Energi Juang News, Jakarta – Komando pusat Iran atau Khatam al Anbiya menyatakan bahwa AS telah mendapatkan lampu hijau dari sejumlah negara di kawasan tersebut untuk kembali melancarkan aksi militer terhadap Iran.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, AS telah memutuskan untuk melanjutkan aksi militer terhadap Iran setelah memperoleh persetujuan dari beberapa negara kawasan dalam sebuah pertemuan di Eropa,” kata Jubir Khatam al Anbiya Ebrahim Zolfaghari.
Iran Siaga 100 dan Peringatkan Negara-negara Tetangga
Iran memperingatkan bahwa jika AS melakukan tindakan militer apa pun terhadap Iran, seluruh pangkalan, fasilitas, dan kepentingan AS di kawasan tersebut akan menjadi sasaran serangan yang berkelanjutan.
Ebrahim Zolfaghari Kembali menegaskan. memperingatkan bahwa negara kawasan mana pun yang mendukung serangan AS terhadap Iran akan dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam serangan tersebut dan tidak dapat mengharapkan adanya penahanan diri dari angkatan bersenjata Iran.”
AS Keluarkan Peringatan Keamanan untuk Warganya
Sebelumnya Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga negaranya di sejumlah negara Timur Tengah menyusul meningkatnya ketegangan di Kawasan tersebut. Dalam peringatan 19 September 2026, pemeritah AS meminta warga Amerika meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi, termasuk kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan.
Pemberitahuan tersebut mencakup Israel, Lebanon, Yordania, Irak, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, dan Oman. “Kelompok Houthi yang didukung Iran telah melakukan tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk terhadap bandara sipil. Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat,” demikian isi pemberitahuan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempersingkat masa liburan di Camp David dan juga kembali ke Gedung Putih pada Sabtu malam waktu setempat, 19 September 2026. Situasi di Timur Tengah saat ini Kembali membara setelah Teheran resmi mengaktifkan status Kode 100 sebagai tingkat kesiapsiagaan tempur tertinggi untuk merespons ancaman gempuran musuh.
Eskalasi memuncak usai pesawat pengebom strategis B-1B Lancer milik Amerika Serikat dilaporkan mulai mengudara dari Inggris membawa muatan berat, merespons aksi serang kelompok Houthi ke kilang minyak Saudi




