Senin, Juni 1, 2026
spot_img
BerandaInternasionalKekuasaan PM Thailand Dibekukan, Mengapa?

Kekuasaan PM Thailand Dibekukan, Mengapa?

Energi Juang News, Jakarta-Mahkamah Konstitusi Thailand membekukan kekuasaan Perdana Menteri (PM) Thailand, Paetongtarn Shinawatra. Skors ini dilakukan ketika Mahkamah Konstitusi Thailand sedang menyelidiki tindakan Paetongtarn terkait ketegangan diplomatik dengan Kamboja.

“Mahkamah Konstitusi dengan mayoritas 7-2 menangguhkan tertuduh dari tugas Perdana Menteri mulai 1 Juli hingga Mahkamah Konstitusi membuat keputusan,” demikian pernyataan Mahkamah Konstitusi Thailand, seperti dilansir AFP, Selasa (1/7/2025).

Pernyataan ini dirilis setelah sekelompok Senator Thailand yang beraliran konservatif mengajukan gugatan yang menuduh Paetongtarn melanggar etika perdana menteri selama perselisihan perbatasan dengan Kamboja.

Sengketa teritorial yang sudah berlangsung lama antara kedua negara itu berubah menjadi bentrokan lintas perbatasan pada Mei lalu, yang menewaskan seorang tentara Kamboja.

Situasi semakin memanas setelah percakapan telepon antara Paetongtarn dan mantan PM Kamboja, Hun Sen, yang kini menjabat Presiden Senat di negara tersebut bocor ke publik.

Dalam rekaman percakapan tertanggal 15 Juni yang bocor itu, Paetongtarn terdengar mendesak Hun Sen yang dipanggilnya dengan sebutan “paman”, agar menyelesaikan sengketa wilayah secara damai, serta memintanya untuk tidak mendengarkan “pihak lain” di Thailand, termasuk seorang jenderal militer yang disebutnya sebagai “lawannya”.

Reaksi keras diberikan politisi dan publik Thailand terhadap rekaman percakapan itu, meskipun Paetongtarn telah mengatakan kepada wartawan bahwa ucapannya itu adalah bagian dari taktik negosiasi, dan tidak ada masalah dengan militer.

Para legislator konservatif di Thailand menuduh Paetongtarn, anak dari mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra yang berpengaruh, tunduk pada Kamboja dan melemahkan militer negaranya.

Paetongtarn juga dituduh melanggar ketentuan konstitusional yang mewajibkan “integritas yang jelas” dan “standar etika” di antara para menteri, terutama Perdana Menteri, di negara tersebut.

Baca juga :  Diserang Israel, Satu Juta Orang Mengungsi Dari Lebanon

Buntut dari bocornya rekaman percakapan telepon itu, Partai Bhumjaithai yang merupakan mitra terbesar kedua dalam koalisi pemerintahan Thailand saat ini telah meninggalkan koalisi Paetongtarn.

Pada Sabtu (28/6), sekitar 4.000 demonstran turun ke jalanan Bangkok untuk menuntut pengunduran diri Paetongtarn. Para demonstran sebagian besar berusia lanjut dan dipimpin oleh aktivis veteran gerakan “Yellow Shirt” yang membantu menggulingkan ayah Paetongtarn, Thaksin, pada tahun 2000-an.

Paetongtarn pun angkat bicara. Paetongtarn mengatakan dirinya menerima keputusan Mahkamah Konstitusi yang menskors dirinya.

“Putusan telah keluar dan saya menerima keputusan mahkamah,” ucap Paetongtarn saat berbicara kepada wartawan di Gedung Pemerintah Bangkok, seperti dilansir AFP, Selasa (1/7/2025).

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa saya selalu berniat untuk melakukan yang terbaik bagi negara saya,” ujarnya.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments