Energi Juang News, Bandung- Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan H. Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) mempertanyakan kinerja Kapolda Jawa Barat dan Kepala BNNP Jawa Barat dalam membongkar bandar besar narkoba di Jawa Barat.
Dalam sebuah rapat kerja, Gus Falah menyoroti angka kriminalitas narkoba yang mencapai ribuan kasus namun masih menyisakan tanda tanya besar terkait penangkapan aktor intelektualnya.
Gus Falah menekankan bahwa penanganan narkoba tidak boleh hanya menyentuh permukaan atau pengedar kelas teri saja. Ia mendorong aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan hingga ke akar-akarnya.
”2025 itu kan ada 3.451 kasus narkoba, tetapi di dalamnya, apakah sudah ada bandar besar yang saat ini sudah ditangkap? Saya minta ini terus diselidiki dan dikawal!” tegas Gus Falah.
Beliau juga mengingatkan kembali memori kelam mengenai pabrik obat keras ilegal yang pernah diungkap di Tasikmalaya, yang memproduksi jutaan butir obat jenis PCC.
”Dulu di Tasikmalaya itu ada yang bikin obat psikotropika sejenis PCC. Jumlahnya jutaan, dan bahan bakunya diimpor dari India dan Cina. Saya minta alur masuk narkoba dan upaya pemberantasannya dijelaskan secara transparan!” tambahnya.
Gus Falah berharap Polda Jabar dan BNNP Jabar dapat meningkatkan kolaborasi untuk melakukan pencegahan secara masif. Ia menegaskan bahwa tanpa penangkapan “Bandar Besar” dan pemutusan rantai pasokan bahan baku dari luar negeri, angka ribuan kasus setiap tahunnya hanya akan menjadi statistik tanpa memberikan efek jera yang signifikan.
”Jangan sampai Jawa Barat menjadi pusat produksi obat-obat terlarang lagi. Kita harus melindungi generasi muda, terutama anak-anak sekolah yang menjadi target utama mereka,” tutup Gus Falah.
Redaksi Energi Juang News



