Selasa, Maret 3, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hilangnya Dzikri di Kawah Ijen Saat Fajar

Misteri Hilangnya Dzikri di Kawah Ijen Saat Fajar

Energi Juang News,Jateng- Peristiwa Hilangnya Dzikri di Kawah Ijen bermula pada Rabu (18/2) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Dzikri bersama dua temannya mendaki Kawah Ijen di wilayah Banyuwangi untuk mengisi waktu libur dari pondok pesantren tempatnya belajar. Sebagai warga lokal, Dzikri sebenarnya cukup mengenal medan pendakian tersebut. Mereka berhasil mencapai puncak dan menikmati panorama matahari terbit di sunrise point. Cahaya jingga perlahan memecah gelap, memantulkan warna emas pada kabut tipis yang menggantung di atas kawah. “Masya Allah, indah banget,” ucap salah satu temannya terharu. Dzikri hanya tersenyum, matanya terpaku pada ufuk timur. Namun ketika mereka hendak turun, suasana mendadak berubah. Kabut kembali turun lebih tebal dari sebelumnya. Dalam hitungan menit, jarak pandang menyempit drastis. “Zikri, kamu di belakang kan?” teriak temannya. Tak ada jawaban. Langkah kaki yang tadi terdengar kini menghilang. Mereka mengira Dzikri hanya tertinggal beberapa meter, tetapi saat sampai di bawah, sosoknya tak kunjung muncul. Kepanikan mulai merambat seperti api kecil yang cepat membesar. Panggilan demi panggilan menggema di lereng, namun hanya dibalas gema kosong. Sejak saat itulah tragedi pendaki Ijen itu dimulai, mengubah perjalanan biasa menjadi kisah hilang di Gunung Ijen yang membuat bulu kuduk meremang.

Kabar hilangnya Dzikri menyebar cepat di kalangan warga desa sekitar. Pagi itu, suasana pos pendakian mendadak ramai. Beberapa warga berkumpul dengan wajah cemas. “Anak itu orang sini, hafal jalur. Mustahil kalau cuma tersesat biasa,” ujar seorang bapak paruh baya dengan nada yakin. Seorang ibu menimpali lirih, “Gunung itu ada penunggunya. Kadang kalau lagi ‘diambil’, susah dicari.” Percakapan-percakapan bernuansa mistis mulai terdengar, menambah ketegangan yang sudah terasa. Tim pencarian segera dibentuk, melibatkan berbagai unsur. Nama Dzikri dipanggil berulang kali melalui pengeras suara, menyusuri setiap sudut jalur. Kabut siang itu tak kunjung sepenuhnya menghilang, seakan sengaja menyembunyikan sesuatu. Seorang relawan berkata pelan kepada rekannya, “Saya tadi seperti dengar langkah di atas, tapi pas dilihat nggak ada siapa-siapa.” Rekannya hanya diam, wajahnya pucat. Gunung itu seolah bermain-main dengan logika manusia, menghadirkan ilusi suara dan bayangan yang menipu mata. Setiap batu besar dan lekukan tebing diperiksa. Namun hingga malam turun kembali, tak ada tanda keberadaan Dzikri. Warga mulai berkumpul untuk berdoa bersama, berharap keajaiban terjadi. Di tengah doa-doa yang dipanjatkan, rasa takut perlahan berubah menjadi kecemasan mendalam yang sulit dihapus.

Keajaiban itu akhirnya datang menjelang waktu berbuka puasa, Kamis (19/2) sekitar pukul 17.00 WIB. Tim SAR menemukan Dzikri tepat di lokasi sunrise point—tempat yang sebelumnya telah disisir berulang kali. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyebutkan korban ditemukan di tebing dengan elevasi kemiringan 6,7° dan jarak sekitar 890 meter dari LKP. “Korban berada di tebing dan setelah upaya evakuasi vertical rescue hampir satu jam, berhasil dibawa ke atas,” jelasnya. Metode vertical rescue dilakukan dengan hati-hati karena posisi korban cukup berbahaya. Anehya, meski telah melewati malam dingin di ketinggian dengan paparan gas belerang, kondisi fisiknya utuh tanpa luka serius. Seorang petugas berbisik, “Ini nggak masuk akal, semalam suhu bisa sangat ekstrem.” Yang lebih mengkhawatirkan justru kondisi psikisnya. Dzikri tampak linglung, tatapannya kosong seperti melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Ketika ditanya apa yang terjadi, ia hanya berbisik pelan, “Ada yang memanggil saya… dari kabut.” Kalimat itu membuat beberapa orang saling pandang dengan wajah tegang.

Setelah berhasil dievakuasi ke Pos Paltuding pukul 17.50 WIB, Dzikri segera dibawa menggunakan ambulans menuju Puskesmas Licin untuk mendapatkan perawatan intensif. Rusdi selaku Kepala TWA Kawah Ijen mengatakan, “Kami sedang antar ke Puskesmas Licin, dan sekarang masih belum bisa diajak komunikasi, tampak linglung.” Di dalam ambulans, seorang perawat mencoba menenangkan Dzikri. “Tenang ya, kamu sudah selamat.” Namun Dzikri justru menutup telinganya dan berbisik, “Suara itu masih ada… jangan biarkan dia mendekat.” Kalimatnya terputus-putus, membuat suasana semakin mencekam. Beberapa warga yang ikut mengantar hanya bisa membaca doa. Di luar, langit senja berubah merah gelap, seolah menggemakan ketegangan yang belum sepenuhnya reda.

Operasi SAR resmi ditutup pukul 18.00 WIB setelah seluruh unsur—TNI-Polri, BKSDA, BPBD, relawan, mapala, pelaku wisata, perangkat desa, hingga keluarga korban—menyatakan pencarian tuntas. “Alhamdulillah korban ditemukan hidup,” ujar Made Oka penuh syukur, sekaligus mengimbau para pendaki untuk selalu mematuhi prosedur keselamatan. Namun bagi warga, kisah ini belum selesai. Malam harinya, beberapa orang mengaku melihat cahaya samar di sekitar sunrise point. “Seperti ada bayangan berdiri di sana,” kata seorang penjaga warung. Yang lain menimpali, “Jangan-jangan yang kemarin itu belum benar-benar pergi.” Cerita berkembang liar, menambah lapisan horor pada peristiwa tersebut.

Beberapa hari setelah kejadian, Dzikri mulai bisa berbicara meski terbata. Ia mengaku saat itu mendengar suara seseorang memanggil namanya dari balik kabut. “Awalnya saya kira teman saya bercanda,” tuturnya pelan. “Tapi suaranya makin jauh, dan saya seperti ditarik mengikuti.” Ia merasa berjalan cukup lama, padahal menurut pencarian, jaraknya tak sejauh itu. “Kabutnya tebal sekali, lalu tiba-tiba saya sendirian di tebing.” Ketika ditanya bagaimana ia bertahan dari dingin dan gas belerang, Dzikri hanya menggeleng. “Saya seperti tidak merasakan apa-apa.” Pengakuan itu membuat beberapa warga merinding. Seorang sesepuh desa berkata, “Gunung itu kadang memperlihatkan kuasanya. Tidak semua orang bisa menjelaskannya dengan akal.”

Isu mistis semakin kuat ketika seorang relawan mengaku area sunrise point sudah diperiksa berkali-kali sebelum akhirnya Dzikri ditemukan di sana. “Kami yakin tempat itu kosong,” katanya. “Tapi sore itu dia seperti tiba-tiba ada.” Spekulasi bermunculan—apakah ia tersesat biasa, mengalami halusinasi karena kelelahan, atau benar-benar mengalami peristiwa di luar nalar? Para pendaki lain mulai lebih waspada. Beberapa bahkan membatalkan rencana mendaki dalam waktu dekat. “Saya nggak berani lagi naik sendirian,” ujar seorang mahasiswa. Ketakutan merambat, menyelimuti jalur pendakian dengan aura berbeda dari sebelumnya.

Kini, setiap kali kabut turun lebih cepat di lereng Ijen, warga teringat kisah tersebut. Orang-orang berbisik tentang suara di antara belerang, tentang bayangan yang berjalan tanpa jejak. Misteri sunrise point Ijen menjadi cerita yang diceritakan ulang di warung kopi dan pos ronda. Dzikri sendiri memilih lebih banyak diam. Ia jarang lagi mendaki, dan setiap kali mendengar kata “fajar”, wajahnya berubah pucat. Seolah ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di sana, di antara kabut dan tebing sunyi.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa alam menyimpan rahasia yang tak selalu bisa dijelaskan. Misteri Hilangnya Dzikri di Kawah Ijen bukan sekadar berita penyelamatan, tetapi juga cerita tentang batas tipis antara logika dan kepercayaan. Di balik keindahan matahari terbit dan pesona blue fire, tersimpan sisi lain yang tak terlihat. Warga kini selalu mengingatkan pendaki, “Jangan pernah merasa paling tahu gunung. Hormati dia, atau dia akan menunjukkan kuasanya.” Dan ketika malam turun serta kabut kembali menyelimuti puncak, seakan terdengar lagi bisikan lirih yang pernah memanggil seorang remaja pada dini hari itu.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments