Energi Juang News, Jakarta– Isu keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam gejolak politik Nepal kembali mencuat setelah data dan dokumen internal bocor ke publik. Media India, The Sunday Guardian, melaporkan bahwa kerusuhan yang mengguncang parlemen Nepal diduga bukan murni gerakan rakyat, melainkan bagian dari skenario yang dirancang kekuatan asing.
Dalam laporan berjudul Turmoil in Nepal revives suspicions of U.S. involvement, media itu menulis bahwa dokumen AS yang telah dideklasifikasi memperlihatkan pola keterlibatan Washington sejak era Perang Dingin. Nepal disebut kerap dijadikan panggung operasi rahasia, mulai dari propaganda, pengintaian, hingga aktivitas paramiliter CIA di perbatasan Tibet.
Memo rahasia yang disiapkan untuk komite aksi Presiden Nixon pada 1971 memuat detail operasi CIA yang melibatkan tim radio Tibet bersenjata. Operasi ini bahkan mendapat restu Henry Kissinger pada 31 Maret 1971.
Tidak berhenti di situ, The Sunday Guardian juga mempublikasikan dokumen yang mengungkap aliran dana jumbo dari AS ke Nepal. Sejak 2020, lebih dari US$900 juta atau sekitar Rp 14 triliun digelontorkan melalui program USAID dan Millennium Challenge Corporation (MCC). Sebagian besar dana itu masuk ke sektor pemerintahan, media, dan penguatan masyarakat sipil.
USAID sendiri menandatangani perjanjian senilai US$402,7 juta dengan Nepal pada 2022, namun baru US$158 juta yang cair hingga awal 2025. Sementara dana MCC senilai US$500 juta baru terealisasi 8,63% meski proyek diperpanjang.
Laporan itu menegaskan, angka ini bukan sekadar statistik, melainkan tercatat resmi dalam perjanjian bilateral dan proyek demokrasi seperti DRCN dan Proses Demokratis. “Pertanyaannya, seberapa alami gejolak demokrasi Nepal dan seberapa besar dipengaruhi intervensi luar?” tulis media itu.
Fenomena ini menimbulkan perdebatan luas. Apakah dana miliaran dolar itu murni untuk pembangunan, atau menjadi alat pengaruh politik AS di negara Himalaya tersebut?
Energi Juang News



