Energi Juang News,Jember- Bagi Bendot, 30, sopir angkot dari Jember ini, Minthul, 27, adalah segalanya. Maka meski sudah bukan istri masih dimonitoring terus. Ketika tahu eks istri pacaran dan disetubuhi kakak ipar, kalaplah dia. Istri dianiaya dan diancam pakai clurit, semetara kakak iparnya masuk target. Untung polisi segera bertindak.
Ketika talak sudah jatuh, baik itu hanya satu maupun tiga, bekas suami tak punya lagi wewenang atas bekas istri. Janda itu mau nungging, jungkir balik maupun telentang sebodo amat! Biarkan saja! Tapi ada lho, bekas suami yang lagaknya seperti PPATK (Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan) saja. Kalau PPATK mencermati lalulintas duit orang, sedangkan si duda masih kepo aja atas dinamika kehidupan bekas istri. Padahal itu justru membikin jiwa semakin merana.
Nah, Bendot warga Jember ini setali tiga uang. Dia sudah bercerai beberapa bulan lalu dengan Minthul. Masalahnya klasik, stabilitas ekonomi yang terganggu sejak wabah PHK melanda seluruh negeri. Gara-gara penumpang berkurang, uang yang dibawa ke rumah juga berkurang. Minthul tak tahan hidup menderita, sehingga dia menggugat cerai dan dikabulkan hakim Pengadilan Agama.
Sebetulnya Bendot masih cinta pada Minthul, tapi keputusan PA sudah jatuh. Mau bandingke peradilan agama tak punya uang, Bendot nyerah tanpa upaya hukum macam banding, kasasi maupun PK. Sekali jatuh talak, ya sudah bablas dan wasalam istri kita. Hanya kalau ada nasib baik saja, kemudian terjadi srabi kecemplung kalen alias timbang rabi aluwung balen (ketimbang kawin lagi lebib baik rujuk).
Bendot memang bertekad, jika pertumbuhan ekonominya meningkat lagi jadi 4 persen saja, dia akan mengajak rujuk Minthul. Ini sah-sah saja, lha wong pemerintah saja bisa kembali ke UUD 1945 setelah didekrit Presiden Sukarno (5 Juli 1959). Untuk itulah dia selalu memonitoring perkembangan kehidupan bekas istrinya. Bendot selalu berdoa, jangan sampai status istrinya jadi SOLD (terjual) jika istilah internet.
Tiba-tiba dia dengar kabar, Minthul dipacari pripean atau kakak ipar Bendot yang lain. Wah, ini sebuah ancaman, ini kan jadi seperti Rusia yang tak rela Ukraina masuk NATO. “Awas kau, jika sampai pacaran sama Pairun, tak jadikan Ukraina kamu.” Ancam Bendot dalam hati. Dan sejak itu usaha monitoring terhadap Minthul semakin ditingkatkan. Jika tehnik memungkinkan, depan rumah Minthul mau dipasangi CCTV biar bisa dimonitor setiap saat.
Beberapa hari lalu dia melihat Minthul diboncengkan Pairun. Dengan segera dia membuntuti pakai sepeda motor. Ternyata mereka menuju ke sebuah rumah yang jelas bukan rumah Pairun. Pikiran Bendot pun mulai macem-macem. Dugaan telah terjadinya koalisi ternyata benar, dan rupanya ini akan terjadi eksekusi. “Saya harus bentuk Dewan Kopral untuk menggagalkan eksekusi ini,” batin Bendot.
Ketika dia berhasil mengintip ke dalam, ya ampuuun…..nun jauh di seberang sana tampaklah Minthul sedang ditindih Pairun bekas kakak ipar Bendot. Kaki pun langsung tremor (gemetar). Dia dobrak pintu, berhasil masuk tetapi Pairun sudah kabur duluan. Tinggal Minthul yang jadi bulan-bulanan. Bukan hanya ditempeleng, tapi juga diinjak-injak macam kedele mau dibuat tahu.
Tak hanya itu, Minthul juga diancam dengan celurit. “Untung saya masih sabar, kalau nggak, kamu sudah saya khekkkk……!” kata Bendot sembari menggerakkan celurit itu ke lehernya. Sambil ngeloyor dia masih sempat memukulkan gagang celurit itu ke jidat Minthul…….thuk! Dan pergilah Bendot, karena ketajaman celurit ini mau dialokasikan buat Pairun yang telah berhasil menggoyang bekas istrinya.
Tentu saja Minthul tidak terima, setelah masuk zona aman dia segera langsung melapor ke Polisi. Kontan sopir angkot itu dijemput ke rumahnya. Tak hanya itu, di rumahnya juga ditemukan kendil berisi tuak untuk mabuk ria. Apa ini? Terus terang dia mabuk karena stress diceraikan istri. “Ini cara pelarian saya dari masalah, Pak.” Kata Bendot.
Istri tak kembali kepangkuan ibu pertiwi, giliran Bendot masuk bui jadi samsak penhuni bui yang lain karena beraninya hanya ke Perempuan.
Mestinya Bendot ngadu ke Kantor Pegadaian,karena dia yang ahli selesaikan masalah tanpa masalah. Bukannya nambah masalah.
Redaksi Energi Juang News




