Senin, April 13, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaTumbal Alas Jati Peteng: Misteri Nenek dan Lawang Setan

Tumbal Alas Jati Peteng: Misteri Nenek dan Lawang Setan

Energi Juang News, Jakarta– Di tengah rimbunnya pohon-pohon jati tua di jalur Pantura Tuban, terdapat sebuah tempat yang sejak dulu dikenal sebagai Alas Jati Peteng.

Kata “peteng” berarti gelap, dan memang begitulah suasananya, cahaya matahari sulit menembus rerimbunan dedaunan.

Membuat penghuni tak kasat mata tanpa ada batasan waktu menggoda orang yang melintasinya, bahkan di siang hari sekalipun, . Tak heran, kawasan ini dikenal sebagai tempat paling angker di Tuban.

Di dekat perempatan tengah hutan, berdirilah sebuah pangkalan ojek yang seolah menjadi saksi bisu kejadian-kejadian tak masuk akal.

Sanuri, tukang ojek yang telah lebih dari dua dekade mangkal di sana, bercerita sambil menyalakan rokoknya.

“Dulu sini gelap banget. Kalau malam, jangan harap ada yang berani berhenti. “

“Bahkan saya sendiri kadang dengar suara orang minta tolong, padahal gak ada siapa-siapa.”

“Didaerah sini sering terjadi kecelakaan, Mas. Saya sendiri lihat truk nabrak pohon, padahal katanya si sopir ngelihat jalan lurus padahal belok.” lanjutnya.

Suatu malam Jumat Kliwon, seorang sopir truk bernama Pak Budi menghampiri lapak es tebu milik Tamam.

Wajahnya pucat, dan tangannya gemetar saat menyeruput es seperti sehabis mengalami kejadian yang sangat memukul dinding batas ketakutan.

Diperjalanan menuju lapak Tamam ia mengalami hal diluar nalar yang diceritakan ke Tamam setelah sampai di lapaknya. Bersyukur Budi sampai di lapak Tamam dengan selamat, diantara malapetaka yang terus mengintai di Alas Peteng.

“Tadi… saya disetop nenek-nenek di dekat jembatan,” kata Budi pelan takut ada yang mendengar.
“Nenek? Jam segini?” tanya Tamam curiga, seolah tak percaya yang dialami temannya.
“Iya… dia minta tumpangan.”

“Namun aneh… aku merasa kok si nenek ini malam malam sendiri apa tak takut ada binatang buas”.

” Saya sambil nyetir masih bisa lihat raut muka nenek itu.”

“Tampa raut kesedihan dan kemarahan bercampur aduk, membuat nenek itu selalu menatap kedepan dengan tatapan kosong.”

“Apa selama perjalanan kamu gak diajak ngobrol?” tanya Tamam penasaran. ” Yaa…melihat raut dan tatapannya aku sedikit ngobrol, tapi..pas mau turun ia sempat berpesan sama aku.”

“Katanya, kalau saya lewat jembatan, saya harus klakson… cucunya suka main di pinggir jalan.” lanjut Budi. “Trus ….apa yang membuatmu gemetar ketakutan begitu?” Tanya Tamam kembali.

Saya baru mengalami kejadian seumur hidup baru kali ini, saat nenek itu minta saya turunkan di Kalibele, begitu turun dia tiba tiba hilang entah kemana.”Jawab Budi dengat raut muka takut.

Tamam hanya mengangguk, tak terkejut. Kisah nenek itu sudah lama beredar sampai ke telinganya sudah lama. Konon, dia adalah roh penasaran yang kehilangan cucunya karena ditabrak truk di kawasan itu.

Sejak saat itu, ia sering muncul, memperingatkan sopir agar tidak mengulangi tragedi yang sama.

Kisah lain datang dari sopir truk lain, yang pada malam hari melihat jalan bercabang dua padahal seharusnya hanya satu. Ia memilih jalur yang salah dan truknya terjun bebas ke sungai.

Padahal hal itu ilusi yang diciptakan bayangan yang ingin mencelakainya. Menurut ceritanya yang dilihat jalan itu lurus, “Saya lihat jalan lurus, padahal itu cuma bayangan,” katanya.

Dan ternyata sangat terbalik apa yang sesungguhnya, jalan itu seharusnya berbelok ke kanan. Akhirnya truk itu masuk jurang yang dalam kira kira 7 meter.

“Pas sadar, truk sudah miring untung masih hidup.” tak henti henti supir itu bersyukur tak jadi korban kecelakaan itu. Kejadian mengerikan diluar nalar kita, terjadi malam itu.

Di tengah semua kisah itu, ada cerita tentang Lawang Setan yang menyeramkan.

Beberapa warga mengaku pernah melihat keramaian setelah tertarik untuk melewati sebuah pintu (Lawang) di dalam hutan, sebelum mereka tersadar setelah ditolong warga yang menemukannya pingsan di pinggir hutan.

Berdasar cerita yang disampaikan, sangat tidak mungkin didalam hutan ada pintu kayu besar didalamnya cahaya lampu, suara gamelan, bau dupa, dan tawa ramai, namun begitu didekati, semuanya lenyap seketika. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang tersisa.

Mbah Sastro, mantan pemburu kayu liar yang kini lumpuh, pernah masuk ke Pintu Setan masuk terlalu dalam keramaian dan mendapati dirinya dihantui sekumpulan arwah berbentuk menyeramkan dan tak utuh bagian tubuhnya. .

“Saya kira itu pasar malam. Ada yang jualan, ada yang tertawa. Tapi pas saya beli air, tangan penjualnya dingin… dan mata mereka semua kosong”kisahnya.

Dan yang lebih menyeramkan, Mbah Sastro mengamati orang orang yang berada di tempat itu mukanya sudah tak utuh. Bahkan sebagian anggota tubuhnya hilang seperti terpotok atau tercabik binatang buas. Membuat Mbah Sastro terperanjat lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

Sejak saat itu, Mbah Sastro tidak bisa berjalan lagi. Kata orang, ia membawa pulang sesuatu dari dunia lain. Kisah-kisah menyeramkan dari Alas Jati Peteng bukan hanya legenda kosong.

Mereka adalah peringatan tentang tempat-tempat yang harus dihormati, larangan yang jangan dilanggar, dan bahaya ketamakan serta ketidakhormatan terhadap dunia gaib.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments