Energi Juang News, Jakarta– Suasana Dusun Karang Bendil malam itu tampak berbeda dari biasanya. Warga berbondong-bondong datang ke rumah keluarga Muslih bin Saad untuk mengikuti tahlilan 40 hari kematiannya. Di ruang tamu, para ibu menyusun gelas kopi dan menata kue di atas tampah. Bau dupa samar menyebar ke seluruh penjuru rumah. Di luar, angin malam berembus pelan membawa aroma tanah lembap yang entah kenapa terasa lebih menyengat dari biasanya. Beberapa warga yang datang lebih awal saling bisik-bisik, mengenang kebaikan almarhum. Tapi satu hal yang membuat suasana tak biasa—sejak malam ketujuh kematian Muslih, istrinya Bu Warsih mengaku masih sering merasa ada yang duduk di dipan tempat almarhum biasa rebahan.
“Kadang kayak denger batuknya Bapak,” ujar Bu Warsih lirih pada tetangga sebelahnya malam itu. Mereka duduk di pojok dapur, memandangi ruangan tengah yang mulai dipenuhi lelaki dewasa. Di ruang itu, kursi plastik disusun menghadap kiblat. Para bapak mulai duduk bersila, mengisi dua barisan panjang. Namun di baris paling belakang, ada satu sosok mencolok. Duduk bersandar ke dinding, tubuhnya dibungkus kain putih lusuh, wajahnya tertutup rapat. Tak ada yang sadar kapan dia masuk, bahkan anak-anak kecil yang bermain di dekatnya pun tiba-tiba terdiam saat melihatnya.
“Pak, itu siapa? Kok diam aja kayak pocong?” tanya Gilang, anak kecil berusia tujuh tahun, sambil menarik tangan ayahnya. Ayahnya menoleh cepat ke arah yang ditunjuk, tapi hanya ada sajadah kosong. Tidak ada siapapun di sana. Gilang masih menunduk ketakutan, tangannya gemetar. Bayana, anak sulung almarhum, yang duduk tak jauh dari mereka, langsung menoleh ke arah pojok. Ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Tapi ia memilih diam dan fokus mendengarkan pembacaan doa yang dipimpin Ustaz Muzakir. Doa pun ditutup dengan lantunan Al-Fatihah.
Namun di tengah lirih suara para jamaah mengucap “Aamiin”, terdengar satu suara berbeda. Lebih berat, parau, seperti suara dari tenggorokan kering yang jarang digunakan bicara. “Aamiin,” ucap suara itu. Bayana berdiri spontan, matanya menyapu sudut ruangan yang sebelumnya kosong. Kursi hijau di pojokan kini terisi. Sosok berpakaian putih itu duduk membelakangi semua orang. Tak bergerak. Bayana mencengkeram tangan adiknya Lutfi yang duduk di sebelahnya. Tapi tak seorang pun berani bertanya siapa sosok itu. Mungkin karena semua yakin mereka tidak sedang bersama manusia biasa.
Keesokan paginya, suasana rumah masih sunyi. Belum terdengar ayam berkokok saat Bayana terbangun. Hidungnya mencium bau yang sangat aneh, menusuk. Bukan bau got atau makanan basi, tapi seperti kain basah yang disimpan terlalu lama. Ia menyusuri bau itu dan mendekati kamar ibunya. Di depan pintu, lantai tampak basah, seperti habis disiram. Tapi yang membuatnya takut adalah aromanya—bau tanah kuburan. Tidak ada air, tapi seolah lantainya pernah dilewati sesuatu yang bukan dari dunia ini. Bayana nyaris tak bisa bergerak saat matanya menangkap bayangan di luar rumah, tepat di depan pagar bambu.
Di sana, berdiri sosok yang membuat darah Bayana seperti berhenti mengalir. Terbungkus kain kafan dari kepala hingga kaki, sosok itu tidak bergerak, tidak bicara. Wajahnya tak terlihat, hanya diam menatap ke arah rumah. Bayana tak berani mendekat. Perlahan ia mundur, dan dari dalam rumah terdengar suara Lutfi melantunkan Surah Al-Baqarah dengan lirih. Tapi sosok itu tetap tak bergeming. Ia hanya berdiri. Lalu tiba-tiba, angin bertiup kencang dan daun-daun beterbangan. Dalam sekejap, sosok itu lenyap seakan tertelan udara. Bayana langsung mengunci pintu, tubuhnya menggigil.
“Mas, udah pasti itu Bapak,” kata Lutfi pelan, masih membaca ayat-ayat pelindung. Tapi Bayana hanya menggeleng. “Bukan. Itu bukan cara Bapak pulang,” jawabnya serius. Di dalam hatinya, ia yakin ada sesuatu yang berbeda. Sosok itu mungkin menyerupai ayahnya, tapi auranya dingin dan menusuk. Tak seperti kehadiran almarhum yang biasanya menenangkan. Sejak saat itu, rumah mereka tak pernah benar-benar tenang. Bunyi langkah di tengah malam, suara batuk samar, dan pintu yang terbuka sendiri menjadi hal biasa yang mereka alami.
Warga pun mulai ikut membicarakan kejadian malam itu. Salah satu tetangga, Pak Rudi, mengaku sempat melihat sosok serupa berdiri di bawah pohon jambu belakang masjid sekitar jam satu dini hari. “Saya pikir maling, tapi kok nggak bergerak. Pas saya nyalain senter, nggak ada apa-apa,” ceritanya sambil merokok di warung. Bu Minah, tetangga sebelah rumah, bahkan sempat melihat bekas pijakan kaki basah di depan pintunya pagi hari setelah tahlilan. “Saya langsung siram pakai air garam dan bacain Yasin. Takut kalau itu arwah yang belum tenang,” ucapnya dengan nada bergetar.
Kisah ini cepat menyebar ke dusun-dusun sekitar. Banyak yang bilang itu adalah tanda bahwa ruh almarhum belum benar-benar tenang, mungkin ada janji atau amanah yang belum ditunaikan. Ada pula yang percaya bahwa bukan ruh Muslih yang datang, melainkan sosok lain yang menyerupainya makhluk yang tersesat, atau entitas dari dunia ghaib yang tertarik pada peristiwa kematian. Malam ke-40 itu menjadi malam terakhir tahlilan, tapi tidak dengan kehadiran sosok putih yang masih sering terlihat di pekarangan saat malam menjelang.
Redaksi Energi Juang News



