Kamis, April 2, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Pasar Bubrah: Pasar Gaib di Lereng Merapi

Misteri Pasar Bubrah: Pasar Gaib di Lereng Merapi

Energi Juang News,Jateng- Gunung Merapi selalu punya dua wajah. Di siang hari ia tampak megah dan indah, menarik para pendaki dari berbagai daerah untuk menaklukkan puncaknya. Namun ketika malam tiba, suasana di lerengnya berubah drastis. Angin menjadi lebih dingin, kabut turun perlahan, dan suara alam terasa berbeda.

Di salah satu titik paling terkenal di jalur pendakian, ada sebuah tempat bernama Pasar Bubrah.

Secara fisik, tempat ini hanyalah hamparan batu besar bekas letusan gunung. Tidak ada pohon rindang. Tidak ada warung atau bangunan. Hanya tanah vulkanik dan bebatuan yang berserakan sekitar satu kilometer dari puncak Merapi.

Namun banyak pendaki sepakat pada satu hal.

Malam di tempat ini terasa… tidak biasa.

Cerita ini bermula dari sekelompok pendaki yang tiba di Pasar Bubrah menjelang malam. Mereka berniat mendirikan tenda dan menunggu matahari terbit dari dekat puncak.

Angin malam mulai bertiup kencang saat mereka memasak makanan.

Salah satu dari mereka, Arga, memandang sekeliling yang gelap.

“Tempatnya luas banget ya… tapi rasanya kayak ada yang ngelihatin,” katanya pelan.

Temannya, Bima, tertawa.

“Ah, kamu kebanyakan nonton film horor.”

Tapi seorang porter lokal yang ikut mendampingi mereka justru terlihat serius.

“Kalau malam di sini, jangan banyak ngomong sembarangan,” katanya.

“Kenapa, Pak?” tanya Arga.

Porter itu menatap ke arah kegelapan di balik batu.

“Kadang tempat ini… jadi ramai.”

“Ramai gimana maksudnya?”

Porter itu hanya menjawab singkat.

“Pasar.”

Sekitar tengah malam, suasana berubah.

Kabut tipis turun menutup sebagian batu-batu besar di sekitar tenda. Api kompor sudah padam dan sebagian pendaki mulai tertidur.

Arga terbangun tiba-tiba.

Ia mendengar sesuatu.

Awalnya samar.

Seperti suara orang berbicara dari kejauhan.

Ia duduk dan mencoba mendengarkan lebih jelas.

Suara itu semakin banyak.

Ada suara orang menawar barang.

Ada langkah kaki.

Bahkan… suara alat musik tradisional seperti gamelan yang dimainkan pelan.

Arga menepuk bahu Bima.

“Bro… bangun.”

Bima membuka mata setengah sadar.

“Apaan?”

“Dengar itu.”

Bima terdiam.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah tegang.

“Ini… suara orang banyak.”

Mereka keluar dari tenda.

Tapi yang mereka lihat hanya hamparan batu kosong dan kabut tipis.

Tidak ada satu pun manusia.

Namun suara itu masih ada.

Seolah mereka berdiri di tengah pasar yang ramai.

Tak lama kemudian kabut semakin tebal.

Arga mengedipkan mata beberapa kali.

Lalu sesuatu terjadi.

Pemandangan di sekelilingnya berubah.

Batu-batu besar yang tadi terlihat kosong kini seperti dipenuhi orang-orang.

Ada pedagang duduk di tikar.

Ada pembeli berjalan di antara “lapak”.

Lampu minyak kecil berkelip di mana-mana.

Bima memegang lengan Arga dengan gemetar.

“Kamu lihat yang sama?”

Arga mengangguk pelan.

“Ini… pasar.”

Namun yang dijual bukan sayur atau makanan.

Di salah satu lapak terlihat daging mentah tergantung.

Di lapak lain… sesuatu yang membuat Arga hampir muntah.

Sebuah kepala manusia tergantung di kait besi.

Darahnya masih menetes.

“Ya Tuhan…” bisik Bima.

Seorang pedagang menoleh ke arah mereka.

Wajahnya pucat.

Kulitnya seperti mayat.

Matanya hitam tanpa cahaya.

“Cari apa…?” suara makhluk itu berat dan serak.

Arga mundur selangkah.

Bima menariknya.

“Jangan jawab… jangan lihat matanya.”

Beberapa sosok lain mulai memperhatikan mereka.

Ada yang bentuknya mirip manusia.

Ada juga yang aneh, dengan tubuh kurus tinggi dan kaki yang tidak menyentuh tanah.

Seorang wanita melayang pelan membawa nampan berisi sesuatu yang tertutup kain.

Ia berhenti di depan Arga.

“Beli?” katanya pelan.

Arga tidak berani membuka kain itu.

Namun bau amis yang keluar dari bawahnya membuat perutnya mual.

Tiba-tiba suara porter mereka terdengar keras dari arah tenda.

“JANGAN LIHAT! MASUK TENDA SEKARANG!”

Arga dan Bima seperti tersadar dari hipnosis.

Ketika mereka menoleh lagi…

Pasar itu menghilang.

Hanya ada batu, kabut, dan angin dingin.

Keesokan paginya porter itu menceritakan sesuatu.

Katanya kejadian seperti itu bukan pertama kali terjadi.

“Tempat ini sering disebut Pasar Bubrah,” katanya.

“Kalau malam tertentu… ada pasar yang tidak kelihatan manusia.”

Arga menelan ludah.

“Pasar… untuk siapa?”

Porter itu menjawab lirih.

“Untuk mereka.”

Ia juga menceritakan kisah lain yang lebih menyeramkan.

Beberapa tahun sebelumnya, dua pendaki pernah bercanda saat mendengar suara petir.

Salah satu dari mereka berkata sambil tertawa,

“Wah Tuhan, foto saya lagi dong!”

Tak lama kemudian petir menyambar lagi.

Namun setelah itu terdengar suara tawa perempuan yang sangat nyaring dari kegelapan.

Keesokan harinya kedua pendaki itu jatuh sakit parah.

Mereka harus digotong turun gunung.

Dan sampai sekarang, kata warga, mereka masih sering mengalami mimpi buruk tentang seorang perempuan yang tertawa di lereng gunung.

Bagi masyarakat sekitar, tempat ini tidak bisa dipisahkan dari dua sosok gaib yang dipercaya menjaga Gunung Merapi.

Yaitu Eyang Sapujagat dan Mbah Petruk.

Konon keduanya adalah penguasa alam gaib Merapi.

Seorang warga desa pernah berkata kepada Arga ketika ia turun gunung.

“Pasar itu bukan untuk manusia.”

“Lalu kenapa kami bisa melihatnya?” tanya Arga.

Orang tua itu tersenyum tipis.

“Kadang mereka sengaja memperlihatkan.”

“Untuk apa?”

“Supaya manusia ingat… gunung ini bukan cuma milik kita.”

Konon aktivitas paling ramai terjadi pada malam Satu Suro.

Pada malam itu, Pasar Bubrah dipercaya menjadi tempat berkumpulnya makhluk gaib dari berbagai penjuru.

Beberapa pendaki pernah mendengar suara gamelan jelas sekali.

Ada juga yang mencium aroma sesajen.

Bahkan ada yang melihat rombongan orang berpakaian tradisional membawa kepala sapi menuju arah puncak.

Yang paling aneh, beberapa dari mereka berjalan… tanpa menyentuh tanah.

Pendakian memang menyenangkan. Gunung menawarkan pemandangan luar biasa yang sulit dilupakan.

Namun alam juga memiliki sisi misterius yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments