Energi Juang News, Washington- James Stewart mengalami sembelit atau susah buang air besar (BAB) selama sebulan.
Pada 15 November 2025, seorang staf pun menyuruh James untuk duduk di toilet. Tetap, ia tidak bisa buang air besar.
Dia memang memiliki riwayat disabilitas intelektual, riwayat sembelit, serta mengonsumsi obat-obatan dengan efek samping gastrointestinal berat. Karena itu, ia tinggal di rumah perawatan atau group home Clear Skies Ahead di Bazetta Township, Ohio, Amerika Serikat.
Baru-baru ini, pria 41 tahun itu ditemukan pingsan di kamar tidurnya. Melihat itu James langsung dilarikan ke rumah sakit, tetapi terlambat dan dinyatakan meninggal dunia.
Tenaga medis mencatat adanya perubahan warna pada perut serta pembengkakan ekstrem yang terasa keras saat disentuh. Tim autopsi juga menemukan usus besar James yang tersumbat tinja yang mengeras seberat lebih dari 9 kg.
Kondisi ini memicu tension pneumoperitoneum atau udara yang menumpuk di rongga perut akibat robekan kecil pada dinding usus.
“Tekanan di usus mendorong udara keluar ke rongga tubuhnya, dan itulah yang membunuhnya. James tidak seharusnya mati,” ujar pengacara keluarga James, Matt Mooney, dikutip dari The Sun.
“Jika ia (James diperlakukan dengan baik dan sesuai dengan perawatan, hal ini tidak akan terjadi,” tambahnya.
Pihak keluarga mengklaim bahwa staf di rumah perawatan telah gagal menangani berbagai tanda atau gejala yang dialami James, seperti perut yang membesar, memar, keluhan sakit perut berulang, hingga perubahan perilaku.
Gugatan yang disampaikan pihak keluarga menyebut James ‘tidak buang air besar selama beberapa minggu hingga sebulan. Meski kondisi James memburuk, pihak keluarga menyebut staf perawatan tidak menghubungi kerabat maupun tenaga kesehatan.
Bahkan, sehari sebelum kematiannya, James beserta dua staf menghadiri sesi telehealth psikiatri, tetapi tidak melaporkan gejala yang dialami James.
“Mereka seharusnya memperhatikan apakah James buang air besar. Mereka sudah tahu soal ini (riwayat sembelit), tetapi tetap tidak memperhatikannya,” tegasnya.
Redaksi Energi Juang News



