Energi Juang News,Garut- Kabut tipis turun perlahan menyelimuti jalur pendakian Gunung Guntur sore itu. Angin berhembus dingin, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Di Pos 3, sekelompok pendaki muda tampak sibuk mendirikan tenda sambil bercanda, seolah gunung ini hanyalah tempat rekreasi biasa. Namun seorang warga tua yang kebetulan melintas hanya menggeleng pelan. “Kalian terlalu berisik… gunung ini tidak suka itu,” ucapnya lirih, sebelum pergi tanpa menoleh lagi.
Gibran, bocah 14 tahun yang ikut dalam rombongan itu, hanya diam mendengar ucapan tersebut. Malam semakin pekat, dan suara gemuruh samar terdengar dari kejauhan. “Ah, paling suara batu jatuh,” kata salah satu temannya. Namun warga sekitar percaya itu bukan sekadar suara alam. “Itu tanda… mereka sedang bangun,” bisik seorang penjaga warung di kaki gunung kepada pendaki lain malam sebelumnya.
Pukul 04.00 WIB, rombongan bersiap melanjutkan perjalanan ke puncak. Udara sangat dingin, dan kabut semakin tebal. Gibran memilih tetap di tenda. “Gue di sini aja, badan nggak enak,” katanya pelan. Temannya hanya mengangguk tanpa curiga. Mereka meninggalkan Gibran sendirian di tengah sunyi yang terasa semakin menekan.
Beberapa jam kemudian, saat rombongan kembali dari puncak, suasana berubah drastis. Tenda masih berdiri, tetapi Gibran sudah tidak ada. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, tidak ada jejak kaki yang jelas. “Gibran! Bran!” teriak mereka panik. Namun yang menjawab hanyalah gema suara mereka sendiri yang terdengar aneh, seolah ditiru oleh sesuatu di balik pepohonan.
Warga yang membantu pencarian mulai berdatangan. Salah satu di antara mereka berkata dengan wajah serius, “Kalau hilang di sini… belum tentu dia pergi sendiri.” Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam. Mereka mencari hingga sore, namun hasilnya nihil. Hutan seolah menelan Gibran tanpa sisa.
Malam hari, salah satu relawan mengaku mendengar suara anak kecil menangis di dekat aliran air. “Aku dengar dia manggil… tapi suaranya jauh… terus tiba-tiba dekat banget di telinga,” katanya dengan wajah pucat. Warga lain langsung memperingatkan, “Jangan diikuti! Itu bukan manusia lagi.”
Hari kedua hingga keempat pencarian berlangsung tanpa hasil. Tim SAR mulai menyisir area lebih luas, termasuk ke arah Curug Cikoneng. Di sana, seorang warga tiba-tiba berhenti dan berkata pelan, “Tempat ini… sering jadi pintu.” Yang lain saling berpandangan, merasakan bulu kuduk berdiri tanpa alasan yang jelas.
Pada hari kelima, akhirnya kabar datang. Seorang warga menemukan Gibran di dekat Curug Cikoneng, sekitar 750 meter dari Pos 3. Namun kondisi bocah itu sangat lemah, tubuhnya penuh luka ringan, dan matanya kosong. Dari mulutnya terucap kata kata aneh yang tak ada hubungan dengan rasa penasaran warga yang bertanya. Saat ditanya, ia hanya berbisik, “Aku diajak… mereka bilang jangan pulang.”
Dalam perjalanan evakuasi, Gibran sempat berkata sesuatu yang membuat semua orang terdiam. “Di atas… ada kampung… tapi bukan untuk manusia.” Seorang warga tua langsung menunduk dan berucap, “Sudah saya bilang… gunung ini ada yang menjaga.” Tak ada yang berani menanggapi lebih lanjut.
Sejak kejadian itu, masyarakat kembali mengingatkan pentingnya menjaga sikap saat berada di Gunung Guntur. “Jangan sombong, jangan bicara sembarangan,” ujar seorang warga. Karena bagi mereka, gunung ini bukan sekadar alam—melainkan rumah bagi sesuatu yang hidup di antara dunia yang tak terlihat, yang bisa saja memanggil siapa pun… dan tidak mengembalikannya dalam keadaan yang sama.
Redaksi Energi Juang News



