Energi Juang News, Jakarta– Di sebuah desa kecil yang terpencil di Jawa Timur, masyarakat digegerkan oleh kejadian gaib yang tak masuk akal. Beberapa warga mengaku melihat sesosok pocong perempuan melompat-lompat di sekitar pemakaman dan area sawah. Namun yang membuat bulu kuduk mereka berdiri adalah bahwa pocong tersebut tidak menampakkan tanda-tanda ingin dibebaskan. “Dia tidak mendekat, hanya menatap dari kejauhan. Tapi auranya penuh amarah,” ujar Pak Darto, warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi makam.
Cerita ini bermula dari seorang ibu yang menolak melepaskan tali pocong anak perempuannya saat dimakamkan. Putrinya, seorang gadis belia yang dikenal ramah dan santun, ditemukan tewas mengenaskan setelah mengalami penganiayaan brutal yang berujung pada kematian. Warga yang menyaksikan prosesi pemakaman itu mengaku melihat si ibu berbisik pada jenazah, matanya memerah, dan tangannya menggenggam tanah merah makam dengan gemetar. “Biarkan dia bangkit untuk mencari pelakunya,” katanya lirih, seperti diceritakan oleh Bu Ningrum, tetangga yang hadir saat pemakaman.
Willy, seorang anak indigo yang sering dimintai tolong dalam urusan spiritual, menyatakan bahwa tindakan sang ibu bukanlah tanpa alasan. “Si ibu benar-benar hancur. Anaknya bukan hanya dibunuh, tapi dianiaya dengan sangat keji. Rasa dendam itu mengikat batinnya, dan dia percaya bahwa roh anaknya bisa menyelesaikan yang belum tuntas di dunia ini,” ujar Willy. Ia mengingat betul saat ibu itu memohon agar tali pocong jangan dilepas, dan penggali kubur hanya bisa menuruti karena takut.
Setelah kejadian itu, malam-malam di desa berubah menjadi mencekam. Suara tangisan lirih terdengar dari arah kuburan saat angin lewat di atas ilalang. Sejumlah anak-anak mengaku didatangi dalam mimpi oleh seorang perempuan berwajah pucat dengan tubuh yang membusuk. “Dia minta ditunjukkan rumah paman kami,” kata Rahma, keponakan dari almarhum. Tak lama setelah mimpi itu berulang, jasad seorang pria ditemukan tewas dengan wajah membiru di pematang sawah.
Yang mengejutkan, jasad itu tak lain adalah paman dari korban. Ia dikenal pendiam, namun ternyata memiliki sejarah kelam yang tak banyak diketahui orang. Menurut warga, beberapa hari sebelum kematiannya, paman korban tampak gelisah dan ketakutan. “Dia sempat ngomong sendiri, katanya ‘jangan dekati aku… aku bukan pelakunya’,” cerita Pak Tohir, seorang petani tua yang kebetulan lewat dekat rumahnya malam sebelum kejadian.
Willy yakin arwah gadis itu masih bergentayangan, mencari siapa pun yang terlibat dalam kejahatannya. Sayangnya, karena tali pocong tidak dilepas, sang arwah tak bisa tenang meski satu pelaku telah mati. “Dia tidak akan berhenti sampai semua yang terlibat merasakan penderitaan yang sama. Dan itu bisa termasuk siapa pun yang tahu, tapi memilih diam,” ucap Willy dengan suara pelan namun penuh tekanan.
Penduduk desa pun mulai merasakan tekanan batin yang luar biasa. Beberapa orang mulai pindah ke desa tetangga karena tak tahan mendengar suara-suara gaib dan melihat penampakan di malam hari. “Kalau sudah tengah malam, jangan keluar. Banyak yang bilang dia lewat di jalan setapak belakang,” kata Bu Erni, sambil menunjukkan jalan yang kini ditumbuhi alang-alang tinggi.
Di balik kisah ini, tersimpan pesan yang mengerikan: bahwa dendam yang dibawa ke liang kubur bisa menciptakan teror berkepanjangan. Sang ibu mungkin telah mendapatkan satu bentuk keadilan, namun ia juga telah membiarkan anaknya terjebak di antara dunia dan kematian. “Arwah itu tidak akan berhenti sampai semua selesai. Tapi bagaimana kalau pelakunya tidak pernah tertangkap?” tanya Willy dengan tatapan nanar.
Kini, makam itu dijauhi. Tak ada lagi yang berani berziarah ke sana. Tali pocong yang tak dilepas telah menjadi simbol dari amarah dan kesedihan yang membeku. Dan ibu yang dulu menangis di atas pusara anaknya? Ia menghilang entah ke mana setelah kematian si paman, seperti ikut lenyap dalam bayang-bayang dendam yang ia cipta sendiri.
Redaksi Energi Juang News



