Energi Juang News,Jakarta- Di tengah derasnya arus musik pop yang didominasi kisah percintaan, selalu ada ruang bagi musisi yang memilih jalur berbeda. Ada yang berani mengangkat keresahan sosial, pengalaman hidup, hingga kehilangan dengan cara yang sederhana tetapi mengena. Justru karena keberanian itulah, karya-karya seperti ini terasa lebih dekat dengan pendengar yang mencari makna di balik setiap lirik.
Salah satu nama yang semakin mencuri perhatian adalah Enau. Musisi kelahiran 1993 ini berhasil membangun identitas sebagai penyanyi folk/pop yang tidak sekadar membuat lagu enak didengar, tetapi juga mengajak pendengarnya berpikir. Sejak debut melalui single “Keringatku” pada 2018, Enau konsisten menghadirkan karya yang berbicara tentang kehidupan sehari-hari, kritik sosial, hingga perjuangan manusia menghadapi realitas.
Nama Enau sendiri merupakan nama panggung dari Putra Lesmana, adik kandung musisi Ari Lesmana. Menariknya, meski memiliki kemiripan fisik maupun warna suara dengan sang kakak, Enau tidak pernah memiliki ambisi mengikuti jejaknya menjadi musisi besar. Baginya, bermusik adalah cara menikmati hidup sekaligus mencari nafkah dari sesuatu yang benar-benar dicintainya.
Konsep musikal Enau juga lahir dari banyak diskusi bersama Ari Lesmana. Keduanya sepakat bahwa industri musik Indonesia sudah dipenuhi lagu-lagu cinta, sementara lagu bertema kritik sosial masih relatif sedikit. Dari situlah lahir karakter Enau yang kini dikenal lewat lirik-lirik lugas, sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam.
Tak heran jika banyak pendengar menyebut lirik Enau mengingatkan pada gaya Iwan Fals. Lagu seperti “Keranjang”, “Negara Lucu”, “Krisis Solusi”, hingga “Bersamaku Akan Sedikit Susah” sama-sama menyuarakan kondisi sosial dengan bahasa yang mudah dipahami. Namun, Enau menegaskan bahwa kemiripan itu bukan sesuatu yang disengaja. Pilihan diksi dalam lagunya justru banyak lahir dari obrolan santai bersama teman-teman tongkrongan dan pengalaman hidup sejak kecil.
Nama “Enau” sendiri ternyata memiliki kisah yang cukup personal. Nama tersebut diambil dari kompleks tempat tinggal masa kecil Putra Lesmana. Di sanalah ia mengalami berbagai fase kehidupan yang membentuk karakter, mulai dari jatuh bangun keluarga hingga kecintaannya terhadap musik. Lingkungan itu menjadi sumber inspirasi yang terus terbawa hingga sekarang.
Kecintaan Enau terhadap musik juga tumbuh dari rumah. Ia mengenang kedua orang tuanya yang gemar mendengarkan lagu-lagu Pance Pondaag, Broery Marantika, Dewi Yull, hingga musisi Minang seperti Zalmon dan Ucok Sumbara. Beragam referensi musik tersebut membentuk selera bermusiknya yang kini memadukan nuansa folk dengan lirik yang sangat membumi.
Salah satu karya terbaru yang paling banyak diperbincangkan adalah “Sesi Potret”, hasil kolaborasinya bersama Ari Lesmana yang dirilis bertepatan dengan momen Lebaran tahun ini. Lagu tersebut langsung menyentuh hati banyak pendengar karena mengangkat pengalaman kehilangan orang tercinta untuk selamanya. Lirik seperti “Kubertamu ke rumah barumu, tak ada kamu, hanya papan dan namamu” menggambarkan rasa rindu yang begitu dalam ketika seseorang hanya bisa mengenang sosok yang telah pergi.
Bagian lain yang paling emosional berbunyi, “Sesi potret yang selalu kubenci, aneh rasanya kau tak di sini, susunan barisannya tak sama lagi.” Kalimat sederhana itu menggambarkan momen foto keluarga yang kini terasa kosong karena satu anggota keluarga telah tiada. Tak sedikit warganet mengaku menangis ketika pertama kali mendengarkan lagu tersebut karena merasa kisahnya begitu dekat dengan pengalaman pribadi.
Meski dikenal lewat lagu-lagu yang emosional, Enau juga tetap konsisten menyuarakan kritik sosial. Lagu “Ijazah”, misalnya, lahir dari kisah nyata sahabatnya yang terus ditanya calon mertua soal kapan lulus kuliah. Pengalaman itu membuat Enau mempertanyakan anggapan bahwa kesuksesan seseorang hanya ditentukan oleh selembar ijazah. Menurutnya, kerja keras, proses, dan kemampuan seseorang jauh lebih penting dibanding sekadar status pendidikan formal.
Perjalanan Enau menuju titik sekarang juga bukan cerita instan. Ia sudah mulai bermusik sejak 1999 dan melewati berbagai fase sulit sebelum akhirnya dikenal luas. Ketika kariernya mulai menunjukkan perkembangan, pandemi justru datang dan membuat banyak rencana harus dimulai kembali dari nol. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa perjuangan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan seorang musisi.
Di era digital saat ini, Enau melihat perubahan besar dalam industri musik. Kehadiran platform streaming, media sosial, live session, hingga podcast membuka lebih banyak kesempatan bagi musisi independen untuk memperkenalkan karya. Menurutnya, setiap zaman memiliki tantangan masing-masing, sehingga musisi harus mampu beradaptasi agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas.
Meski demikian, ada satu hal yang menurut Enau belum bisa tergantikan oleh teknologi, yaitu tampil langsung di atas panggung. Interaksi dengan penonton, mendengar mereka bernyanyi bersama, hingga merasakan energi konser menjadi pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh layar gawai. Karena itulah, ia masih menjadikan pertunjukan langsung sebagai momen paling berharga dalam perjalanan bermusiknya.
Di balik semua pencapaiannya, Enau tetap menyimpan mimpi untuk suatu hari bisa berkolaborasi dengan Iwan Fals, sosok yang banyak dikagumi publik karena keberanian menyampaikan kritik sosial melalui musik. Semangat itu sejalan dengan prinsip Enau yang percaya bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Menutup berbagai wawancara yang pernah dijalaninya, Enau selalu menyampaikan pesan sederhana bagi siapa pun yang sedang mengejar mimpi. Ia mengajak anak muda agar tidak takut menerima kritik, tetap konsisten berkarya, dan tidak mudah menyerah hanya karena komentar orang lain. Baginya, karya yang lahir dari kejujuran akan selalu menemukan pendengarnya sendiri. Pesan itulah yang membuat perjalanan Enau terasa relevan, bukan hanya bagi penikmat musik folk, tetapi juga bagi siapa saja yang sedang berjuang mewujudkan impian.
Redaksi Energi Juang News




