Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaLangkah yang Tak Pernah Reda: Misteri Lorong Benteng Van den Bosch (Pendem)...

Langkah yang Tak Pernah Reda: Misteri Lorong Benteng Van den Bosch (Pendem) Ngawi

Energi Juang News, Jakarta – Langit sore di Kelurahan Pelem mulai meredup saat Ardi dan dua temannya Wigo, Reno tiba di gerbang Benteng Van den Bosch, bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang berdiri megah dan sepi.

Mereka datang bukan sekadar berwisata, melainkan ingin “menyusuri sisi lain” dari benteng yang katanya menyimpan ribuan cerita gaib dan kengerian didalamnya.

Menjelang sore mereka berniat memulai penelusuran, namun di pintu masuk benteng ada seorang yang dikenal penjaga parkir benteng itu bertanya ke mereka.

“Mas, beneran mau masuk pas maghrib gini?” tanya Pak Slamet, penjaga parkir setempat dengan nada setengah berbisik.

Pak Slamet heran apa mereka tak mengetahui ada keganjilan dan keanehan muncul dibenteng itu.

Ardi mengangguk sambil tersenyum tipis. “Cuma sebentar, Pak. Kami mau ambil gambar di lorong bawah tanahnya.”

Pak Slamet menatap tajam, lalu berkata pelan mengingatkan, “Kalau kalian mendengar suara derap sepatu jangan sekalipun nengok ke belakang. Apapun yang terjadi kalian harus terus jalan.”

Ardi sempat tertawa kecil, mengira Pak Slamet hanya menggertak. Tapi di balik matanya yang keriput, terlihat ketakutan yang tidak dibuat-buat. Pak Slamet menangkap keinginan kuat ketiga pemuda itu akhirnya ia mempersilahkan.

Mereka mulai menjelajah. Lorong bawah tanah itu dingin, lembab dan sunyi. Cahaya senter temaram menyentuh dinding berlumut dan jeruji besi tua ruang penjara.

Penjara yang menyimpan cerita kejadian kelam dimasa lalu. Aroma besi dan tanah basah menusuk hidung, membuat suasana tambah angker.

Sesaat setelahnya tiba-tiba…

Dug… dug… dug…”

Suara langkah sepatu berat terdengar menggema seisi lorong itu. Suara seperti tentara berpatroli, bukan hanya satu, tapi seperti barisan.

Baca juga :  Hantu Wanita Belanda Tanpa Mata Penghuni Asrama

Mendengar suara itu ketiga orang itu langsung terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Kalian denger gak?” bisik Reno.

“Kayaknya dari ujung lorong,” jawab Wigo dengan nada suaranya gemetar waspada.

Sepertinya mereka merasa ada keanehan dan kebingungan. Mereka tahu hanya mereka bertiga yang berada di benteng itu.

Dan membuat bertanya tanya sosok apa greangan yang berjalan berderap itu.

Suasana KArena semakin mencekat terselimuti rasa takut, mereka memutuskan mundur perlahan. Setelah beberapa langkah mundur, suara itu semakin dekat.

Langkah demi langkah… dan kemudian… diam.

Sunyi total. Hanya detak jantung yang cepat mereka sendiri yang terdengar.

Tak berselang lama,tiba-tiba, senter Ardi berkedip lalu mati. Dalam kegelapan yang membeku, mereka mendengar suara perempuan tertawa lirih, menjerit menjauh lalu hening kembali.Lilis menjerit.

Dalam cahaya kilat petir dari luar, sesosok bayangan putih tampak berdiri di ujung lorong, mengenakan gaun khas noni Belanda.

Wajahnya pucat, matanya kenatap kearah nereka kosong. Di belakangnya, deretan bayangan tentara berbaris diam, suasana yang menakutkam.

Tanpa pikir panjang mereka lari sekencang mungkin menuju pintu keluar dari lorong.

Sosok penunggu noni Belanda yang mengantuinya tadi, terdengar semakin jelas. Padahal mereka sudah berlari cukup jauh.

Sesampai diluar benteng, mereka melihat Pak Slamet sudah berdiri sambil membakar dupa kecil .

“Kalian liat, ya?” kata Pak Slamet pelan. “Itu penunggu lama yang biasanya cuma muncul jikalau ada orang masuk diwaktu terlarang.”

Ardi, Wigo dan Reno berdiri gemetar, tak bisa berkata apa-apa.

Pak Slamet menambahkan, “Dulu lorong itu tempat penyiksaan orang pribumi yang dipenjarakan di benteng tersebut.

Terkadang ada yang sengaja melanggar ketentuan waktu terlarang benteng dikunjungi, tak dapat kembali tanpa jejak. “Tapi kalian masih beruntung, mereka hanya menunjukan diri saja.”

Baca juga :  Misteri Patung Pilot di Makam Kembang Kuning Surabaya

Sejak malam itu, mereka tak pernah lagi menginjakkan kaki di Benteng Van den Bosch.

Akan tetapi suara derap langkah itu masih kadang terngiang dalam mimpi mimpi yang menghantui mereka.

Seolah arwah yang tersesat didalam benteng Van den Bosch memberi peringatan kepada siapapun: “Jangan ganggu yang sudah lama mati.”

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments