Selasa, Maret 3, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaArus yang Menyimpan Mata Munding Dongkol

Arus yang Menyimpan Mata Munding Dongkol

Energi Juang News, Jabar- Air sungai tampak tenang sore itu. Permukaannya memantulkan langit jingga, seolah tidak pernah menyimpan bahaya. Anak-anak masih bermain di tepian, sementara beberapa warga mencuci pakaian di batu besar yang licin. Suasana desa terasa damai, hanya suara gemericik air dan percakapan ringan yang terdengar.

Namun bagi warga lama, ketenangan air bukan jaminan keselamatan.

Di sebuah kampung di wilayah Cimahi, cerita tentang makhluk air telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Terutama bagi mereka yang tinggal dekat aliran sungai yang membelah kawasan Bandung Raya.

Suatu senja, seorang pemuda bernama Dani memutuskan mandi di sungai meski air mulai keruh setelah hujan di hulu.

Seorang lelaki tua yang duduk di tepi jalan berteriak,
“Jangan lama-lama di air kalau sudah sore!”

Dani hanya tertawa kecil.
“Airnya tenang, Pak.”

Lelaki itu menggeleng pelan.
“Justru yang tenang itu yang berbahaya.”

Beberapa menit kemudian, warga melihat Dani berdiri kaku di tengah arus dangkal. Ia menatap ke satu titik di permukaan air.

“Ada apa, Dan?” teriak seorang teman.

Dani tidak menjawab. Wajahnya pucat.

Tiba-tiba ia mundur cepat, seolah ada sesuatu yang bergerak di bawah kakinya.

“Ada yang pegang kaki saya!” teriaknya panik.

Warga berlari menolong. Namun saat mereka tiba, air kembali tenang tanpa jejak.

Malam itu, peristiwa tersebut menjadi pembicaraan di balai warga di kawasan Kampung Babakan Loa. Lampu redup menggantung, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Seorang tokoh budaya setempat berkata pelan,
“Kalau air berputar tanpa sebab, itu bukan arus biasa.”

Dani bertanya dengan suara bergetar,
“Apa yang ada di bawah air itu, Pak?”

Seorang warga lain menjawab lirih,
“Penjaga sungai.”

Seorang ibu menyela dengan nada cemas,
“Dulu paman saya hilang di sana. Airnya juga tenang waktu itu.”

Tokoh budaya tersebut menatap semua yang hadir.
“Di sini orang mengenalnya sebagai jurig cai.”

Seorang pemuda yang duduk di belakang menambahkan,
“Ada yang bilang wujudnya seperti gulungan tikar yang hidup… berputar di air.”

“Lulub Samak,” sahut warga lain.

Suasana hening sejenak sebelum seorang lelaki paruh baya berbicara dengan suara rendah.

“Kalau yang satu lagi muncul… biasanya banjir besar menyusul.”

Dani menoleh cepat.
“Yang mana?”

Lelaki itu menjawab sambil menatap lantai,
“Yang menyerupai kerbau.”

Beberapa hari kemudian, hujan turun lebih deras dari biasanya. Sungai mulai meluap dan arus menjadi keruh.

Seorang warga melihat sesuatu bergerak di permukaan air saat senja.

“Airnya seperti mendidih…” bisiknya.

Ketika ia mendekat, ia melihat bentuk besar muncul perlahan dari pusaran arus. Seperti punggung makhluk raksasa yang bergerak tenang.

Ia berlari kembali ke kampung.

“Airnya hidup! Ada yang bangun!” teriaknya.

Warga berkumpul di tepi sungai. Tidak ada yang berani mendekat.

Seorang lelaki tua berbisik,
“Dia terbangun karena aliran air terganggu.”

Seorang ibu bertanya,
“Siapa yang terbangun?”

Tokoh budaya menjawab pelan,
“Munding Dongkol.”

Beberapa warga menunduk hormat ke arah sungai.

Malam itu, hujan turun tanpa henti. Arus sungai semakin deras dan air mulai memasuki halaman rumah warga.

Di tengah gemuruh hujan, Dani mendengar suara berat seperti langkah sesuatu di dalam air.

Ia keluar rumah dan melihat sungai meluap dengan arus berputar kuat.

Seorang tetangga menarik lengannya.
“Jangan lihat terlalu lama!”

“Kenapa?” tanya Dani.

“Kalau melihat matanya, kamu akan dikejar.”

Keesokan harinya, banjir benar-benar datang. Beberapa rumah terendam, namun tidak ada korban jiwa.

Warga percaya kemunculan makhluk itu adalah peringatan.

Beberapa hari setelah air surut, masyarakat mengadakan kirab budaya di kawasan Pasirkaliki, wilayah Cimahi Utara. Arak-arakan seni tradisional menampilkan sosok kerbau besar dari bahan injuk yang diusung keliling kampung.

Seorang anak bertanya kepada ayahnya,
“Itu apa, Yah?”

Ayahnya menjawab lembut,
“Pengingat agar kita tidak merusak air.”

Kirab berakhir di lapangan yang dulu dikenal sebagai Lapangan Sriwijaya Cimahi yang kini menjadi Pasar Antri Cimahi. Musik tradisional mengiringi tarian yang meniru gerakan air mengalir.

Namun pada senja yang sama, seorang anak kecil yang bermain dekat sungai mendengar suara aneh.

Seperti napas berat dari dalam air.

Ia berlari pulang sambil menangis.

“Ada yang lihat saya dari bawah!”

Malam itu, warga kembali menutup pintu lebih awal. Sungai kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Tokoh budaya desa berkata kepada Dani,
“Makhluk air tidak selalu jahat. Mereka hanya menjaga keseimbangan.”

“Kalau keseimbangan terganggu?” tanya Dani.

“Air akan menagih kembali.”

Sejak kejadian itu, tidak ada warga yang berani mandi saat senja. Mereka percaya sungai bukan hanya aliran air, tetapi ruang hidup bagi sesuatu yang tidak terlihat.

Dan setiap kali arus tiba-tiba berputar tanpa angin, orang-orang memilih menjauh—karena mereka tahu, ada mata yang terbuka di dalam air, menunggu dunia manusia kembali lupa.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments