Energi Juang News, Bengkulu- Di sebuah kampung yang tenang di Bengkulu Utara, hidup seorang pemuda yang jadi buah bibir warga. Bukan karena prestasi, bukan juga karena kekayaan, melainkan karena kisah cintanya yanglebih mirip sinetron komedi murahan daripada kehidupan nyata.
Namanya Jeki, 23 tahun. Wajahnya lumayan bikin cewek-cewek menoleh dua kali. Rambut klimis amis, senyum manis, dan gaya percaya diri yang kadang lebih besar daripada isi dompetnya yang tipis.
“Dia itu modal tampang doang, tapi percaya dirinya kayak pejabat,” celetuk Pak RT suatu sore sambil menyeruput kopi.
Namun justru itulah yang jadi “senjata utama” Jeki. Dengan tampangnya, ia mampu menaklukkan hati banyak perempuan tanpa perlu janji masa depan yang jelas jelas amat.
Di antara banyaknya gebetan, ada dua nama yang paling serius: Mintul dan Mimin. Keduanya sama-sama masih muda, cantik, bodi lumayan kinyis kinyis dan yang paling penting sama-sama tidak tahu keberadaan satu sama lain.
Dalam urusan PDKT Jeki sangat pintar membagi waktu. Terbersit dalam benaknya, sekali dayung sentolop dua gadis bisa digagahi.
“Kalau pagi samaMintul, sore sama Mimin. Malam? Ya… lihat situasi,” katanya suatu ketika sambil tertawa.
Temannya, Parno, hanya geleng-geleng kepala.
“Lu ini bukan bagi waktu, tapi bagi masalah, Jek.”
Namun Jeki tidak peduli. Baginya, selama semuanya berjalan mulus, hidup terasa seperti liburan panjang.
Baik Mintul maupun Mimin sama-sama yakin bahwa mereka adalah satu-satunya wanita di hati Jeki. Bahkan keduanya sudah mulai membayangkan masa depan bersama.
“Dia janji mau serius sama aku,” kata Mintul kepada sahabatnya.
“Ih, sama! Dia juga bilang gitu ke aku,” kata Mimin—tanpa tahu mereka membicarakan orang yang sama.
Beberapa bulan berlalu, hubungan Jeki dan Mintul semakin dekat. Keahlian Jeki dengan janji mau dinikahi, seenak udelnya ia menggagahi Mintul hingga ngidam.
Suatu hari, Mintul datang dengan wajah pucat ke rumah Jeki.
“Mas… aku hamil,” katanya pelan.
Jeki terdiam. Untuk pertama kalinya, senyum percaya dirinya goyah.
“Yakin?” tanyanya.
Mintul mengangguk.
Tak butuh waktu lama, keluarga Mintul datang membawa “rombongan tekanan” meminta Jeki tanggung jawab.
“JAngan mau enaknya doang, sampe kebablasan. pake yang bener itu sentolop” tegas ayah Mintul.
Mau tidak mau, Jeki menikahi Mintul. Usianya belum genap 24 tahun, tapi statusnya sudah berubah jadi suami… sekaligus calon ayah.
“Gue kira hidup gue bakal santai, ternyata malah jadi bapak-bapak,” keluhnya ke Parno.
Parno hanya tertawa.
“Selamat ya, petualang cinta. Level baru: suami panik.”
Beberapa bulan setelah menikah, Mintul melahirkan. Keluarga besar bahagia. Meski semua tahu kehamilan itu “terjadi terlalu cepat”, mereka memilih untuk tidak mempermasalahkan.
“Yang penting sekarang sudah sah,” kata ibu Mintul.
Jeki mulai mencoba menjalani perannya sebagai suami. Meski kadang masih suka melamun, mungkin merindukan masa-masa bebasnya dulu.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Suatu siang, saat Jeki sedang santai di rumah, tiba-tiba seorang wanita datang dengan langkah cepat.
Mimin pacar keduanya yang kali ini, ada yang berbeda karena perutnya membesar.
Jeki pun langsung pucat.
“Mas, kita perlu bicara,” kata Mimin dengan nada serius.
Mintul yang mendengar suara itu keluar dari dalam rumah.
“Siapa ini?” tanyanya.
Mimin menatap Mintul, lalu kembali ke Jeki.
“Ini istrimu?”
Jeki hanya bisa mengangguk pelan.
Suasana langsung tegang.
“Bagus,” kata Mimin dingin.
“Sekarang jelaskan ke dia… kenapa aku juga hamil anakmu.”
Mintul pun terkejut.
“Apa?!”
Dalam kondisi terjepit seperti itu,Jeki kalo punya ajian menghilang tentu sudah dilakukan.
Tapi karena ulahnya ia tak berkutik, dan hanya bisa menekuk wajah memelas. Kedua insan yang mendapat servis sentolop Jeki itupun terlibat perdebatan pun tak terhindarkan.
“Jadi selama ini kamu selingkuh?” teriak Mintul.
“Bukan selingkuh, cuma… multitasking,” jawab Jeki gugup.
“Multitasking ndass mu!” bentak Mintul.
Mimin ikut angkat bicara.
“Mas, aku nggak mau tahu. Kamu harus tanggung jawab. Kalau tidak, keluargaku akan lapor polisi.”
Jeki plonga plongo menatap ke kiri dan kanan, berharap ada pintu rahasia untuk kabur, namun tidak ada.
Di tengah kekacauan itu, seseorang—entah siapa—mengusulkan ide yang membuat semua terdiam.
“Ya sudah… nikahi saja dua-duanya.”
Semua menoleh.
Jeki terlihat seperti menemukan secercah harapan.
“Iya juga ya…” gumamnya.
Namun Mintul langsung berdiri.
“Jangan mimpi!”
Mimin pun menggeleng.
“Aku nggak mau berbagi!”
Parno yang mendengar cerita itu kemudian hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
“Lu kira ini sinetron, Jek? Bisa happy ending semua?”
Parno menepuk bahunya berseloroh,
“Harusnya mikir dari awal bagi ke gue, bukan lu embat dua duanya.”
Redaksi Energi Juang News



