Energi Juang News, Bandung–Di Bandung cuaca sedang hujan gerimis malam itu, Mira berada sendirian di kamar kosnya di dekat kampusnya yang sederhana, hanya ditemani lampu redup dan suara napasnya sendiri. Kamar berukuran sempit itu terasa biasa saja, dengan dinding kusam dan aroma kayu lembap. Tidak ada tanda-tanda keanehan, tidak ada firasat buruk. Mira sempat berpikir malam itu akan berlalu tenang, tanpa menyadari bahwa kesunyian sering kali menjadi pintu masuk bagi sesuatu yang tidak kasatmata.
Di sudut kamar, berdiri sebuah cermin besar yang sudah ada sejak ia pertama menyewa kos tersebut. Posisi cermin itu tepat menghadap tempat tidur, membuat Mira sering melihat pantulan dirinya sendiri saat berbaring. Sambil mendengarkan musik melalui ponsel, ia berusaha mengusir rasa sepi. “Tenang saja, cuma capek,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri bahwa rasa gelisah itu hanya perasaan sementara.
Tanpa peringatan, musik di ponselnya mati sendiri. Mira mengernyit dan menekan layar, namun sebelum sempat menyalakannya kembali, terdengar suara pelan seperti bisikan. “Mungkin dari luar,” pikirnya. Ia menoleh ke jendela yang tertutup rapat. Bisikan itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Jantungnya berdebar. “Ada siapa?” tanyanya pelan, meski ia tahu tidak ada orang lain di kamar itu.
Dengan tangan gemetar, Mira menurunkan ponsel dan memusatkan pendengarannya. Bisikan itu semakin jelas, menyebut namanya dengan nada yang tidak ia kenali. “Mira… lihat sini.” Suara itu terdengar datar, dingin, seperti berasal dari tenggorokan yang sudah lama tidak bernapas. Tubuhnya membeku, bulu kuduknya berdiri. Ia sadar, suara itu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam kamarnya sendiri.
Perlahan, Mira mengalihkan pandangannya ke arah cermin. Pantulan dirinya terlihat pucat, namun ada sesuatu yang salah. Bayangan itu bergerak sedikit terlambat, seolah tidak sepenuhnya mengikuti gerak tubuhnya. Senyum tipis muncul di wajah pantulan itu, senyum yang tidak ia buat. Bibir bayangan tersebut bergerak dan berkata lirih, “Aku sudah lama di sini, menunggumu.” Suaranya menggema, seakan berasal dari ruang kosong di balik kaca.
Mira menjerit dan berlari keluar kamar tanpa sempat mengambil apa pun. Di lorong kos, ia bertemu ibu pemilik kos yang terkejut melihat wajahnya pucat. “Kenapa, Nak?” tanya sang ibu. Dengan napas tersengal, Mira menceritakan semuanya. Ibu kos terdiam sejenak lalu berbisik, “Sejak dulu, kamar itu memang sering bikin penghuni ketakutan, tapi jarang yang berani cerita.”
Keesokan harinya, Mira berbincang dengan Wenni teman kampus sekaligus tetangga kos yang sudah lama tinggal di sana. Tiba tiba tetangga ada seorang bapak tua berkata pelan, “Dulu ada penghuni yang meninggal sendirian di kamar itu, katanya sering menatap cermin.” Warga lain menimpali, “Arwahnya dipercaya terjebak, mencari teman.” Cerita-cerita itu membuat Mira sadar bahwa kejadian semalam bukan sekadar halusinasi atau kelelahan.
Makna seram dari sosok di balik cermin itu perlahan terasa jelas. Ia bukan sekadar penampakan, melainkan simbol kesepian yang menumpuk dan tidak pernah dilepaskan. Arwah itu digambarkan warga sebagai bayangan yang meniru manusia, namun kehilangan kehangatan hidup. Setiap bisikannya membawa rasa dingin, seolah mengingatkan bahwa ada dunia lain yang berdampingan, menunggu saat lengah.
Sejak kejadian itu, Mira memutuskan pindah kos. Namun trauma tetap melekat. Ia tidak pernah lagi menatap cermin terlalu lama. “Kadang aku masih dengar bisikan,” katanya pada seorang teman. Temannya menjawab lirih, “Mungkin tidak semua yang pergi benar-benar pergi.” Kisah ini pun menyebar pelan di kalangan warga sebagai peringatan bagi siapa pun.
Kini, suara dunia lain di balik cermin menjadi cerita yang sering dibisikkan di lingkungan kos tersebut. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua pantulan adalah diri kita sendiri. Ada kalanya, cermin hanya menjadi batas tipis antara dunia manusia dan sesuatu yang menunggu untuk diperhatikan, dalam diam yang paling menyeramkan.
Redaksi Energi Juang News



