Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)
Dalam beberapa tahun terakhir, panorama hubungan internasional ibarat sinetron tanpa jeda: tegang, absurd, dan sukar ditebak. Dari kawasan Asia Tenggara yang remuk redam, cobaan Timur Tengah AS/Iran, hingga konflik Rusia–Ukraina di Eropa Timur, drama geopolitik ini tak hanya mempengaruhi keamanan, tetapi juga merembet ke perekonomian global dan Indonesia. Mari kita uraikan apa yang sebenarnya terjadi tanpa dramatisasi berlebihan, tapi juga tanpa filter maaf-maafan.
Asia Tenggara: Panorama “Damai Tapi Gak Damai”
Di kawasan ASEAN, ketegangan tak selalu berarti perang besar. Konflik seperti ketegangan perbatasan antara Thailand dan Kamboja sempat meletus kembali pada 2025, meski kemudian ada perjanjian damai lewat Kuala Lumpur Peace Accord yang menandai kesepakatan gencatan senjata dan upaya normalisasi hubungan.
Namun itu hanya satu lapis dari masalah lebih luas: sengketa di Laut China Selatan, distribusi pengaruh antara kekuatan besar seperti AS dan China, serta persaingan kepentingan ekonomi dan keamanan yang terus bergerak dinamis. ASEAN memang berperan sebagai aktor diplomasi, tetapi realitasnya tetap rumit karena negara-negara anggota punya kepentingan berbeda dalam isu maritim atau keamanan regional.
Timur Tengah: “Horror Movie” Diplomasi Global
Peristiwa terkini menunjukkan eskalasi serius antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini berdampak langsung pada alur geopolitik global. Serangan militer terhadap Iran dan reaksi balasan termasuk pada blokade tidak resmi di Selat Hormuz jalur transit vital minyak dunia menciptakan krisis energi yang berdampak luas pada pasar global.
Baca juga : Pasca Agresi Terhadap Iran, ‘Board of Peace’ Hanya Ilusi Perdamaian
Harga minyak melonjak, pasar saham regional turun, dan ketidakpastian geopolitik menyebar ke seluruh pasar pertanda betapa rentannya sistem ekonomi global. Sentimen perang tak lagi abstrak; energi, logistik, dan investasi kini langsung bersinggungan dengan realitas konflik.
Eropa Timur: Rusia–Ukraina, War of Attrition
Konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung berlarut sejak 2022 masih memegang implikasi besar terhadap stabilitas politik dan ekonomi Eropa. Dana bantuan internasional, sanksi ekonomi, dan kerusakan infrastruktur Ukraina memperlambat pertumbuhan di wilayah itu, bahkan setelah pembiayaan IMF dipercepat untuk membantu stabilisasi ekonomi.
Ini bukan perang konvensional yang berpindah ke ibu kota lain tetapi perang berkepanjangan yang merusak perekonomian, menghancurkan infrastruktur, dan menciptakan ketidakpastian jangka panjang bagi investasi dan pasar energi Eropa.
Bagaimana Dengan Ekonomi Dunia & Indonesia?
Proyeksi Ekonomi Global
Meski konflik geopolitik meningkat, data ekonomi terbaru tidak menunjukkan dunia sedang menuju jurang resesi global dalam waktu dekat. Menurut IMF, pertumbuhan PDB global diperkirakan sekitar 3,3% pada 2026, menggambarkan resiliensi ekonomi dunia meskipun di tengah ketidakpastian geopolitik.
Namun pertumbuhan ini tidak merata; negara maju seperti AS masih tumbuh, sementara beberapa negara berkembang dan kawasan lain menghadapi tantangan biaya tinggi, inflasi, atau ketidakseimbangan fiskal. Selain itu, lonjakan utang global mencapai rekor US$348 triliun di akhir 2025, yang menunjukkan lonjakan risiko fiskal yang terus meningkat.
Dampaknya Untuk Indonesia
Indonesia tak luput dari dampak ini. Konflik energi di Timur Tengah dan gangguan pasokan minyak bisa memicu tekanan inflasi domestik karena harga energi dan logistik melonjak. Bahkan Bank Dunia telah memperingatkan konflik geopolitik global akan menghambat pertumbuhan ekspor dan impor di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Namun sisi positifnya: Indonesia masih diproyeksikan tumbuh stabil karena konsumsi domestik yang kuat dan pemulihan sektor pariwisata. Pemerintah diharapkan terus memperkuat kebijakan mitigasi untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Apakah Perang Dunia III Akan Terjadi?
Jawabannya: tidak ada bukti kuat bahwa saat ini perang dunia yang lengkap seperti tahun 1940-an sudah akan terjadi. Konflik regional meningkat, ya tetapi aliansi dan interdependensi ekonomi global justru membuat negara-negara besar berhati-hati dalam eskalasi maksimal. Meski risiko konflik meluas selalu ada, kebanyakan analis saat ini tetap melihat bahwa perang total global bukan skenario yang paling mungkin dalam jangka pendek.
Kesimpulan
Geopolitik global saat ini memang seperti sinetron penuh plot twist: konflik kecil yang bisa meledak, kebijakan ekonomi yang terus berubah, dan ketidakpastian pasar yang tak terduga. Asia Tenggara cenderung stabil secara diplomatik tetapi bukan tanpa ketegangan, Timur Tengah berada di ujung konfrontasi besar, dan Eropa Timur mengalami perang yang menguras energi dan dana.
Secara ekonomi, dunia tetap tumbuh meski perlahan dan Indonesia masih berada dalam jalur pertumbuhan positif. Tetapi jangan tertipu oleh narasi dystopian: tantangan ada, nyata, dan kompleks, tetapi skenario Perang Dunia III lengkap masih tetap merupakan kemungkinan ekstrem yang tidak didukung oleh data saat ini.
Redaksi Energi Juang News



