Energi Juang News, Palembang-Malam itu hujan turun tanpa suara di sebuah kampung tua yang berada di tepian sungai. Kabut pekat menyelimuti jalan setapak menuju makam keramat yang jarang dikunjungi warga. Lampu-lampu rumah dipadamkan lebih awal, sementara suara burung malam terdengar bersahutan dari balik pepohonan yang gelap.
Di gardu bambu dekat sungai, beberapa warga berkumpul sambil menyeruput kopi panas. Mereka membicarakan kejadian aneh yang terjadi seminggu terakhir. Beberapa orang mengaku melihat sosok pendekar berpakaian kuno berdiri di tepi sungai saat tengah malam. Sosok itu terlihat menggenggam sebilah keris yang memancarkan cahaya keemasan.
Kutukan Keris Taming Sari menjadi cerita yang kembali ramai dibicarakan setelah berbagai kisah lama diungkap kembali. Konon, pusaka legendaris itu bukan hanya membawa kesaktian, tetapi juga menyimpan jejak darah, pengkhianatan, dan kematian yang tidak pernah benar-benar berakhir.
“Arwah para pendekar itu belum tenang,” bisik Pak Rahman, sesepuh kampung yang terkenal mengetahui banyak kisah lama. Seorang pemuda yang duduk di sampingnya tertawa kecil. “Masa keris bisa membawa kutukan, Pak?” Wajah Pak Rahman berubah serius. “Kalau cuma keris biasa memang tidak. Tapi ini Taming Sari.”
Menurut cerita turun-temurun, keris itu pertama kali dimiliki oleh pendekar sakti bernama Taming Sari pada masa kejayaan Majapahit. Selama pusaka itu berada di tangannya, ia dipercaya kebal terhadap segala jenis senjata. Namun kesaktian itu berubah menjadi awal petaka ketika Hang Tuah berhasil merebutnya dalam duel yang menentukan nasib keduanya.
Sejak berpindah tangan, berbagai tragedi mulai mengikuti perjalanan pusaka tersebut. Dari pertumpahan darah di medan perang hingga konflik politik di istana Melaka. Warga percaya setiap pemilik keris itu selalu dihadapkan pada pilihan yang berujung penderitaan. Kesetiaan, ambisi, dan pengkhianatan seolah melekat pada bilah pusaka tersebut.
“Kakek saya pernah melihat penampakannya,” kata seorang warga bernama Junaidi. “Saat itu beliau sedang memancing di sungai.” Para pemuda langsung mendekat. “Apa yang dilihat?” tanyanya penasaran. Junaidi menelan ludah. “Seorang pendekar berjalan di atas kabut sambil membawa keris bercahaya. Setelah itu terdengar suara orang bertarung dari arah sungai, padahal tidak ada siapa-siapa.”
Cerita paling menyeramkan terjadi beberapa tahun lalu. Seorang kolektor benda pusaka datang ke kampung tersebut untuk mencari jejak Keris Taming Sari. Ia menginap dekat makam tua yang dipercaya menjadi tempat singgah para penjaga gaib. Menjelang subuh, terdengar suara jeritan panjang yang membuat warga terbangun.
“Kami mendatangi tempat itu bersama-sama,” ujar Pak Rahman. “Tapi orang itu sudah hilang.” Yang tersisa hanya jejak kaki menuju sungai dan sebuah sarung keris tua yang hangus seperti terbakar dari dalam. Sampai sekarang keberadaannya tidak pernah diketahui.
Warga percaya suara pertarungan yang sering terdengar pada malam tertentu adalah gema dari duel-duel berdarah masa lalu. Ada yang mengatakan itu adalah pertempuran antara Taming Sari dan Hang Tuah. Ada pula yang yakin suara tersebut berasal dari pertarungan terakhir Hang Tuah melawan sahabatnya sendiri, Hang Jebat, yang berakhir tragis karena perebutan keris sakti itu.
Sejak saat itu, tak ada lagi warga yang berani mendatangi tepi sungai setelah tengah malam. Apalagi ketika kabut turun dan suara logam beradu terdengar dari kejauhan. Sebab menurut kepercayaan setempat, ketika cahaya keemasan muncul di balik kabut, itu berarti Keris Taming Sari sedang menampakkan dirinya. Dan siapa pun yang mengikuti jejak cahaya tersebut, mungkin tidak akan pernah kembali pulang.
Redaksi Energi Juang News



