama untuk keadilan global dan penolakan terhadap imperialisme yang mengandalkan konflik bersenjata.
Agama sebagai Otoritas Moral Global
Dalam perspektif sosiologi agama, Max Weber menjelaskan bahwa agama memiliki bentuk otoritas karismatik yang mampu memengaruhi tindakan sosial, bahkan melampaui kekuatan negara.
Paus, sebagai pemimpin Gereja Katolik, tidak hanya berbicara kepada umatnya, tetapi juga kepada komunitas global mengenai nilai-nilai universal seperti perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.
Ketika Paus Leo XIV menolak retorika konfrontatif dan tetap konsisten pada pesan damai, ia sedang menjalankan fungsi agama sebagai moral compass dunia. Ini menjadi penting di tengah politik global yang kerap didominasi oleh logika kekuasaan dan kepentingan nasional sempit.
Kritik terhadap Imperialisme dan Politik Kekuasaan
Pernyataan Trump dapat dipahami dalam kerangka realisme politik, sebagaimana dikemukakan oleh Hans Morgenthau, yang menempatkan kekuasaan sebagai inti hubungan internasional. Dalam logika ini, kebijakan luar negeri dinilai dari efektivitasnya dalam memperkuat dominasi negara.
Namun, pendekatan ini seringkali berbenturan dengan nilai-nilai etis yang diusung agama. Kritik Paus—meski disampaikan secara implisit melalui seruan perdamaian—merupakan bentuk resistensi terhadap praktik imperialisme modern yang sering memicu perang, baik secara langsung maupun melalui proxy.
Sejarah menunjukkan bahwa intervensi politik global yang didorong oleh ambisi kekuasaan kerap berujung pada konflik berkepanjangan. Dalam konteks ini, sikap Paus Leo XIV menjadi representasi dari apa yang oleh Jürgen Habermas disebut sebagai komunikasi rasional, yaitu upaya membangun dialog berbasis etika, bukan dominasi.
Ketegangan sebagai Manifestasi Dialektika Moral vs Kekuasaan
Ketegangan antara Paus Leo XIV dan Donald Trump bukanlah anomali, melainkan bagian dari dialektika klasik antara moralitas dan kekuasaan. Antonio Gramsci menyebut bahwa dominasi tidak hanya bersifat material, tetapi juga kultural dan ideologis.
Dalam hal ini, agama berperan sebagai kekuatan kontra-hegemonik yang menantang narasi dominan kekuasaan.
Paus Leo XIV, dengan sikapnya yang tidak gentar, sedang membangun narasi alternatif: bahwa dunia tidak harus tunduk pada logika kekuatan militer dan ekonomi, melainkan dapat diarahkan oleh nilai-nilai kemanusiaan universal.
Implikasi bagi Perdamaian Dunia
Dalam konteks global yang rentan konflik, suara agama seperti yang disuarakan Paus Leo XIV menjadi semakin relevan. Ketika pemimpin politik menggunakan retorika yang berpotensi memecah belah dan memicu ketegangan internasional, peran institusi keagamaan sebagai penyeimbang menjadi krusial.
Ketegangan ini juga memberikan pelajaran bahwa legitimasi moral tidak selalu sejalan dengan legitimasi politik. Bahkan, dalam banyak kasus, keduanya justru berseberangan. Di sinilah agama memainkan peran penting sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa etika dapat membawa dunia ke jurang peperangan.
Maka, sejatinya ketegangan antara Paus Leo XIV dan Donald Trump mencerminkan lebih dari sekadar konflik personal; ia adalah simbol pertarungan antara nilai-nilai kemanusiaan universal dan ambisi kekuasaan global. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, suara agama yang konsisten memperjuangkan perdamaian dan keadilan menjadi harapan penting bagi masa depan umat manusia.
Dengan demikian, sikap Paus Leo XIV bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral yang menantang arus imperialisme modern—sebuah keberanian yang justru semakin langka di panggung politik global saat ini.
Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Redaksi Energi Juang News



