Energi Juang News,Malang- Kabut turun perlahan menyelimuti jalur alternatif Klemuk saat malam mulai menelan sisa cahaya senja. Jalan yang menurun tajam itu terlihat seperti pita hitam yang membelah hutan, sunyi dan dingin. Bagi pengendara yang melintas, suasana di sana selalu terasa berbeda—lebih berat, seolah ada mata tak kasatmata yang mengawasi setiap langkah roda yang bergulir.
Mardi (26) perantau yang sedang mencari jati diri tiba di Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, tepat saat langit berubah gelap. Warga setempat sudah terbiasa dengan cerita-cerita yang beredar, namun tetap saja, mereka tidak pernah benar-benar menganggapnya biasa.
“Mas mau ke makam itu?” tanya seorang pria tua bernama Poyo (63), sambil menatap jalan menurun yang menghilang di balik pepohonan.
Mardipun mengangguk, Tampak Pak Poyo menghela napas panjang.
“Kalau malam, jangan lama-lama di sana. Banyak yang datang, tapi gak semua pulang dengan perasaan yang sama.”
Menurut Poyo, makam yang kini dikenal sebagai makam Mbah Klemuk sudah ada sejak ia kecil. Namun tak ada satu pun warga yang benar-benar tahu siapa yang dimakamkan di sana.
“Katanya sih, dulu ada nenek tua,” ujar Poyo pelan.
“Dia bukan orang sini. Setiap hari jalan kaki, bawa dagangan, lewat hutan ini.”
Nenek itu, katanya, hidup sederhana. Berangkat pagi, pulang sore, menyusuri jalur yang saat itu masih berupa jalan kecil sejak sekitar tahun 1904.
Hingga suatu hari, takdirnya berakhir tragis.
“Dia pulang naik cikar,” lanjut Poyo.
“Tapi pas di tikungan itu… cikar terguling. Neneknya meninggal di tempat.”
Warga yang menemukan jasadnya kebingungan. Tak ada yang mengenali wajahnya, tak ada keluarga yang datang mencari.
“Akhirnya dikubur di situ juga,” katanya sambil menunjuk arah gelap di kejauhan.
“Ya, jadi makam yang sekarang itu.”
Ketika jalur Klemuk mulai diaspal sekitar tahun 2014, makam tersebut tidak dipindahkan. Anehnya, pekerja proyek pun konon enggan menyentuh area itu.
“Katanya ada yang coba ganggu makamnya,” kata seorang warga lain yang ikut bergabung, Pak Roni.
“Besoknya langsung sakit. Ada juga yang kecelakaan.”
Sejak saat itu, makam tersebut dibiarkan tetap berdiri di pinggir jalan, di antara semak dan pohon besar yang menaungi.
Namun yang membuat kisah ini semakin mencekam adalah rentetan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut. Penyebab kecelakaan yang beragam, semisal Rem blong, mobil terguling bahkan motor terseret hingga jurang. Dan hampir semuanya terjadi selalu di sekitar titik makam itu.
“Orang sini percaya,” ujar Pak Roni sambil menatap serius,
“Setiap kecelakaan itu… ada kaitannya sama penunggunya.”
Mardi terdiam. lanjut berkata “Penunggu?” tanya Mardi pelan.
Pak Ronipun mengangguk, “Bukan cuma nenek. Ada juga yang bilang… ular besar.”
Seiring waktu, makam tersebut justru menjadi tempat yang didatangi banyak orang. Bukan untuk sekadar melihat, tapi untuk bertapa.
Orang-orang datang di malam tertentu—malam Jumat Kliwon, atau saat bulan purnama.
“Kalau mereka berhasil ketemu, hidupnya bisa berubah” kata Pak Poyo, “Ketemu siapa?” Mardi bertanya. Pak Poyo menatap Mardi dalam-dalam.
“Kadang nenek itu… kadang ular.”
Konon, sosok ular astral sering muncul melingkar di sekitar makam. Ukurannya besar, matanya menyala dalam gelap.
Namun yang paling sering dilihat adalah sosok nenek tua.
Punggungnya bungkuk yang sedang membawa pikulan sedang berjalan pelan di pinggir jalan.
Seorang pemuda desa, Ardi (38), pernah mengalami langsung kejadian itu.
“Saya pulang malam, naik motor,” ceritanya dengan suara bergetar.
“Tiba-tiba ada nenek di depan. Jalan pelan banget.”
“Saya klakson berkali-kali, tapi dia gak minggir.”
“Pas saya dekat… dia hilang.”
Ardi berhenti sejenak, lalu menelan ludah.
“Setelah itu… motor saya langsung mati.”
Karena itulah, hingga sekarang, banyak pengendara yang membunyikan klakson saat melintas di jalur Klemuk.
Menyalakan klakson bukan sekadar kebiasaan. Tapi itu bentuk permisi pengendara yang melintasi tempat tersebut.
“Kalau gak klakson, rasanya kayak ada yang ngikutin,” kata seorang ojek online yang sering melintas.
“Minimal kita kasih tanda lah… biar selamat.”
Bahkan beberapa pengemudi mengaku melihat bayangan di kaca spion setelah melewati makam.Namun ia melihat bayangan yang tidak seharusnya ada.
Makam Mbah Klemuk kini sudah memiliki bangunan sederhana—dinding bata, atap seng, dan bendera merah putih yang berkibar di depannya.
Yang merawatnya, kata Poyo, adalah seseorang yang pernah “mendapatkan” sesuatu dari sana.
“Dia pernah bertapa,” ujar Poyo.
“Dan katanya… berhasil.”
“Berhasil gimana?” tanya saya.
Poyo hanya tersenyum tipis.
“Hidupnya berubah. Dari susah jadi berkecukupan.”
Namun sejak saat itu, orang tersebut tidak pernah meninggalkan makam.
Seolah ada ikatan yang tak terlihat.
Mardi memutuskan untuk melihat langsung makam itu.
Langkah terasa berat saat mendekat. Udara dingin menusuk, dan suara serangga malam terdengar seperti bisikan panjang.
Di depan makam, Mardi berdiri diam.
Tak ada apa-apa.
Hanya batu nisan berwarna hijau, sunyi, dan sederhana.
Namun entah kenapa, dada terasa sesak.
Seperti ada sesuatu yang berdiri di belakang Mardi. Perlahan, ia menoleh namun tak terlihat apapun.
Tapi saat Mardi kembali menatap makam…ia melihat bayangan.
Seorang nenek bungkuk yang sedang membawa pikulan, ia berdiri tepat di samping nisan.
Mardi membeku.
“Sudah dibilang… jangan lama-lama di sini.”
Suara itu tiba-tiba terdengar di belakang saya.
Mardi menoleh cepat.
Poyo berdiri di sana, menatap nya dengan wajah serius.
“Kalau dia sudah menampakkan diri,” katanya pelan,
“artinya kamu sudah diperhatikan.”
Misteri Mbah Klemuk bukan sekadar cerita lama yang dilupakan waktu. Ia hidup di antara jalan sunyi, di antara tikungan tajam yang sering merenggut nyawa.
Bagi sebagian orang, itu hanya mitos.
Namun bagi warga sekitar, itu adalah kenyataan yang harus dihormati.
Karena di jalur itu, bukan hanya manusia yang melintas.
Dan tidak semua yang terlihat… benar-benar hidup.
Redaksi Energi Juang News



