Energi Juang News, Jakarta – Kelompok Houthi di Yaman pada Rabu (16/9/2026) mengaku telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Kerajaan Arab Saudi. Insiden ini terjadi saat pesawat tersebut menjalankan apa yang disebut Houthi sebagai “operasi permusuhan”. Kelompok itu kemudian merilis video jet tempur F-15 Saudi yang terbakar untuk menguatkan klaim tersebut.
Serangan Houthi terhadap sejumlah target strategis di wilayah Arab Saudi beberapa bulan terakhir sangat gencar dan membuat Arab Saudi kewalahan. Arab Saudi terlibat dalam pertemuan rahasia para komandan militer sejumlah negara Arab, Israel dan AS di Jerman, karena factor Houthi tersebut. Bahkan serangan Houthi berdampak penutupan pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi dan menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak mentah global.
Laporan terbaru, Arab Saudi diberitakan mulai kekurangan rudal pencegat pencegat untuk menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman. Riyadh pun meminta bantuan sejumlah sekutu regional dan negara Barat ketika ketegangan dengan kelompok tersebut berlarut-larut. Siapa sebenarnya Houthi dan mengapa berperang melawan Arab Saudi?
Houthi lahir dari konflik internal Yaman, selanjutnya berubah menjadi kekuatan militer yang mampu menyerang Arab Saudi dan mengancam salah satu jalur perdagangan laut terpenting dunia.
Akar Kelahiran Houthi
Mengapa mereka memerangi Arab Saudi? Dan mengapa kelompok dari salah satu negara termiskin di Timur Tengah ini mampu bertahan menghadapi kekuatan militer Arab Saudi selama bertahun-tahun? Jawabannya tidak sesederhana “Houthi adalah proksi Iran”. Kelompok Houthi, yang nama resminya Ansar Allah, merupakan gerakan politik, keagamaan dan bersenjata yang berakar di Yaman utara.
Pada 1990-an, gerakan kebangkitan identitas Zaidi berkembang di tengah ketidakpuasan terhadap pemerintah Yaman dan pengaruh Arab Saudi serta Amerika Serikat (AS). Pada 2004, Hussein Badreddin al-Houthi memimpin pemberontakan terhadap pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh. Dia tewas pada tahun yang sama, tetapi gerakan yang kemudian dikenal sebagai Houthi justru terus berkembang.
Kepemimpinan kemudian beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang hingga kini menjadi pemimpin utama kelompok tersebut. sejak 2004. Jadi Houthi sudah menjadi gerakan pemberontak Yaman jauh sebelum perang dengan Arab Saudi dimulai pada 2015.
September 2014, pasukan Houthi dan sekutunya merebut Sana’a, ibu kota Yaman. Mereka kemudian memperluas pengaruh ke wilayah lain dan bergerak menuju selatan. Pada awal 2015, Presiden Hadi melarikan diri dari Sana’a ke Aden setelah Houthi mengambil alih sejumlah institusi pemerintahan. Pengambilalihan Sana’a oleh Houthi sebagai salah satu titik balik utama yang kemudian membawa Yaman menuju perang terbuka.
Bagi Arab Saudi, perkembangan ini merupakan ancaman strategis. Sebab Yaman bukan negara yang jauh, melainkan berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Mengapa Arab Saudi Memerangi Houthi? Arab Saudi melihat dua persoalan sekaligus. Pertama, Houthi muncul sebagai kekuatan bersenjata yang menguasai ibu kota negara tetangga Saudi. Kedua, hubungan Houthi yang semakin erat dengan Iran, rival utama Saudi di kawasan. Jika Houthi mampu menguasai sebagian besar Yaman, Riyadh menghadapi kemungkinan munculnya kekuatan yang bersekutu dengan Iran tepat di perbatasan selatannya. Presiden Hadi kemudian meminta bantuan negara-negara Teluk dan Liga Arab.
Pada 26 Maret 2015, koalisi pimpinam Arab Saudi melancarkan operasi militer terhadap posisi Houthi di Yaman. PBB mengonfirmasi intervensi tersebut dilakukan setelah pemerintah Hadi meminta bantuan pada Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya. Riyadh berharap intervensi militer dapat menghentikan Houthi dan mengembalikan pemerintahan Hadi. Namun perang justru berlangsung selama bertahun-tahun.
Mengapa Houthi Sulit Dikalahkan?
Salah satu jawabannya adalah faktor geografi. Yaman memiliki kawasan pegunungan yang sangat sulit dikuasai melalui serangan udara. Arab Saudi memiliki pesawat tempur dan sistem persenjataan modern. Houthi tidak perlu mengalahkan Arab Saudi dalam perang konvensional. Mereka hanya perlu bertahan. Inilah karakter perang asimetris. Kondisi yang mirip dengan Iran dalam menghadapi AS termasuk dalam strategi perang.
Houthi menggunakan jaringan lokal, medan pegunungan, pasukan bergerak, rudal dan drone untuk membuat biaya perang bagi lawannya terus meningkat. Kemampuan mereka juga berkembang selama perang. Dukungan Iran memainkan peran penting dalam proses tersebut. Iran memang menjadi salah satu pendukung utama Houthi.
Namun menyebut Houthi sebagai “boneka Iran” terlalu sederhana. Houthi mempunyai kepentingan politik sendiri. Mereka memiliki basis sosial di Yaman, menguasai wilayah, memiliki struktur pemerintahan dan mempunyai agenda domestik. Reuters juga mencatat bahwa hubungan Houthi dengan Iran sangat erat, tetapi kelompok tersebut tetap memiliki kepentingan dan kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Perang dengan Arab Saudi mengubah Houthi secara drastis. Kelompok yang sebelumnya bertempur khususnya dengan senjata darat berkembang menjadi kekuatan yang mampu meluncurkan rudal dan drone ke sasaran jauh. Bandara, pangkalan militer dan fasilitas energi Arab Saudi menjadi sasaran. Perubahan ini sangat penting.
Gencatan senjata yang diprakarsai PBB pada 2022 tidak menurunkan intensitas perang. Persoalan politik Yaman tetap belum terselesaikan. Houthi tetap menguasai Sana’a dan sebagian besar wilayah barat laut. Karena itu, ketika situasi regional kembali memburuk pada 2026, konflik lama dengan cepat mendapatkan momentum baru. Ancaman Houthi kemudian meluas jauh melampaui wilayah Saudi. Setelah perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina.
Serangan tersebut mengubah kelompok Yaman itu menjadi persoalan internasional. Sebab Laut Merah terhubung dengan Terusan Suez, salah satu jalur perdagangan utama antara Asia dan Eropa. Jika kapal tidak aman melewati Laut Merah, perusahaan pelayaran dapat mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika. Akibatnya perjalanan menjadi lebih panjang dan mahal. Namun, ancaman yang lebih besar berada di selatan Laut Merah. Pasalnya Bab el-Mandeb, adalah kartu truf Houthi.
Bab el-Mandeb merupakan selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Posisinya menjadikannya salah satu chokepoint penting dalam perdagangan global. Pada September 2026, Houthi semakin dekat dengan kawasan tersebut. Reuters melaporkan Houthi telah merebut kota pesisir Mocha dan bergerak menuju Kepulauan Hanish di Laut Merah. Pergerakan tersebut membawa mereka semakin dekat dengan Bab el-Mandeb. Jika Houthi mampu mengganggu pelayaran di kawasan itu, dampaknya tidak hanya dirasakan Arab Saudi.
Pada 15 September 2026, serangan Houthi terhadap sasaran di Saudi menyebabkan gangguan pada infrastruktur energi kerajaan tersebut. Serangan itu ikut mendorong kekhawatiran pasar minyak global. Masalahnya adalah lokasi, di mana Houthi berada dekat Bab el-Mandeb. Arab Saudi berada di dekat Laut Merah dan memiliki infrastruktur energi yang sangat penting. Sementara Selat Hormuz di sisi lain kawasan juga mengalami gangguan. Jika dua chokepoint tersebut terganggu secara bersamaan, dampaknya dapat menjalar ke pasar minyak, pelayaran dan ekonomi dunia.
(Sumber: Sindonews).




