Energi Juang News, Gresik– Pada suatu malam yang lembap, suasana di perbatasan antara Mojokerto dan Balongpanggang Gresik tampak lebih sunyi daripada biasanya. Jalanan yang hanya diterangi lampu kendaraan menyimpan hawa dingin yang menusuk, membuat beberapa pengendara melambatkan laju motor mereka. “Rasanya udara malam ini pengap ya?” gumam seorang bapak sambil menatap ke arah gelap. Tidak ada yang menyebutkan nama batu keramat itu di awal percakapan, tetapi jelas ada sesuatu yang membuat warga enggan melintas sendirian.
Saat ia berhenti untuk istirahat didekat situs Watu Blorok itu, kebetulan seorang ibu ibu melintas dengan sepeda motornya, ibu itu menyalakan klakson tiga kali seperti kebiasaan warga setempat. “Mungkin seperti ini adat yang lumrah, masa iya sih ada sesuatu disini,” ucapnya kepada seorang pemuda yang menunggu di pinggir jalan. Meskipun tampak seperti ritual kecil yang sederhana, nada suaranya menunjukkan rasa takut yang menahun, seolah tempat itu menyimpan penghuni yang tidak ingin diganggu.
situs Watu Blorok ini sejak dahulu dikisahkan sebagai jelmaan seekor ular besar yang dikutuk oleh para raja Majapahit, menjadikan wujudnya membatu namun tetap berjiwa. Seorang warga tua berkata, “Menurut kakek, dulu ada ular bertapa yang dikutuk jadi ular” Wujudnya menyerupai kepala ular raksasa, dengan permukaan batu yang tampak seperti sisik memudar. Energi yang memancar darinya sering kali membuat orang merasakan tekanan aneh, seakan ada mata besar yang mengikuti setiap langkah di dekat situs tersebut.
Beberapa warga bahkan meyakini bahwa ekor dari batu itu berada di seberang jalan, sehingga tubuhnya memanjang tak terlihat sepanjang jalur beraspal. “Makanya disini tak kasat mata namun terlihat ada garis yang melintang di jalan,” ujar seorang lelaki sambil menunjuk tanah. Kepercayaan ini bukan hanya mitos kosong; beberapa pengendara kerap merasakan motor mereka seperti ditarik sesuatu, terutama bila mereka melewati titik yang dipercaya sebagai bagian tubuh makhluk terkutuk tersebut.
Kisah paling terkenal datang dari seorang pemuda bernama Sholeh dari desa sebelah. Suatu malam ketika ia pulang melewati lokasi itu, ia merasakan beban berat di jok belakang motor, seperti ada yang menumpang tanpa suara. “Saat berkendara sendiri, tapi motorku terasa berat sekali seolah membonceng orang gemuk,” katanya kepada warga yang menolongnya. Setelah beberapa meter, sosok samar muncul di sudut matanya. wujud seperti ular besar berkepala manusia, menyeringai dengan lidah terjulur panjang dan mata merah menyala, hingga akhirnya membuatnya terjatuh ketakutan.
Cerita pengalaman Sholeh cepat beredar. Warga yang mendengarkan kisah Sholeh selalu merinding, sebab deskripsi itu sangat mirip dengan cerita lama mengenai penjaga batu tersebut. Mbah Mi Seorang nenek dekat lokasi berkata, “Kalo ketemu pengendara yang nggak sopan, ia akan muncul.” Banyak yang percaya sosok itu bukan sekadar makhluk astral, melainkan roh binatang kutukan yang tidak pernah benar-benar pergi dan masih menyimpan amarah dari masa kerajaan dahulu. Pengakuan Sholeh membuat warga makin berhati-hati saat melintas.
Selain sosok ular berkepala manusia, warga juga sering melihat kabut putih misterius yang muncul tanpa arah, terlebih saat malam mulai turun dan udara menjadi lebih lembap. “Itu bukan kabut biasa,” kata Pak Darto, “Seperti kabut tapi mengitari batu situs itu.” Kabut itu dianggap sebagai wujud halus dari energi yang mengitari situs keramat tersebut. Beberapa orang bahkan mengeluh mendengar suara desis panjang di tengah kabut itu, padahal tidak ada angin yang bergerak.
Arca batu yang menjadi pusat legenda memiliki ukuran yang mencolok: panjang sekitar dua meter dengan lebar satu meter, menyerupai kepala ular raksasa yang menengadah. Meski hanyalah batu, banyak yang merasa bentuknya seperti memiliki ekspresi yang berubah-ubah tergantung siapa yang menatap. “Seperti tersenyum ya?” tanya seorang bocah ketika pertama kali diajak orang tuanya. Ibunya langsung menegurnya dengan nada panik, “Jangan sembarangan kamu, ini tempat angker.”
Warga juga kerap mendengar suara tangisan yang berasal dari arah batu itu, terutama pada malam larut saat aktivitas manusia hampir tidak ada. Tangisan itu terdengar lirih, kadang panjang, kadang putus-putus seperti seseorang yang menahan kesakitan. “Suaranya seperti rintihan penuh dendam,” ujar seorang penjaga toko yang sering menutup lewat tengah malam. Warga percaya itu adalah suara roh ular terkutuk yang meratapi nasibnya.
Pada masa dahulu, beberapa warga lama mengaku pernah melihat batu itu bergeser perlahan ke tengah jalan, seolah berusaha menghalangi kendaraan yang lewat. Meski kini jarang terjadi, cerita itu tetap menjadi bagian kuat dari ingatan kolektif. “Kalo malam jangan sembarangan berimajinasi,” kata seorang bapak kepada anaknya yang baru belajar mengendarai motor. Dengan segala kisah mistis yang menyelimuti, tempat itu tetap menjadi pengingat bahwa tidak semua benda diam benar-benar mati; sebagian masih menyimpan jiwa yang tak pernah padam.
Redaksi Energi Juang News



