Energi Juang News, Jakarta- Dusun Karang Kenek , sebuah pemukiman kecil di pelosok Jawa Timur, tampak seperti dusun biasa dari luar. Tapi siapa sangka, tempat ini memikul kutukan tua yang telah diwariskan dari generasi ke generasi yaitu kutukan yang mengikat jumlah kepala keluarga di angka 26, tak boleh lebih… tak boleh kurang.
Menurut warga, setiap kali ada tambahan kepala keluarga ke-27, selalu terjadi musibah yang tak masuk akal. Kadang berupa kematian mendadak, kebakaran tanpa sumber api, hingga munculnya sosok gaib yang membuat warga kehilangan akal.
“Sudah sejak dulu begitu,” ujar Pak Samin, sesepuh dusun yang tinggal di rumah paling ujung. “Begitu ada yang pindah masuk jadi kepala keluarga ke-27, pasti ada yang pergi… atau lebih buruk dari itu.”
Cerita menyeramkan itu kembali mencuat ketika pasangan muda, Rafi dan Lela, memutuskan menetap di Karang Kenek. Mereka baru saja menikah dan membeli rumah kosong yang lama tak dihuni, tanpa tahu bahwa kehadiran mereka akan menjadi kepala keluarga ke-27 di dusun itu.
“Awalnya biasa saja,” tutur Lela ketika ditemui tim dokumentasi lokal. “Tapi mulai malam ketiga… kami mulai mengalami hal hal aneh disekitar rumah itu.”
Saat mereka sedang persiapan acara selamatan dirumahnya,suasana riuh orang untuk membantu.
Tatkala Lela mencium bau anyir darah dari sumur belakang,padahal sejam yang lalu padahal airnya jernih. Tapi apa yang jadi penglihatan Rafi dan Lela seketika berubah.” Ketika hari menjelang malam, saat Rafi duduk istirahat di teras melintas sosok hitam besar.
Seketika Rafi mengejarnya, hingga dia melihat sosok itu sudah berada diantara pohon besar disamping rumahnya. Sosok dengan tinggi kira – kira tiga meter, bertaring panjang dan menjulurkan lidah. Namun yang membuat sangat takut adalah mata sosok itu yang berwarna merah menyala dan tubuh besar kemerahan.
Sosok itu dengan raut marah berkata, “Pergi kau dari sini!! sebelum amarah kami membumi hanguskan tempat ini!!”. Suara menggelegar dan berat membuat hati Rafi semakin ciut, dan segera berlari masuk ke dalam rumah dengan nafas terengah – engah.
Pada malam harinya selesai acara selamatan, gantian Lela istrinya mendengar suara langkah kaki berat di atap rumahnya, seperti seseorang menyeret rantai besi. Saat diperiksa, tak ada siapa-siapa. Tapi bekas jejak berlumpur mengarah ke pintu kamar mereka.
Mereka akhirnya menemui Pak Samin untuk meminta penjelasan.
“Itulah awal teror dari kutukan yang menaungi dusun Karang Kenek” demikian Pak Samin menyimpulkan,
“Dari situ kami sadar, ada yang salah dengan apa yang kami lakukan,” ujar Rafi.
Pak Samin hanya menatap mereka dengan mata kosong. “Sudah kubilang ke warga… rumah itu jangan dijual lagi. Tapi kamu sudah di sini… artinya satu dari kalian harus pergi. Kutukan itu harus seimbang.”
Lela gemetar. “Apa maksudnya pergi, Pak?”
“Pergi dalam arti… tak kembali,” jawabnya lirih.
Dengan rasa masih penasaran, Rafi dan istrinya kembali kerumah. Malam itu, Rafi dan Lela tak bisa tidur memikirkan setiap perkataan Psk Samin tadi.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, tiba-tiba Lela mendengar suara isakan dari ruang tamu. Tangisan pelan namun perih menyayat hati.
Ketika dia perlahan mengintip, tampak sosok perempuan tua berambut putih panjang duduk membelakangi, menangis sambil menggenggam foto tua yang sudah luntur.
Suara jangkrik yang tadi mengiringi tiba tiba ikut hening tak bersuara. Aroma amis darah bercampur bau busuk yang menyengat, membuat bul kuduk Lela berdiri.
Penasaran Lela membangunkan Rafi dan mengajak suaminya itu untuk memastikan siapa sosok yang menangis diruang tamu. Perlahan mereka bergeser keruang tamu. Kemudian Rafi menegur sosok itu, Siapa kamu, masuk kerumah kami?!!”
Sosok itu perlahan lahan membalikkan badan dan memperlihatkan kengerian sosok itu. saat dia membalikkan badan, sosok itu sudah berdiri di belakangnya. dengan mata kosong hitam dan bibir sobek hingga ke dagu, membuat sosok itu sungguh menyeramkan.
Suara berat dan parau tiba tiba keluar dari sosok itu: “Keluargaku yang ke-27… tidak boleh ada.” sosok tu kemudian dengan mata terpejam, tangan menggores dinding dengan kuku berdarah, menggurat angka: 26.
Melihat kengerian yang berkepanjangan membuat Lela jatuh tak sadarkan diri. Sedang Rafi berlari kabur keluar rumah saat mendapati istrinya jatuh tertelungkup.
Keesokan harinya, Lela ditemukan warga tak sadarkan diri, mulutnya terus menggumam: “Kembalikan ke dua enam… jangan tambah lagi…” Setelah itu, Lela segera meninggalkan dusun tersebut. Dan suaminya hingga kini tak diketemukan.
Akhirnya rumah itu kembali kosong, tak terjamah untuk memenuhi apa yang menjadi kutukan di dusun Karang Kenek.
Sejak kejadian itu, warga Karang Kenek 26 menetapkan aturan tak tertulis: Jika ada yang ingin masuk dusun itu, harus ada yang lebih dulu pergi dari dudun Karang Kenek.
Ini mengisyaratkan bahwa keseimbangan jumlah manusia dan ketersediaan lahan pertanian harus dijaga. Karena kutukan itu bukan saja mitos , tapiii….itu peringatan dari yang tak terlihat.
Kini, setiap malam Jumat Kliwon, warga dusun sering mendengar suara langkah berat menyusuri lorong rumah kosong itu… mencari kepala keluarga baru yang berani untuk melanggar kutukan lama.
Di balik semua keanehan tersebut, Karang Kenek adalah contoh nyata bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat-tempat yang paling tak terduga.
Bagi penduduknya, hidup di dusun ini adalah berkah, bukan kutukan.
Redaksi Energi Juang News



