Energi Juang News, Garut– Gunung Guntur di Garut sudah lama menjadi lokasi penuh cerita mistis yang beredar dari mulut ke mulut. Para pendaki maupun warga setempat kerap membagikan kisah tak masuk akal yang mereka alami saat melintas di kaki gunung tersebut, mulai dari suara aneh, perubahan suasana mendadak, hingga perjumpaan dengan sosok-sosok yang tak pernah bisa dijelaskan secara logis. Cerita-cerita ini tumbuh dari tradisi lisan dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mitos paling terkenal adalah larangan meniup suling dan legenda maung bungkeleukan, yang dipercaya sebagai makhluk gaib penjaga kawasan itu. Dadan, salah satu warga senior Garut, mengakui bahwa cerita tersebut tidak tercatat dalam sejarah resmi Gunung Guntur. Namun bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya, kisah itu sudah menjadi bagian dari identitas leluhur mereka. “Cerita turun-temurun mah sok kitu, lain kudu aya dina buku,” ujar seorang warga yang ditemui di kaki gunung.
Meski mitos maung bungkeleukan tidak pernah terbukti, kejadian-kejadian janggal tetap sering terjadi. Sejak awal 2000-an, warga mencatat banyak peristiwa aneh, termasuk pendaki yang tersesat, suara geraman samar dari arah semak, hingga kabut pekat yang muncul sangat cepat. Bagi masyarakat sekitar, kejadian-kejadian tersebut adalah pengingat agar selalu menjaga sikap dan tidak melakukan tindakan sembrono, terutama di kawasan yang dianggap sakral.
Salah satu kasus paling menggemparkan adalah hilangnya Rizal, seorang pendaki yang tiba-tiba lenyap setelah buang air sembarangan di area yang diyakini keramat. Tim SAR menemukannya dua hari kemudian dalam keadaan linglung dan tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi. “Saya cuma ingat jalanan tiba-tiba jadi gelap semua, padahal masih sore,” katanya menurut warga yang mendengar ceritanya. Banyak yang percaya Rizal telah “dipermainkan” oleh penunggu Gunung Guntur karena melanggar etika yang dijunjung masyarakat setempat.
Namun di antara banyak kisah mistis, muncul cerita tentang Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut, yang bagi sebagian warga dianggap lebih menyeramkan karena melibatkan wujud yang tampak manusiawi. Atin, seorang ibu dua anak, mengaku pernah melihat sosok nenek renta dengan wajah pucat kekuningan, tubuh membungkuk, dan kain lusuh yang tampak sangat tua seolah sudah puluhan tahun tidak diganti. “Nenek itu nawarin kol sambil senyum, tapi matanya kosong banget, kayak bukan manusia,” ujar Atin saat menceritakan ulang pengalamannya.
Saat itu Atin sedang berjalan santai bersama suami dan anak-anaknya. Mereka menolak tawaran sang nenek dan melanjutkan pendakian ringan. Sekitar seratus meter kemudian, mereka memutuskan untuk kembali turun. Namun ketika melewati jalan yang sama, nenek itu hilang tanpa jejak. “Padahal jalannya lurus, enggak ada tempat ngumpet,” kata Atin kepada warga yang ditemuinya setelah kejadian. Seorang bapak tua yang duduk di warung kecil hanya mengangguk sambil berkata lirih, “Anjeun téh untung, Bu. Nu kitu mah lain salawasna némbongan.”
Atin kemudian menceritakan bahwa sosok itu tampak tak mungkin berjalan cepat karena tubuhnya benar-benar sangat tua, bahkan lebih tua daripada orang lanjut usia kebanyakan. Kulitnya tampak keriput ekstrem dan tangannya gemetar ketika menawarkan kol. Hal ini membuat hilangnya sang nenek terasa semakin tidak masuk akal. “Sumpah, saya masih ingat suara seraknya waktu bilang ‘Neng, tos buruan diambil kol na,’” kenang Atin dengan wajah masih terkejut saat diwawancara ulang oleh tetangganya.
Beberapa warga yang mendengar cerita Atin mengaku pernah mendengar kisah serupa. Konon, sosok nenek itu dipercaya sebagai arwah seorang pedagang sayur era lama yang pernah tersesat dan meninggal di lereng Gunung Guntur puluhan tahun lalu. Menurut cerita, ia sering muncul ketika ada keluarga yang berjalan bersama, seolah mencari perhatian atau meminta sesuatu yang tidak pernah bisa ia sampaikan semasa hidup. “Biasanya kalau muncul, tandana aya nu kudu dijaga sikap,” ujar seorang warga tua bernama Darma.
Selain kisah nenek penjual kol, warga Garut juga sering melaporkan suara gamelan samar yang terdengar dari arah puncak, cahaya merah kecil yang bergerak di antara pepohonan, hingga wangi bunga melati yang muncul tiba-tiba. Berbagai pengalaman ini semakin menegaskan bahwa Gunung Guntur bukan sekadar tempat wisata alam, tetapi ruang yang menyimpan dimensi yang tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia biasa. Banyak penduduk berpesan agar siapapun yang datang harus menjaga tutur kata.
Hingga kini, legenda Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut tetap menjadi cerita yang hidup di tengah masyarakat. Meski tidak ada bukti visual atau dokumentasi, pengalaman Atin dan sejumlah saksi lain memperkuat anggapan bahwa gunung tersebut dihuni berbagai entitas yang tidak semua orang mampu lihat. Di balik keindahannya, Gunung Guntur selalu mengingatkan setiap pengunjung bahwa alam, sejarah, dan dunia tak kasat mata berjalan berdampingan, dan bahwa setiap langkah harus disertai rasa hormat kepada apa yang mungkin tidak terlihat.
Redaksi Energi Juang News



