Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Nenek Di Gubuk Tua Dan Arwah Sipir Penjara

Misteri Nenek Di Gubuk Tua Dan Arwah Sipir Penjara

Energi Juang News, Jakarta– Dalam tugas pengamanan narapidana, aku dan senior kerjaku, Pak Tambun, mengalami kejadian yang tak masuk akal. Awalnya, kami hanya berniat mengejar seorang napi yang kabur ke arah hutan perkebunan tua milik PTPN. Tanpa sadar, kami menembus jalur yang asing dan tanpa petunjuk arah, hingga nyaris terperosok ke dalam jurang curam setinggi hampir 40 meter. Motor masih kugenggam kuat di bibir jurang. Kami nyaris mati. Nafas kami tersengal, keringat membasahi tubuh, dan dunia seperti berhenti sesaat. Tapi saat kami berhasil menarik motor mundur dari jurang, keanehan baru saja dimulai.

Saat kembali menelusuri hutan dengan cahaya seadanya dari lampu motor, suasana hutan berubah. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada angin, hanya sunyi mencekam yang merambat pelan ke tulang-tulang kami. Dari kejauhan, kulihat cahaya redup seperti dari pelita minyak. Kami memutuskan mendatangi sumber cahaya itu dengan harapan ada warga yang bisa menunjukkan arah keluar. Tapi yang kami temui bukanlah rumah biasa. Gubug tua berdinding tepas bolong-bolong itu tampak seperti hendak roboh. Di dalamnya, tinggal seorang nenek renta dengan penampilan mencurigakan. Wajahnya penuh kerutan, matanya tajam dan gelap, rambut panjangnya berantakan, dan senyumnya aneh.

“Siapa ya?” tanya si nenek dengan suara serak saat aku mengetuk dinding rumahnya yang terbuat dari triplex reyot. “Kami petugas penjara, bu… tersesat. Kami mencari arah keluar,” jawabku sambil menatap wajahnya yang mirip patung lilin tua. Pak Tambun bahkan sempat meminta teh manis—barangkali untuk menenangkan diri. Nenek itu menyanggupi, berjalan terseok seperti diseret, lalu kembali membawa poci tua dengan gelas. Saat kami minum, suasana makin janggal. Rumah itu sangat sepi. Tak ada perabotan. Tak ada suara kehidupan. Bahkan dindingnya seperti membisikkan kata-kata tak terdengar.

Baca juga :  Misteri Hantu Palasik: Teror Ilmu Hitam di Tanah Minangkabau

Pak Tambun pergi ke belakang rumah untuk buang air. Aku mencoba mengobrol dengan si nenek. Saat aku menyinggung tentang kakek yang menunjukkan arah ke jurang, wajah si nenek mendadak cerah. “Itu suami saya… almarhum.” Katanya tenang. Aku tercekat. Nafasku tertahan. “Maksud nenek? Almarhum?” tanyaku, terbata-bata. Nenek itu tertawa pelan, makin lama makin nyaring. Suaranya serak, seperti suara dari liang kubur. Dentuman tawanya menggetarkan bulu kudukku. Aku ingin berdiri dan pergi, tapi kakiku terasa berat.

Tiba-tiba, Pak Tambun berlari dari belakang rumah dengan wajah pucat pasi. “Mal, kita pergi sekarang juga!” katanya tergesa. Aku pura-pura santai, mencoba mencari alasan. “Tehnya belum habis, Pak.” Tapi ia menarik tanganku dengan paksa. “Itu… rumah tadi… bukan rumah!” katanya panik. “Apa maksud Pak Tambun?” Aku melirik ke belakang. Rumah itu hilang. Gubug tua itu lenyap, yang tersisa hanya kegelapan dan suara tawa nenek yang menggema dari arah hutan. Kami langsung melompat ke atas motor, dan aku memacu gas sekuat tenaga, seperti sedang dikejar malaikat maut.

Dalam perjalanan keluar dari kebun, kami hampir tak berucap satu kata pun. Suara hutan kembali normal, tapi hawa dingin menusuk dari belakang. Aku tak berani menoleh. Setelah sekitar dua puluh menit, kami mulai melihat rumah-rumah penduduk. Orang-orang memaki karena aku melajukan motor terlalu kencang. Tapi aku tak peduli. Setelah sampai di jalan besar, barulah aku bertanya. “Pak, sebenarnya tadi kita itu di mana?” Pak Tambun hanya menjawab singkat, “Itu bukan rumah… itu dua kuburan.” Aku langsung merinding. “Kuburan, Pak?” tanyaku pelan.

Pak Tambun bercerita bahwa saat aku menyeruput teh, dia melihat dari balik gubug bahwa bagian dalam bangunan itu sebenarnya adalah makam tua. Dua gundukan tanah merah tanpa nisan. Aku seperti mau muntah mengingat teh manis yang baru saja kutelan. Namun cerita Pak Tambun belum selesai. Ia bilang, sebelum menuju rumah nenek itu, dia sempat melihat sekelompok tentara tua berbaris rapi. Mereka berpakaian aneh, mengenakan seragam zaman dulu, dengan topi lancip dan celana putih, senjata di pundak, dan salah satunya menunggang kuda hitam.

Baca juga :  Bayang Putih di Jembatan Bolong Mamuju

Yang membuatnya lari ketakutan adalah kenyataan bahwa para tentara itu tidak berjalan, tapi melayang. Mereka tidak menyentuh tanah, bahkan bisa berdiri di atas paret tanpa menjejak apapun. Saat ia mencoba mengintip dari Pos, para tentara itu menembus dinding dan menghilang begitu saja. Ia yakin, mereka adalah arwah para tahanan dan penjaga zaman dulu yang pernah mati di lokasi itu. Mungkin mereka masih “berpatroli” dalam dimensi yang berbeda. Suara kuda, derap langkah, dan hentakan sepatu masih menghantui pendengaran Pak Tambun hingga kini.

Cerita ini menjadi rahasia yang tak banyak kami bagikan. Namun beberapa hari kemudian, seorang warga yang tinggal di sekitar area kebun mengatakan, “Kalian sempat ke gubug tengah hutan itu ya? Itu mah udah dari dulu kosong. Tapi sering terlihat nenek-nenek tua di sana. Banyak yang bilang dia arwah istri kepala sipir zaman Belanda. Suaminya dihukum mati karena menyiksa tahanan.” Ucapan warga itu membekukan darahku. “Kalian beruntung bisa keluar. Ada yang gak pernah kembali,” tambahnya. Seketika bulu kudukku berdiri. Hutan itu bukan tempat biasa, dan sepertinya kami sudah melintasi batas dunia.

Sejak kejadian itu, aku dan Pak Tambun tak pernah lagi bertugas malam di sekitar kebun itu. Suasana penjara pun berubah. Sering terdengar suara barisan kaki di malam hari, walau tak ada siapa pun di lorong. Lampu sering padam sendiri, dan CCTV menangkap bayangan tentara bersenjata lalu lalang di lorong tua penjara. Tak ada penjelasan masuk akal. Kami hanya bisa menyimpulkan: ada arwah masa lalu yang masih terjebak, masih menjalani hukuman, atau mungkin masih berpatroli dalam dunia yang tak bisa kita lihat dengan mata telanjang.

Baca juga :  Misteri Lampor: Legenda Horor dari Pesisir Selatan Jawa Timur

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments