Energi Juang News, Jakarta – Teka-teki identitas jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu 12 September lalu akhirnya terkuak. Hasil tes DNA oleh tim dokter RS Bhayangkara Bengkulu menunjukkan, merupakan salah satu korban dari delapan orang yang berada di kapal Arupadatu 1. Kapal yang mengangkut lima jurnalis tersebut hilang kontak setelah berangkat dari Pelabuhan Carita, Pandeglang.
Hasil tes DNA jenazah tersebut menunjukkan kecocokan dengan Surakman atau Sukarman (60), salah satu awak kapal dan warga Carita, Pandeglang. Jenazah hingga saat masih berada di Bengkulu dan rencananya akan diambil oleh Polairud Banten. Sukarman atau Surakman (60) adalah awak kapal Arupadatu 1 yang membawa lima wartawan untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Senin, 7 September 2026 lalu.
Sebelumnya Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea di Pandeglang, Senin (14/9/2026) mengungkapkan jenazah memiliki ciri-ciri tinggi badan sekitar 165 sentimeter dan diperkirakan berusia di atas 50 tahun. Jenazah tanpa identitas tersebut ditemukan di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Penemuan tersebut dilaporkan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Bengkulu pada Sabtu (12/9/2026) sore.
Pulau Enggano di Bengkulu terletak di sebelah barat laut dari Gunung Anak Krakatau dengan jarak sekitar 360 kilometer. Berdasarkan analisis BMKG, abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau sempat mencapai wilayah Pulau Enggano karena terbawa angin lapisan atas.
Data jurnalis dan kru yang belum ditemukan:
- Bagus Khoirunnas (Jurnalis Antara)
- Arie Basuki (Jurnalis Merdeka).
- Yudhistiro Pranoto (Jurnalis iNews).
- Firdaus Wajidi (Jurnalis Anadolu Agency).
- Donal Husni (Jurnalis Freelance).
- Warta (kapten kapal).
- Surakman (ABK).
- Heriyanto (Pemandu).









