Energi Juang News, Jakarta- Ribuan pencari suaka menerobos masuk wilayah Ceuta, kota otonom Spanyol yang terletak di pesisir utara Afrika. Insiden ini terjadi pada Kamis (30/7/2026) waktu setempat dan menewaskan sedikitnya 18 orang.
Para migran tersebut berasal dari Maroko dan sejumlah negara Afrika Sub-Sahara. Mereka nekat berenang melintasi laut serta menerobos perbatasan darat dari Maroko menuju Eropa.
Ribuan Migran Berhasil Masuk Ceuta
Televisi lokal Spanyol, TVE, melaporkan sekitar 2.000 hingga 3.000 migran berhasil masuk secara ilegal ke Ceuta pada Kamis (30/7). Kutipan Reuters Jumat (31/7) menyebutkan sebagian besar migran melintas sebelum tengah hari.
Warga Fnideq, Maroko, menuturkan area sekitar perbatasan dibanjiri ribuan orang sepanjang malam. Mereka semua berniat menyeberang ke wilayah Spanyol.
Bentrokan dan Korban Jiwa
Situasi memanas ketika otoritas setempat berupaya menghentikan kerumunan di dekat perbatasan. Bentrokan pun terjadi antara aparat keamanan dengan para migran.
Saksi mata Reuters melaporkan sedikitnya satu bus dan tujuh kendaraan hangus dibakar dalam insiden tersebut. Di antara para migran terdapat perempuan dan anak-anak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Spanyol mengumumkan Jumat (31/7) bahwa sedikitnya 18 orang tewas. Sebelumnya, dilaporkan sembilan jenazah ditemukan terkait penyerbuan ini.
Salah seorang migran menuturkan dirinya sempat terjebak dalam insiden desak-desakan saat berupaya menyeberang. “Saya takut kehilangan nyawa saya,” ucap migran yang enggan disebutkan namanya.
Militer Dikerahkan ke Perbatasan
Menyusul lonjakan gelombang migran, otoritas Spanyol mengerahkan pasukan tambahan dari unsur militer dan kepolisian ke Ceuta pada Kamis (30/7). Pasukan tersebut bertugas menghalau serbuan migran ilegal.
Di sisi lain, otoritas Maroko memperketat keamanan di gerbang perlintasan perbatasan. Aparat keamanan Maroko mengerahkan truk meriam air dan berulang kali memukul mundur para migran yang berusaha mendekati perbatasan.
Meskipun jalur penyeberangan telah diblokir, kelompok migran terus bergerak di sepanjang pantai. Mereka mencari rute di sekitar pagar perbatasan, bahkan beberapa bersiap berenang menyeberangi laut.
Faktor di Balik Lonjakan Migran
Penyebab pasti lonjakan mendadak aliran migran ilegal ke Ceuta belum diketahui. Namun, laporan Forbes dan The Guardian menyebutkan sejumlah faktor turut berkontribusi.
Politisi oposisi di Spanyol dan Eropa menyoroti sikap pro-imigrasi Perdana Menteri Pedro Sánchez. Mereka menuding kebijakan pemerintah Sánchez awal tahun ini yang memberikan status hukum kepada sekitar 500.000 imigran tanpa dokumen sebagai pemicu.
Sementara itu, sejumlah sumber pemerintah Maroko mengaitkan lonjakan tersebut dengan aktivitas organisasi kriminal yang marak di negara tersebut.
Redaksi Energi Juang News




